Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 59. Saling Mencintai


__ADS_3

Happy Reading🥰


2 hari terlah berlalu.


Jesicca sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter, karena kondisinya sudah membaik. Jesicca sangat sedih mengetahui janinnya tidak tertolong. Namun ia harus mengikhlaskannya, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Dewi, bahwa rencana Tuhan lebih indah. Jesicca hanya berdoa agar Tuhan memberikan seorang bayi lagi, tapi dengan cara yang lebih baik. Ia berharap bisa mendapatkan keturunan dari Edo, laki-laki yang ia cintai.


Selama dua hari itu, Jesicca tampak murung, dan juga sering melamun, karena memikirkan calon anaknya yang telah tiada. Namun, sang adik, Edo, Dewi, dan juga Rudy, selalu memberikan suport untuk dirinya. Hingga perlahan Jesicca bisa berdamai dengan keadaan.


Pernikahan Jesicca dan Edo sudah di depan mata. Rencananya Edo ingin mengundurkan hari pernikahannya karena kondisi Jesicca yang masih belum sembuh total. Tapi, Jesicca melarangnya, ia ingin acara itu tetap dilaksanakan pada tanggal yang sudah di tentukan.


"Sayang, makan dulu ya, aku suapi." Edo membawa makanan ke dalam kamar Jesicca.


Jesicca duduk dan bersandar di headbord, Ia membuka mulutnya saat Edo menyuapi dirinya dengan sendok yang telah berisi dengan makanan. Suapan demi suapan telah Jesicca makan, hingga akhirnya ia menghabiskan semua nasi yang Edo suapi.


"Kamu juga harus makan, Ed." Jesicca tak lupa juga menyuruh Edo untuk makan.


"Iya sayang. Andaikan kamu sudah sembuh, aku 'kan pengen di suapi sama kamu."


"Aku sudah sembuh kok. Sana ambil nasinya, bawa ke sini biar aku yang suapi."


"Beneran sayang?"


"Iya bawel."


Dengan cepat, Edo langsung keluar kamar, dan menuju ke dapur untuk mengambil nasi. Ia sangat senang karena Jesicca mau menyuapi dirinya. Seulas senyum terus tergambar di bibir Edo, wajahnya juga terlihat ceria.


"Kak Edo mau makan?" tanya Liora yang tiba-tiba ada di dapur juga.


"Em, iya," jawab Edo singkat. Ia masih terus tersenyum girang.


"Aneh banget, mau makan saja sampai senyum-senyum kayak gitu, pasti ada sesuatu nih." gumam Liora dengan suara lirih. Sampai-sampai Edo tidak bisa mendengar ucapannya.

__ADS_1


Jesicca memang sudah sehat, hanya saja dia tidak boleh bekerja yang berat-berat. Selama masa pemulihan pasca keguguran.


Edo makan dengan lahap, ia terus memandangi wajah Jesicca yang tengah menyuapi dirinya. "Jangan lihatin aku terus, Ed. Nanti nasinya cemburu."


"Biarkan saja cemburu, lagi pula kamu 'kan milikku."


"Tapi, aku malu."


"Malu kenapa sayang? Sebentar lagi kita akan menikah loh, jadi gak usah malu-malu. Apalagi saat kita akan me-"


Jesicca langsung menyumpal mulut Edo dengan nasi, karena ia tahu Edo akan berkata apa. Ia benar-benar tak habis pikir dengan calon suaminya itu, sejak mereka resmi berpacaran, pikiran Edo selalu tertuju kepada hal yang sangat absurd. Tentu saja Jesicca merasa malu, karena selama ia mengenal Edo, Edo tidak pernah berbicara vulgar.


"Soyong ako 'kan belom selesei bicoro," ucap Edo dengan mulut yang penuh dengan nasi. Bicaranya saja tidak jelas. Sungguh Jesicca ingin tertawa melihat tingkah Edo yang seperti anak kecil.


"Puft ..., Apa! Aku gak ngerti kamu ngomong apa." ledek Jesicca yang menahan tawa.


Edo hanya mendengus kesal saat Jesicca mengerjai dirinya bahkan juga meledeknya. Tapi Edo juga merasa senang karena Jesicca sudah kembali tersenyum setelah kehilangan calon anaknya.


"Ed, jangan kencang-kencang, aku tidak bisa bernafas."


"Maaf, sayang. Aku terlalu bersemangat sampai tidak menyadari kalau aku terlalu erat mendekap mu."


"Ed, apa kamu juga merasa sedih, atas keguguran ku?"


"Tentu saja, sayang. Aku sudah menganggap bayi yang ada di dalam kandungan mu seperti anakku sendiri."


"Benarkah?" tanya Jesicca dengan suara bergetar. Tak terasa air mata kembali mengalir di pipinya.


Edo membalik tubuh Jesicca agar menghadap ke arah dirinya. Ia mengusap air mata di kedua pipi sang pujaan hati. "Apa kamu kira aku akan senang, karena kamu tidak jadi mengandung anak dari Khendrik? Kamu salah sayang, aku bahkan jauh lebih menyayangi bayi itu dari apa yang kamu bayangkan." Edo berkata dengan nada sendu.


Jesicca menenggelamkan wajahnya di dada bidang, Edo. Tangis Jesicca seketika pecah, ia sangat merasa bersyukur mendapatkan calon suami seperti Edo. "Terimakasih Edo."

__ADS_1


"Makasih untuk apa?" tanya Edo sembari mengusap kepala Liora.


"Untuk segalanya. Untuk kebaikan kamu, kesabaran kamu, perhatian kamu, rasa perduli kamu, dan juga kelapangan hati kamu dalam menerima segala kekurangan ku."


"Shuuut! Jangan pernah berkata seperti itu lagi, sayang. Aku benar-benar tulus mencintaimu, aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah mau menerima cintaku."


Edo mengecup lembut kening Jesicca. Setelah ciumannya terlepas, Edo menatap manik mata coklat milik Jesicca. Keduanya saling tatap, seolah mengungkapkan betapa besar rasa cinta yang mereka rasakan.


"Jes, Aku sangat mencintaimu!" Edo berkata dengan tatapan penuh cinta.


"Aku lebih mencintaimu, Ed," ucap Jesicca dengan mata berkaca-kaca karena merasa terharu dengan pengungkapan cinta dari Edo.


Edo memeluk erat tubuh Jesicca, ia melabuhkan kecupan yang bertubi-tubi di puncak kepala sang pujaan hati.


Liora yang sedari tadi menyaksikan adegan romantis sang kakak, melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ia juga merasa senang. Liora sangat bersyukur kakaknya bisa mendapatkan seorang laki-laki yang tulus mencintanya.


"Semoga kak Edo bisa membahagiakan kak Jesi. Apakah aku juga bisa seperti kak Jesi? Bisa mendapatkan seorang laki-laki yang tulus mencintaiku, dengan keadaan ku yang sudah tak utuh lagi!" gumam Liora dalam hati. Ia merasa sedih jika mengingat keadaan dirinya yang sudah tak sempurna.


Meskipun di jaman sekarang wanita yang tidak Virgin sudah dijadikan hal biasa, namun tidak semua laki-laki bisa menerima hal itu 'kan? Bahkan seorang Cazzanova saja, memilih wanita yang masih original untuk dijadikan bahan mainan. Bagaimana dengan dirinya nanti? Liora rasa tidak akan ada laki-laki yang mau menerimanya.


Liora pergi dari rumah, dan menuju ke pantai yang dekat dengan cafe Rindu. Ia ingin menyegarkan pikirannya yang tengah kacau. Tak banyak pengunjung yang datang ke sana, karena hari sudah mulai sore. Liora menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Rasanya sangat lega, Sesak di dadanya, dan beban di hidupnya terasa berkurang.


Liora memejamkan mata, menikmati angin sepoi-sepoi di pantai itu. Seluas senyum terbit di bibir Liora. Cukup lama Liora dengan posisi itu, hingga tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya.


"Kamu!" Liora terkejut melihat kehadiran sosok pria yang duduk di sampingnya, dengan jarak yang begitu dekat.


...----------------...


Lophe-lophe se kebon cabe untuk kalian para readers yang masih setia membaca novel ku😘.


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2