Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 41. Mempertahankan.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Jesicca tersentak kaget, saat melihat luka memar di sudut bibir sang adik. Karena keasikan mengobrol, dan tidak memperhatikan wajah adiknya, Jesicca sampai tidak menyadari itu.


"Li, bibir kamu kenapa? Siapa yang memukulmu? Mata kamu juga terlihat bengkak! Apa kamu bertengkar dengan karyawan di kantor?" tanya Jesicca beruntun.


Liora sangat gugup, dia bingung mau menjawab apa. Saking buru-burunya ia sampai lupa dengan bekas memar itu, dan tidak menutupinya dengan foundation.


"Eung ..., ini tidak apa-apa kok, Kak. Tadi aku kebentur sudut meja di kantor." jawab Liora dengan gugup, dan ngasal. Meskipun jawaban yang dia berikan terdengar tidak masuk di akal. Namun bibirnya terlanjur mengatakan itu.


Jesicca mengernyitkan dahi, ia yakin jika sang adik pasti bohong. Karena Liora sangat kentara kalau sedang berbohong. "Sayangnya kakak tidak percaya. Kamu tidak pandai berbohong Liora!" Jesicca berkata dengan penuh curiga.


"Sudahlah Kak. Cuma memar dikit aja, aku gak apa-apa kok." Liora tetap ngotot dengan kebohongannya.


"Ck! Baiklah kalau kamu tidak mau jujur sekarang. Tapi nanti kau harus menjelaskan semuanya sama kakak!" Jesicca memilih untuk mengalah, namun bukan berarti dia akan menyerah. Suatu saat ia harus mendapatkan kejujuran dari Liora.


Setelah itu, mereka melakukan aktivitasnya untuk melayani para tamu di cafe itu. Meskipun sudah ada pegawai, namun Jesicca dan Edo tetap turun tangan dalam mengelola cafe itu, dan ikut melayani para tamu di sana.


Hari ini, pengunjung di cafe itu lumayan ramai. Liora sampai kewalah. Dalam kondisinya yang masih tidak baik-baik saja karena perbuatan Kenan. Sejenak, Liora bisa melupakan kejadian itu dengan menyibukkan diri di cafe sang kakak. Seperti yang dilakukan Jesicca, yang menyibukkan diri di cafe agar bisa melupakan kejadian naas bersama Khendrik.


"Aku tak menyangka, bahwa balas dendam yang aku lakukan, dan aku harapkan akan berjalan mulus. Pada akhirnya membawa petaka untukku. Bagaimana nasibku kedepannya? Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya berharap, semoga benih Kenan tidak tumbuh di rahimku!" batin Liora.


Liora tanpa sadar mengusap perut ratanya. Bukan hanya luka fisik yang ia rasakan, tapi ..., luka batin juga. Kenan berhasil membuat dirinya seperti wanita j*l@ng. Liora terus mengingat bagaimana kasarnya perlakuan Kenan kepadanya.


"Aku memang mencintaimu Kenan. Tapi ..., rasa sakit yang kau torehkan di fisik dan batinku terlalu membekas dengan sempurna. Hingga rasa cinta ini pupus, dan tertutup oleh rasa benci yang kian mendalam. Aku sangat mendambakanmu sedari dulu. 4 tahun! Aku mencintaimu dalam diam. Kau pernah menawarkan madu yang sangat manis kepadaku, namun saat ku gapai madu itu, ternyata kau telah menggantinya dengan sebuah racun yang mematikan."


"Kenan! Sesungguhnya nama mu masih terukir indah di lubuk hati yang terdalam. Entah sampai kapan rasa ini akan benar-benar hilang. Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini. Aku harap, setelah ini kita tidak bertemu lagi! Aku tak sanggup jika harus bertatap muka denganmu lagi. Seandainya mengakhiri hidup adalah hal yang tak dilarang! Mungkin aku telah melakukannya, agar aku bisa pergi jauh dari hidupmu." batin Liora.

__ADS_1


Jesicca yang mendapati adiknya sedang melamun, ia beranjak untuk menghampirinya. Jesicca merasa aneh dengan sikap sang adik yang tak seperti biasanya.


"Lagi ngelamunin apa, hum?" tanya Jesicca menepuk pelan bahu Liora.


Liora terperanjat saat melihat kakaknya yang tiba-tiba berada di sampingnya. "Ah, kak Jesi ngagetin aja." Liora menyembuskan nafas pelan.


"Kamu ada masalah? Kakak tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Kakak tidak akan memaksamu untuk bercerita sekarang, seharusnya jika ada masalah kamu harus cerita sama kakak, siapa tahu kakak bisa bantu. Kita tidak pernah merahasiakan tentang sebuah masalah loh ya. Jadi jangan menutupinya dari kakak!" Liora berkata dengan lembut, namun sangat tegas.


Liora kembali menghembuskan nafas pelan. Mana mungkin ia cerita soal kejadian tadi pagi di kantor. Yang ada Jesicca akan marah dan kecewa kepadanya. "Hem, nanti kalok aku udah siap, aku akan cerita kok sama kak Jesi." ucap Liora meyakinkan.


"Ya sudah, kalok kamu tidak enak badan, lebih baik pulang saja ke rumah. Sebentar lagi kakak juga akan pulang." Jesicca menyuruh Liora agar pulang lebih dulu ke rumah. Karena Jesicca melihat wajah Liora tampak pucat.


"Nanti ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu Li."


"Soal apa kak?"


"Hm ..., ada deh. Semoga kamu tidak marah."


"Nanti saja di rumah kakak ceritakan."


"Hm, ya udah aku pulang duluan. Mau istirahat, hehe ...."


Akhirnya Liora pulang lebih dulu ke rumah. Ia memang butuh istirahat karena badannya masih terasa sakit.


Malam harinya ...


Setelah makan malam, Jesicca mengajak Liora duduk di ruang tengah. Ia ingin membicarakan soal kehamilannya kepada Liora. Ia berharap kalau Liora tidak akan marah tentang kabar itu.

__ADS_1


"Kakak bikin aku penasaran aja deh." ucap Liora dengan ekpresi serius.


Jesicca menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Bagaimanapun tanggapan Liora nanti, ia akan menerimanya. Asalkan Liora tidak menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan itu.


"K-kakak hamil!" Jesicca mengatakannya dengan singkat dan padat.


Liora diam membeku, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut sang kakak. Hal yang ditakutkan olehnya akhirnya benar-benar terjadi. Liora tidak tahu harus merespon ucapan sang kakak dengan apa. Pikirannya kosong! Bagaiamana jika semua orang tahu jika kakaknya hamil tanpa suami? Pasti Jesicca akan mendapatkan cemoohan dan cancian dari masyarakat di sana.


Bagaimana kakaknya akan menghadapi semua itu? Liora mengepalkan tangan, pikirannya tertuju kepada Khendrik, dan keluarganya.


"Seharusnya aku menghancurkan Khendrik dengan cara lain, yang lebih cepat dan membuatnya sangat menderita. Dasar Khendrik si@lan! Aku akan membuat hidupmu menderita!" batin Liora.


"Li, kamu kenapa? Apa kamu marah sama kakak? Apa kamu akan menyuruh kakak menggugurkan kandungan ini?" tanya Jesicca spontan.


Liora reflek menatap sang kakak. Ia tidak boleh bersikap kecewa kepada kakaknya. Lagi pula semuanya terjadi bukan salah Jesicca, dia hanya korban dari kebej@t*n Khendrik. Liora harus memberikan suport untuk sang kakak, agar dia tidak stres.


"Tidak kak, aku hanya kaget saja mendengar kabar itu. Kalau aku pribadi, aku tidak akan tega menyuruh kakak menggugurkan bayi itu, meskipun dia hadir karena sebuah kesalahan, tapi dia itu tidak bersalah. Jadi aku tidak berhak mengatur semua itu. Semuanya tergantung pada diri kakak. Apakah kakak siap mengandung tanpa suami?" Liora menatap sang kakak, dengan tatapan iba.


"Kakak juga tidak akan tega membunuh bayi yang tak berdosa. Kakak siap dengan konsekuensinya Li, jadi kakak akan tetap mempertahankan bayi ini. Terlepas dia mempunyai ayah atau tidak, kakak akan tetap menjaganya dengan penuh kasih sayang." ucap Jesicca dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Jesicca tahu, memang tidak mudah hamil di luar nikah, dan bahkan tidak mempunyai suami. Tapi, Jesicca akan tetap kuat demi sang buah hati. Meskipun Khendrik tidak pernah mencari dirinya, dan ia juga sangat membenci Khendrik. Jesicca akan tetap menyayangi anak yang berada dalam kandungannya.


Mendengar penuturan sang kakak, Liora jadi tidak tega. Ia memeluk sang kakak dengan erat, tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya. Akhirnya mereka berdua sama-sama menangis, memikirkan kehidupan mereka kedepannya.


...----------------...


Terimakasih yang masih setia membaca novel ku🥰, semoga kalian sehat selalu🥰

__ADS_1


Jangan lupa vitaminnya buat Author, dengan cara tekan like, komen, vote dan kirim gift sebanyak-banyaknya 🥳🥳🥳🥳


Lophe-lophe se kebon cabe🌶🌶🌶


__ADS_2