
Happy Reading 🥰
Hari telah berganti hari. Tak terasa sekarang adalah hari pernikahan Jesicca dan Edo. Tak banyak tamu yang hadir. Karena hanya kerabat terdekat saja yang mereka undang. Sedangkan dari pihak Jesicca sudah tidak ada kerabat lagi.
Edo sangat gugup saat menunggu sang mempelai wanita. Tiada hentinya ia meminum air, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Namun tetap saja Edo merasa gugup. Tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk melakukan ijab kabul dengan wanita pujaan hatinya.
Acara pernikahan mereka di langsung di rumah lama milik Jesicca dan Liora. Edo merubah posisi, ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah tempat yang akan dilangsungkan untuk acara ijab kabul.
Rudy dan Dewi tertawa melihat kelakuan anak mereka yang sangat gugup itu. Rudy mendekati Edo, ia menepuk pelan bahu sang putra seraya memberikan semangat.
"Tenangkan diri kamu, Do. Jangan malu-maluin kaum adam. Mau nikah saja pakai acara gugup segala. Awas saja nanti pas ijab kabul melakukan kesalahan. Ayo kamu harus semangat, harus berani. jangan cuma di atas ranjang beraninya." Rudy memang memberikan semangat, tapi dia juga meledek sang putra karena terlalu kentara kalau dia sangat gugup.
"Aku tidak gugup kok, Pa. Aku hanya menunggu Jesicca turun dari atas. Lebih baik papa temani mama di sana."
"Baiklah, tapi ingat pesan papa. Pas acara ijab kabul di mulai, kamu jangan gugup dan salah menyebut nama mempelai wanita. Karena papa yakin, Jesicca tidak mau menikah sama kamu. Haha ... Haha ...."
Edo berdecak kesal terhadap papanya. Bisa-bisanya dia meledek Edo seperti itu. Dia pikir Edo selemah itu. Edo bahkan sangat menghafal nama lengkap Jesicca serta nama ayahnya. Edo tidak akan membiarkan hal memalukan itu terjadi.
Sedangkan Rudy langsung menghentikan tawanya saat melihat tatapan mematikan dari sang istri. "Bisa ya, meledek anak sendiri seperti itu, dan menasehatinya agar tidak salah menyebut nama pengantin wanita saat ijab kabul. Apa kabar Papa waktu nikahin mama?"
"Hehe, maaf sayang. Itu 'kan cuma masa lalu. Jadi, jangan di ungkit lagi."
"Masa lalu yang sangat menakjubkan."
"Sayang! Jangan di ingat, oke."
__ADS_1
"Sudah lah Pa. Lebih baik Papa diam!"
Dewi rasanya ingin tertawa saat mengingat kejadian memalukan yang dilakukan oleh Rudy. Ingatannya jadi berputar pada kejadian 27 tahun yang lalu. Disaat dirinya menikah dengan Rudy. Saat itu Rudy masih tampak malu-malu dan gugup waktu acara ijab kabul di laksanakan. Hingga saat mengucapkan namanya, Rudy salah menyebut nama.
Tentu saja Dewi sangat terkejut, karena Rudy salah menyebutkan namanya. Saking gugupnya, Rudy bukan menyebut nama Dewi, melainkan menyebut dirinya sendiri sebagai mempelai wanitanya.
Sungguh semua orang yang hadir di acara itu, seketika tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan Dewi, bukannya merasa kesal, dia malah ikutan tertawa. Apalagi saat melihat wajah Rudy yang tiba-tiba memerah.
Rudy semakin gugup dan malu saat itu. Ingin rasanya dia pergi dari acara, namun dia tidak ingin pernikahannya gagal bersama wanita yang dia cintai.
Karena itu, Rudy menasehati Edo agar jangan terlalu gugup, dan jangan sampai salah menyebutkan nama saat ijab kabul dilaksanakan. Rudy takut Edo merasakan hal yang sama.
"Li, kakak sangat gugup." Jessica juga merasakan hal yang sama dengan Edo. Sejak tadi ia sudah seperti setrikaan yang terus mondar-mandir di dalam kamar. Liora dan MUA yang merias Jesicca hanya tersenyum melihat tingkah pengantin baru yang satu ini.
"Kalau hanya ngomong itu memang gampang, kamu gak ngerasain sih berada di posisi kakak. Suatu saat kamu juga akan merasakan hal yang sama."
"Ish, sudahlah. Lebih baik kita turun sekarang. Karena aku yakin kak Edo sama para tamu yang hadir sudah menunggu mempelai wanitanya."
"Huf! Baiklah kita turun."
Setelah menarik nafas dalam-dalam. Jesicca keluar dari dalam kamar, lalu menuruni anak tangga, dan menuju ke arah ruang tengah.
Semua atensi berpusat ke arah Jesicca yang tengah menuruni anak tangga. Semua mata terpanah melihat kecantikan Jesicca yang sangat memukau. Edo bahkan tak berkedip menatap sang pujaan hati. Jantungnya berdegup kencang saat Jesicca menghampirinya.
Jesicca menunduk malu, karena di tatap oleh semua orang yang ada di sana. Apalagi ketika Edo menatap dirinya dengan tatapan memuja.
__ADS_1
Edo dan Jesicca duduk berdampingan, dan berhadapan dengan Pak Penghulu. Edo masih saja merasa gugup saat tangannya berjabatan dengan Penghulu yang siap memulai acara ijab kabul.
Setelah semuanya siap, Penghulu memulai acara ijab kabul. Tidak ada kesalahan dalam pengucapan ijab kabul, Edo mengucapkannya secara jelas, dengan sekali ucapan. Hingga kata SAH memenuhi ruangan itu. Penghulu membacakan doa pengantin baru yang telah SAH menjadi pasangan suami-istri.
Edo merasa sangat bahagia, akhirnya ia bisa menikahi wanita yang menjadi cinta pertamanya dan akan menjadi cinta terakhir dalam hidupnya.
Begitu juga dengan Jesicca, ia juga merasa sangat bahagia. Setelah kejadian buruk menimpanya, Jesicca berpikir bahwa tidak akan ada laki-laki yang mau menerima dirinya dengan apa adanya. Namun, Tuhan mengirimkan seorang laki-laki yang sangat baik dan sangat tulus mencintai dirinya. Sampai menuju ke pelaminan.
Edo dan Jesicca saling menukar cincin pernikahan. Cincin saat bertunangan dulu, mereka simpan dengan rapi, dan di gantikan dengan cincin yang lebih bermakna artinya. Cincin yang menjadi pengikat untuk hubungan keduanya.
Edo dan Jesicca memang tidak mengadakan acara resepsi. Asalkan pernikahan mereka sah bagi hukum dan negara, sudah sangat cukup. Yang terpenting sudah ada banyak saksi yang menyaksikan pernikahan mereka.
Liora menitikkan air mata bahagianya. Ia sangat bahagia melihat sang kakak akhirnya telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat mencintainya. Semoga setelah ini tidak ada musibah lagi yang menimpa dirinya dan sang kakak. Liora hanya ingin bahagia, itu saja.
Para tamu yang hadir telah pergi meninggalkan acara itu. Hanya tinggal Liora, dan juga kedua orang tua Edo yang masih berada di sana.
Dewi dan Rudy dengan penuh perhatian memberikan wejangan untuk Edo dan Jesicca. Agar pernikahan mereka tetap awet dan langgeng sampai akhir hayat. Karena tidak ada siapa pun orang yang ingin menikah berkali-kali. Mereka semua hanya menginginkan satu kali pernikahan dalam seumur hidupnya, bersama dengan orang yang dicintai.
Setelah selesai memberi wejangan, dan sedikit drama tangis kebahagiaan. Dewi dan Rudy pamit pulang ke rumah. Begitu juga dengan Liora. Dia juga pamit pulang ke rumah yang baru. Tinggal lah dua pengantin baru di rumah itu.
Edo tersenyum nakal, saat semua orang telah pergi. Ia menatap Jesicca dengan tatapan penuh makna. Jesicca yang melihat tatapan aneh dari Edo, merasa merinding. Pikirannya sudah dapat menebak apa maksud dari senyuman Edo.
...----------------...
Lopyu pull untuk kalian para readers yang masih setia membacanya novel ku 😘😘😘
__ADS_1