Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 76. Kapan Kita Menikah?


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Liora mencengkram selimut dengan erat, saat Kenan memperdalam ciumannya. Ciuman itu tidak berlangsung lama, Kenan lebih dulu melepaskan tautan bibir mereka. Kenan mengusap bekas saliva yang masih menempelkan di bibir Liora menggunakan ibu jarinya.


"Maaf, aku telah lancang." Kenan merasa bersalah atas tindakannya.


"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga menikmatinya."


"Sayang, entah ini hanya firasatku saja atau aku yang terlalu berharap. Aku rasa kamu sudah tidak membenciku lagi, dan bisa menerima aku di dalam hidupmu?"


"Jika aku masih membencimu, bagaimana mungkin aku terbuai dengan ciumanmu, Kenan."


"Terimakasih Sayang. Jadi kita kapan menikah?"


Mendengar pertanyaan dari Kenan yang terkesan buru-buru, Liora hanya bisa melongo. Baru saja dirinya menerima Kenan, malah langsung bertanya kapan nikah? Sungguh Liora tak habis pikir terhadap Kenan yang selalu bersikap absurd.


"Sayang. Gimana? Kapan kita nikah?" Kenan kembali bertanya saat melihat Liora yang hanya diam saja.


"A-aku masih belum siap, Ken. Aku masih takut."


"Apa yang kamu takutkan, hum?"


"Papa kamu ...."


"Dia tidak akan berani macam-macam selama ada aku."


"Tapi ...."


"Shuuut! Tidak ada tapi-tapian. Percayakan semuanya kepadaku."


"Jangan terlalu buru-buru, Ken. Aku gak mau orang-orang berfikiran buruk tentang kita jika kita menikah secara mendadak. Apalagi aku sedang hamil."


"Justru karena kamu hamil, Sayang. Jika kita terus menundanya, perut kamu akan semakin membesar. Itu yang membuat orang-orang berfikiran buruk. Kalau kita menikahnya cepat, semakin bagus buat kesehatan aku."

__ADS_1


"Kesehatan kamu?"


"Iya, aku sering pusing akhir-akhir ini. Penawarnya ada pada dirimu."


"Kamu sakit apa? Kenapa hanya aku yang punya penawarnya? Lebih baik kita periksakan ke dokter, bagaimana kalau penyakit kamu serius?"


"Sangat serius! Makanya aku keburu pengen nikah."


"Maksudnya gimana sih, Ken? Kamu jujur sama aku, kamu itu sakit apa?"


"Aku sakit karena memikirkan si otong."


"Otong siapa?"


"Terong kesayangan aku. Dia sudah lama tidak main tanam-tanaman di lembah surgawi."


Liora membulatkan mata, pipinya bersemu merah. Perkataan Kenan membuatnya malu. Liora bukan anak kecil yang tidak mengerti dengan maksud Kenan, meskipun Kenan tidak mengatakannya secara langsung.


Kenan tersenyum melihat wajah Liora yang malu-malu meong. Ia merasa gemas, ingin rasanya memakan Liora saat itu juga.


"Kenan! Em ... Papa kamu ... Gimana?" tanya Liora dengan lirih. Ia masih takut jika Khendrik kembali datang ke rumahnya.


"Kamu tenang saja, dia sudah ada ditempat yang sudah seharusnya dia tempati."


"Maksudnya?"


"Nanti aku jelaskan kalau sudah pulang ke rumah. Lebih baik kamu istirahat."


Kenan membaringkan tubuh Liora di atas ranjang. Besok pagi Liora diperbolehkan pulang oleh dokter. Malam ini Kenan akan menemani Liora di sana, ia juga meminta Jesicca dan Edo untuk pulang saja. Karena sudah ada dirinya yang menjaga Liora.


Kenan tahu pasti pengantin baru itu sangat membutuhkan waktu untuk berdua. Kenan tidak akan menggangu waktu mereka. Biarkan saja kedua kakak iparnya membuat calon keponakan untuk dirinya, agar calon anaknya mempunyai teman nanti.


Kenan terkekeh dengan pikirannya sendiri. Sepertinya akan mengasikkan jika dirinya mempunyai anak di usianya yang masih muda. Mamanya pasti bahagia sekali saat cucunya lahir ke dunia. Kenan selalu berdoa agar Liora dan calon anaknya selalu sehat.

__ADS_1


...----------------...


Maura meratapi nasib pernikahannya yang sangat miris. Hatinya sangat hancur mengetahui kebohongan dan pengkhianatan yang Khendrik lakukan kepadanya. Dadanya terasa sesak memikirkan semua itu.


Ingin rasanya Maura berpura-pura tidak tahu dengan kejahatan Khendrik, namun itu semua mustahil. Maura berharap semua itu hanya mimpi, meskipun sangat terasa nyata. Ia tidak bisa membayangkan keadaan Khendrik yang berada di dalam jeruji besi.


Kehidupannya yang serba mewah, mana tahan dia berada di dalam sel. Pasti Khendrik akan sangat tersiksa dengan fasilitas di sana. Maura tak ingin melihat wajah Khendrik lagi, yang ada dia akan merasa iba terhadap suaminya. Ia takut hatinya berbelas kasih, yang terus dibutakan oleh cinta. Hingga akhirnya Maura akan melakukan apa saja demi membebaskan Khendrik.


Maura tak bisa tidur, terus membayangkan sang suami. "Kenapa hatiku sangat lemah? Aku selalu merasa tidak tega saat melihat wajah memelas suamiku. Aku ingin seperti wanita lain, yang akan marah jika suami mereka melakukan kesalahan. Bahkan ada yang dengan tega membunuh suaminya dengan cara yang sadis." gumam Maura sedih.


Apalah daya, hati Maura memang tercipta sangat lembut. Hatinya sangat mulia, wanita sepertinya sangat langkah. Khendrik saja yang tidak bersyukur mempunyai istri sesempurna Maura. Begitulah laki-laki, dia akan berkata setia disaat suasana hatinya baik. Ketika ada yang bening lewat, hatinya langsung berpaling.


Laki-laki memang pandai menyembunyikan kebohongannya. Bahkan dia akan terus berbohong demi menutupi kebohongan yang lain. Sedangkan wanita akan merasa luluh jika diperlakukan sangat manis layaknya seorang ratu.


Maura merasa tertipu dengan sikap Khendrik. Pikirannya jadi berkelana jauh. Mungkinkah Khendrik sudah mengkhianatinya sejak dulu? Apa Khendrik mempunyai banyak wanita diluaran sana? Tapi baru terbongkar sekarang? Kejahatan apa lagi yang Khendrik perbuat?


Ingin rasanya Maura menginterogasi Khendrik tentang semua yang mengganjal di hatinya. Lagi-lagi ia hanya bisa berkata dalam hati, dan tak bisa mengabulkan keinginannya.


Maura harus menyiapkan mental, agar bisa bertemu dengan Khendrik. Ia harus bisa bersikap baik-baik saja di depan suami luckn*tnya itu.


Maura harus menghubungi Kenan, dan menanyakan keadaan calon menantu dan juga calon cucunya. Ada atau tanpa Khendrik, Maura tetap ingin pernikahan Kenan segera dilaksanakan. Ia tidak mau calon cucunya mendapatkan julukan anak haram.


Meskipun Maura adalah orang terpandang, yang biasanya tidak akan memperdulikan keadaan keluarganya yang tengah hamil diluar nikah, atau menghamili seorang wanita. Tetap saja Maura tidak rela jika Kenan menikah setelah anak itu lahir.


Maura akan melupakan tentang Liora yang pernah menjadi selingkuhan Khendrik. Liora juga terpaksa melakukan semua itu, hanya untuk balas dendam kepada Khendrik. Liora cuma korban dari kebejatan Kenan dan juga suaminya. Sebagai seorang wanita, Maura sangat mengerti dengan posisi Liora. Jika dirinya berada di posisi itu, tentu dia akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih dari itu.


Maura akan membicarakan soal pernikahan Kenan dan Liora, setelah Liora pulang ke rumahnya. Untuk saat ini, Maura hanya ingin sendiri. Ia belum siap untuk keluar rumah. Perasaannya masih was-was, takut semua orang sudah tahu mengenai kasus Khendrik.


Maura tidak akan sanggup jika harus menanggung malu atas kejahatan yang Khendrik perbuat. Semua orang pasti akan mencemooh nya.


...----------------...


Besambung.

__ADS_1


__ADS_2