Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 56. Kehilangan.


__ADS_3

Happy Reading๐Ÿฅฐ


"Kak Jesi ..." ucap Liora Lirih.


Liora jatuh terduduk di samping Jesicca, ia memangku kepala sang kakak dengan tangan yang gemetar. Air mata terus mengalir membanjiri pipi mulusnya. "Kak Jesi bangun, kenapa kakak bisa seperti ini. Hiks ... Hiks ..., Jangan tinggalin aku kak." Liora meraung menumpahkan rasa sesak di dadanya saat melihat sang kakak yang terkapar tak berdaya.


Atensi Liora tertuju ke arah kaki Jesicca yang telah dialiri darah. "Da-darah!" ucap Liora terbata.


"Pak, tolong angkat kakak saya, bawa masuk ke dalam mobil. Mobil saya ada di sebelah sana." tunjuk Liora kepada bapak-bapak yang ada di sana.


Liora pergi lebih dulu ke tempat mobilnya berada. Tubuh Jesicca telah di bopong oleh orang-orang di sana. Hingga tiba di mobil yang telah ada Liora di sana, Jesicca langsung di rebahkan di kursi mobil bagian belakang.


"Terimakasih semuanya, saya harus segera ke rumah sakit." Liora berucap dengan suara bergetar.


"Iya sama-sama Bak." jawab semua orang dengan serempak.


Liora melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak ingin terlambat memberikan pertolongan untuk sang kakak. Sesekali Liora melirik kaca spion tengah untuk melihat keadaan kakaknya di belakang.


Hati Liora sangat teriris saat melihat wajah Jesicca begitu pucat. "Kak Jesi, bertahanlah." seru Liora. Di dalam hatinya Liora terus berdoa agar kakaknya baik-baik saja. "Aku harus menghubungi kak Edo. Tapi, nanti saja setelah sampai di rumah sakit." ucap Liora frustasi.


Selang beberapa waktu, akhirnya mobil Liora telah sampai di depan rumah sakit. Liora turun dari mobil memasuki area rumah sakit. "Suster, Dokter, tolong kakak saya. Kakak saya kecelakan." teriak Liora meminta pertolongan.


Para perawat berlarian membawa brankar sambil mengikuti langkah Liora di depannya yang sedang panik. Para perawat mengeluarkan Jesicca dari dalam mobil, lalu memindahkannya ke atas brankar rumah sakit. Jesicca langsung di larikan ke ruang IGD. Liora ingin masuk untuk menemani sang kakak, namun di cegah oleh petugas medis di sana.


"Maaf Bu, Anda tidak boleh masuk. Silahkan tunggu di luar." perintah salah satu petugas medis itu.


Dengan berat hati, Liora duduk di kursi tunggu yang terletak di depan ruang IGD. Liora duduk tidak tenang. Pikirannya kacau, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi kepada kakaknya. Sungguh Liora tidak akan memaafkan dirinya sendiri yang telah membiarkan Jesicca pergi seorang diri ke apotik.


Liora merogoh ponselnya yang berada di saku celana bagian belakang. Ia mengutak-atik benda pipih itu, dan mencari nama Edo di sana.


Setelah panggilan terhubung, Liora langsung memberitahu 'kan keadaan Jesicca.

__ADS_1


"Hallo Kak Edo," ucap Liora tercekat. Suaranya juga serak karena habis menangis.


"Ada apa Li, kenapa suaramu begitu?"


"Kak Jesi ..., Hiks ... Hiks ..., Kak Jesi, kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit, dan masih ada di ruang IGD."


"Apa! Jesicca kecelakaan! Kenapa bisa? Sekarang ada di rumah sakit mana? Aku akan menyusul!"


"Di rumah sakit xxx."


Setelah mengatakan itu, Liora langsung menutup panggilannya bersama Edo. Liora menatap ke ruang IGD, dokter masih belum keluar dari sana. Hati Liora semakin cemas.


Sedangkan Edo yang mendapatkan kabar buruk dari Liora sangat shock, hatinya begitu remuk dan hancur. Ia seperti kehilangan semangat untuk hidup, Edo tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Jesicca di sana.


Kedua orang tua Edo yang mendengar kabar itu juga tak kalah shock, dengan jelas mereka mendengar penuturan Liora dari seberang telpon, karena kebetulan Edo me-loudspeaker panggilan itu.


Dengan cepat, Edo menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas meja, ia langsung berlari keluar rumah untuk menyusul Jesicca di rumah sakit. Dewi dan Rudy, langsung menghadang langkah Edo.


"Tidak! Mama tidak akan membiarkan kamu pergi ke rumah sakit dengan keadaan seperti ini.


"Tidak ada waktu lagi Ma, aku takut Jesicca kenapa-napa."


"Mama dan Papa juga ikut. Biarkan Papa yang menyetir. Kalau kamu yang menyetir bisa-bisa juga terjadi kecelakaan." ucap Dewi dengan tegas, karena ia tahu jika Edo dalam keadaan kacau, maka dia tidak akan fokus menyetir. Yang ada malah sesuatu yang buruk terjadi.


Setelah berdebat dengan sang mama, Edo menyetujui perkataan mamanya. Mereka bertiga langsung menuju ke rumah sakit tempat Jesicca di rawat. Rudy yang menyetir mobil itu, Edo duduk di sampingnya, dan sang istri duduk di kursi belakang.


Saat tiba di rumah sakit, Edo turun lebih dulu dari dalam mobil. Ia berlari di lorong rumah sakit, dan mencari keberadaan Liora yang tengah menunggu Jesicca di depan IGD.


"Liora!" panggil Edo saat melihat Liora yang tengah duduk sambil menundukkan kepalanya.


"Kak Edo." Liora langsung menghambur ke dalam pelukan calon kakak iparnya. Ia menangis sejadi-jadinya di dekapan Edo.

__ADS_1


Edo mengelus lembut rambut Liora. Ia memang menyayangi Liora layaknya adik sendiri. Edo membiarkan Liora menumpahkan air matanya, setelah di rasa puas, Liora mengurai pelukan itu.


Liora melihat kedua orang tua Edo juga ada di sana. "Om, Tante." sapa Liora dengan sopan, namun air matanya masih menetes. Bahkan kelopak matanya sudah bengkak, karena terlalu lama menangis.


"Bagaimana keadaan Jesicca?" tanya Edo khawatir.


"Belum tahu Kak. Dokter yang menangani Kak Jesi, masih belum keluar dari ruang IGD," terang Liora dengan nada sendu.


"Huf, semoga Jesicca baik-baik saja." Edo mengusap wajahnya dengan kasar.


Hingga tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka, menampilkan sosok seorang Dokter laki-laki di sana. Dengan cepat Liora dan Edo langsung menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan kakak saya Dok?" tanya Liora dengan cepat.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Liora, Dokter itu menarik nafas lebih dulu. "Keadaan pasien masih kritis. Semoga pasien bisa melewati masa kritis itu. untuk luka di kepalanya tidak terlalu parah, hanya saja ...." Dokter menggantung ucapannya.


"Hanya saja apa Dok? Jangan membuat kami khawatir," desak Edo dengan sedikit memaksa.


"Hanya saja, janin yang berada di dalam kandungnya, tidak bisa di selamatkan," ungkap Dokter akhirnya.


"Apa!" teriak Edo dan Liora bersamaan. Kedua orang tua Edo juga tak kalah terkejutnya. Cucu mereka yang bahkan belum sempat hadir di dunia telah meninggalkan mereka lebih dulu. Orang tua mana yang tidak akan merasa sakit jika di tinggalkan oleh cucu yang telah mereka nanti kehadirannya.


"Pa ...." ucap Dewi tercekat, tubuhnya mendadak lemah. Rudy dengan sigap menangkap tubuh sang istri.


Edo juga merasa sangat sedih, meskipun anak yang di kandung bukan darah dagingnya, namun ia tetap menyayangi anak itu yang telah ia anggap anaknya sendiri.


Tentu saja, yang paling sakit di antara mereka adalah Liora. Bagaimana nanti dia akan memberitahu sang kakak tentang janinnya yang tak bisa di selamatkan? Pasti Jesicca akan merasa sedih dan terpuruk.


...----------------...


Lopyu pull buat para readers yang masih setia membaca novel ku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2