Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 106. Melahirkan.


__ADS_3

Happy Reading🥰


6 bulan kemudian ...


Kini usia kandungan Liora sudah memasuki bulan ke-9. Jadi, sebentar lagi ia akan segera melahirkan. Hanya tinggal menghitung hari bayi mereka akan segara melihat dunia. Kenan sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Bahkan Kenan sudah mengambil cuti dari perusahaannya hanya demi menjaga sang istri.


"Sayang! Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Kenan sambil mengusap perut Liora dari arah belakang. Posisi mereka sedang duduk di kursi ruang tengah, Liora bersandar di dada bidang milik Kenan.


"Seperti biasa, hanya merasakan tendangan baby yang begitu keras, namun terasa geli."


"Apa kamu tidak merasakan mulas?"


"Tidak! Memangnya kenapa?"


"Aku sangat menantikan kelahiran anak kita. Dokter bilang, kalau sudah mau lahiran maka perut kamu akan terasa mulas." Kenan berkata dengan polosnya.


"Tapi hari perkiraan lahir menurut Dokter, masih tinggal 2 minggu lagi, Ken. Itupun bisa maju dan juga bisa mundur dari waktu yang diperkirakan. Jadi, kamu tenang saja, kalau sudah sampai pada waktunya maka aku akan segera melahirkan."


"Iya juga, Sayang. Yang penting kamu dan anak kita sama-sama sehat dan selamat sampai melahirkan nanti."


"Iya, Ken. Sebenarnya ... Aku sedikit takut untuk melahirkan," ucap Liora dengan lirih. Bahkan suaranya hampir tidak terdengar oleh Kenan.


"Takut kenapa, Sayang? Ada aku yang akan menemani kamu. Aku janji tidak akan pernah ninggalin kamu saat proses persalinan nanti." Kenan mengecup puncak kepala Liora.


Sebenarnya Kenan juga takut. Ia takut Liora dan bayinya kenapa-napa. Kenan takut Liora pergi meninggalkan dirinya dan juga bayinya setelah melahirkan nanti. Namun, Kenan harus berusaha baik-baik saja, agar Liora tidak merasa cemas dan semakin ketakutan.


"Janji, ya! Kamu harus menemani aku, dan tidak boleh pergi sebelum aku selesai melahirkan!" Liora menunjukkan jari kelingkingnya sebagai bentuk perjanjian di antara dirinya dan Kenan.


"Janji!" Kenan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Liora. Mereka saling berpelukan untuk mencurahkan kasih sayang masing-masing.

__ADS_1


Saat masih asik berpelukan, tiba-tiba ponsel Liora berdering, yang menandakan ada panggilan masuk. Kenan membantu mengambilkan ponsel Liora yang terletak di atas meja, lalu memerikannya kepada Liora. Liora mengerutkan keningnya saat melihat sang penelpon.


"Hallo! Ada apa Kak Jesi?" tanya Liora kepada seseorang di seberang telpon yang ternyata kakaknya sendiri.


"Hallo, Li. Ini aku, Edo. Sekarang Jesicca ada di rumah sakit. Sekarang dia mau melahirkan, kamu datang ya ke rumah sakit xxx"


"Apa! Mau melahirkan! Tapi, usia kehamilan kak Jesi 'kan masih delapan bulan? Kenapa--"


"Sudah, nanti kakak ceritakan di sini. Lebih baik kamu sama Kenan segera menyusul kami."


"Baik, Kak." Liora langsung mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Edo. Ia memberitahukan apa yang di katakan oleh Edo kepada Kenan. Sama! Kenan juga terkejut dengan kabar itu.


Bagaimana mungkin Jesicca akan melahirkan, sedangkan usia kehamilannya lebih mudah dari usia kehamilan Liora. Namun Kenan tidak ingin banyak berpikir, lebih baik ia segera membawa Liora ke rumah sakit untuk menemui Jesicca.


Kenan menggendong tubuh Liora, dan membawanya ke dalam mobil. Jika menunggu Liora berjalan kaki, bisa-bisa mereka kelamaan sampainya ke rumah sakit. Cara jalan ibu hamil 'kan sangat lamban. Liora kalau berjalan pasti satu tangannya menyangga pinggang bagian belakang. Sebab perutnya sudah sangat buncit.


...----------------...


"Semoga Kak Jesi baik-baik saja, dan bayinya juga selamat." Liora terus merapalkan doa untuk keselamatan sang kakak dan calon keponakannya. Seharusnya anak Liora yang lahir pertama, namun lebih dulu Jesicca yang melahirkan.


"Kita doakan saja, semoga mereka baik-baik saja." Kenan merangkul bahu Liora lalu mengusapnya.


Sedangkan di dalam ruang persalinan. Edo terus menyemangati Jesicca untuk melakukan dorongan agar bayinya cepat keluar. "Ayo, Sayang. Semangat. Kamu adalah wanita hebat dan kuat. Jadi aku yakin kamu bisa melahirkan anak kita dengan selamat." Edo menggenggam tanga Jesicca yang sejak tadi me-re-mas tangannya.


Hu ... Hu ... Hu ... Hu ...


Jesicca terus mengatur nafasnya, dan terus mengenjan. Ia berusaha keras menahan rasa sakit di perutnya, demi mengeluarkan sang buah hati.


"Ayo, Bu. Sedikit lagi. Kepala bayinya sudah kelihatan." Ucap Dokter yang membantu persalinan Jesicca.

__ADS_1


Eeeng! Eeeng!


Jesicca mengenjan dengan sekuat tenaga. Hingga dorongan ketiga, bayi mereka lahir dengan selamat dan sehat.


Oek! Oek! Oek!


"Selamat, Bu, Pak. Bayinya laki-laki. Dia sehat, dan lengkap tanpa kekurangan apapun. Dokter memberikan bayi itu kepada perawat untuk di bersihkan.


Jesicca dan Edo sama-sama tersenyum saat mendengar suara tangisan bayi. Mereka menangis bahagia. Bahkan rasa sakit yang sebelumnya Jesicca rasakan tiba-tiba hilang saat mendengar suara tangisan bayinya.


"Terimakasih, Sayang. Makasih. Aku mencintaimu! Cup! Cup! Cup!" Edo mengecup Kening dan seluruh wajah Jesicca dengan penuh haru.


Jesicca yang tidak mempunyai tenaga untuk menjawab ucapan Edo, ia hanya bisa mengangguk lemah. Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Jesicca merasa sangat bahagia. Akhirnya ia bisa menjadi wanita dan istri yang sempurna untuk Edo.


Jesicca dan Edo memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya ketika mereka melakukan USG. Biarlah menjadi kejutan saat lahir nanti. Begitupun dengan Kenan dan Liora yang juga tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Mereka lebih suka dengan kejutan daripada langsung mengetahui jenis kelaminnya.


Orang-orang yang menunggu di luar ruangan, merasa sangat bahagia ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam. Itu artinya bayi Jesicca sudah keluar. Liora reflek langsung memeluk tubuh Kenan, untuk mengungkapkan kebahagiaannya.


Mereka semua menunggu sampai Jesicca di pindahkan ke ruang rawat. Kedua orang tua Edo sudah memesan kamar VIP untuk ditempati oleh menantu mereka. Rasa sayang Dewi dan Rudy semakin bertambah besar kepada Jesicca, karena sudah memberikan seorang cucu kepada mereka.


"Akhirnya, kita punya cucu juga, Pa." Dewi memeluk Rudy dengan sangat girang.


"Iya, Ma. Papa sangat bahagia. Ternyata kita sudah tua. Rasanya baru kemarin kita menimang Edo di tangan kita, namun sekarang Edo sudah memberikan cucu untuk kita."


"Ah, Papa ada-ada saja. Tapi memang benar, rasanya mama baru kemarin mengasuh Edo.


Dewi dan Rudy terkekeh kecil, saat menyadari tingkah konyol mereka.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘😘


__ADS_2