
Happy Reading🥰
Hari berganti hari. Tak terasa sekarang adalah hari yang Liora tunggu-tunggu. Hari dimana ia akan menyelesaikan masa kuliahnya. Tapi masih belum ke acara wisuda. Sekarang ia akan melakukan sidang skripsi. Liora sangat gugup, ia selalu berdoa agar sidangnya lancar. Liora memasuki ruangan, tempat ia melaksanakan sidang.
Beberapa saat kemudian, Liora keluar dari dalam ruangan dengan wajah yang begitu senang. Sudah dapat di pastikan jika sidang skripsinya berjalan dengan lancar. begitu juga dengan teman-temannya yang juga merasa senang karena mereka sudah menyelesaikan skripsi dengan sangat baik. Hingga mereka pun mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.
Acara wisuda akan di laksanakan 2 minggu setelah hari ini. Liora dan teman-temannya pergi ke cafe moana untuk merayakan kelancaran sidang mereka. Liora yang mentraktir makan semua teman-temannya.
"Li, setelah ini kamu mau kemana? Ada rencana buat kerja atau gimana?" tanya Mella yang duduk berhadapan dengan Liora. Sedangkan Sisil dan Maya duduk si samping keduanya. Mereka sedang mendiskusikan tentang rencana mereka untuk menuju ke masa depan.
"Entahlah! Aku masih belum ada rencana Mel. Kalok kalian sendiri gimana?" Liora melirik satu persatu teman-temannya.
Sebenarnya Liora berencana untuk melamar kerja di perusahaan Khendrik, tempat Jesicca bekerja. Tapi tak ingin memberitahukan rencana itu kepada teman-temannya.
"Sama! Kita masih belum ada rencana! Haha ... Haha ...!" Mereka berempat tertawa sangat kencang, sampai mengalihkan atensi semua pengunjung yang ada di cafe itu. "Ups ..., Maaf!" ucap mereka serempak saat menyadari keributan yang mereka buat. Mereka sadar sudah mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya. Akhirnya mereka memilih untuk diam.
"Gimana hubungan kamu dengan pak Kenan?" tanya Mella yang berhasil membuat Liora menghentikan aktivitas makannya.
"Hubungan apa? Aku rasa tidak ada hubungan apapun antara aku dengan pak Kenan!" jawab Liora dengan ekspresi malas. Entah ada apa dengannya, biasanya ia akan semangat jika sedang membicarakan Kenan. Tapi sekarang seolah ia tidak suka mendengar nama Kenan di sebut lagi.
"Tumben jawabnya gak semangat gitu? Lagi marahan ya? Atau jangan-jangan pak Kenan sudah mempunyai kekasih?" ujar Sisil menimpali.
"Mungkin!" jawab Liora mengedik 'kan bahu. Ia jadi teringat dengan ucapan Kenan yang melukai hatinya. Ia berniat ingin melupakan Kenan dan mengubur dalam-dalam perasaan cintanya kepada Kenan. Ia tidak ingin di cap buruk lagi oleh Kenan, meskipun cintanya begitu besar dan ia pernah memiliki semangat untuk memperjuangkan cinta itu, hingga ucapan Kenan mematahkan harapan yang ia bangun begitu tinggi. Hingga ia sadar jika dirinya memang tidak pantas bersanding dengan Kenan. Liora sudah tidak ingin berharap apapun lagi darinya. Ia juga mulai menjaga jarak sejak kejadian itu. Kejadian yang membuatnya patah semangat.
*****
Flashback on
__ADS_1
Setelah Kenan selesai mengajar, ia melihat Liora berdiri di depan kelas dengan wajah lesu. Sebenarnya ia tidak tega menghukum Liora seperti itu. Namun dia harus mengajarkan kedisiplinan dan konsisten kepada anak didiknya.
Ia tidak ingin para mahasiswa berbuat semena-mena jika salah satu dari mereka di berikan ke makluman saat terlambat masuk ke dalam kelas. Ia pun berjalan melewati Liora tanpa mau menyapa dan menyuruhnya untuk duduk.
Liora yang melihat Kenan langsung menghentikannya. "Pak apa saya akan terus berdiri disini sampai waktunya pulang nanti?" tanya Liora dengan wajah memelas.
"Ikut keruangan saya!" perintah Kenan, ia terus melangkah tanpa menoleh ke arah Liora.
Liora di buat terkejut oleh jawaban Kenan yang menyuruhnya ikut ke ruangan dosen. Ia masih bergeming di tempatnya hingga ia menyadari bahwa Kenan telah memasuki ruangan dosen.
Tak ingin mendapat hukuman yang lebih parah, ia langsung pergi menyusul Kenan.
Keadaan di ruangan dosen tampak sepi, mungkin karena sekarang masih jam mengajar. Tapi entah kenapa Kenan sudah keluar dari dalam kelasnya. Ia celingukan mencari keberadaan Kenan. Namun Kenan tetap tidak ada. Hingga ia melihat daun pintu di sudut ruangan. Ia berpikir mungkin Kenan berada di dalam sana. Ia langsung menuju ke pintu itu dan mengetuk dari luar. Dan benar saja ada suara Kenan di dalam sana. Setelah mendapatkan izin dari Kenan, ia langsung memasuki ruangan itu.
"Permisi pak!" ucap Liora dengan sopan, ia melihat ruangan itu dengan begitu takjub. Ruangan yang di dalamnya berisi barang-barang mewah layaknya tempat Sultan berada. Tapi memang benar jika Kenan adalah seorang Sultan, dia adalah anak dari pemilik Universitas ini. Pantas saja ruangan Kenan berbeda, cukup lama ia memindai ruangan itu hingga tiba-tiba atensinya bertemu dengan mata Kenan. Ia pun gugup dan langsung menundukkan kepala. "Maaf pak." hanya satu kata itu yang Liora ucapkan.
Liora langsung mendongakkan kepala. "Maaf pak, bapak menyuruh saya duduk di sini?" Liora menunjuk sofa yang berada di dekatnya. Namun Kenan tidak merespon ucapannya dan hanya tatapan tajam yang ia berikan. Mungkin itu adalah sebuah isyarat agar ia duduk disana. Setelah Liora duduk, Kenan juga duduk di kursi kebesarannya yang terletak tepat di hadapan Liora. Mereka berpandangan cukup lama hingga akhirnya Liora mengalihkan tatapannya ke arah lain, karena ia tidak tahan berlama-lama menatap Kenan. Jantungnya pasti akan meledak.
"Bapak ada perlu apa menyuruh saya untuk ke ruangan bapak?" tanya Liora memberanikan diri. Ia melihat perubahan di wajah Kenan yang menunjukkan raut ke tidak sukaannya.
"Berhenti melakukan sesuatu yang bisa merugikan orang lain!" ucap Kenan dengan tegas dan penuh penekanan.
"Maksud bapak apa ya? Saya tidak mengerti!" Liora menatap Kenan dengan bingung. Batinnya Bertanya-tanya kenapa Kenan bisa berkata begitu.
Kenan menyodorkan ponsel ke hadapan Liora. Di sana terpampang sebuah foto hasil percakapan seseorang melalui pesan teks di aplikasi berwarna hijau. Yang menunjukkan sebuah percakapan seseorang dengan orang lain yang menunjukkan foto dirinya di profil itu. Sayang sekali foto profil yang satunya tidak menunjukkan wajah seseorang melainkan hanya sebuah foto buku berwarna pink yang bertuliskan huruf V. Banyak sekali percakapan disana, ia membacanya satu persatu.
@ : "Liora, jadi benar kalau kamu sama pak Kenan mempunyai hubungan special? Dan kalian sudah menjalin kasih?"
__ADS_1
Liora : "Wah, kamu tahu dari mana? Padahal aku sama pak Kenan merahasiakan hubungan kita!"
@ : "Anak kampus udah tahu semua Li tentang hubungan kalian. Apalagi kalian sering pulang dan berangkat bareng ke kampus. Atau jangan-jangan kalian udan ekhem ... ekhem .... ya?"
Liora : "🙈🙈🙈 Jadi malu deh."
@ : "Jadi beneran nih kalian udah ..., Ya ampun membuatku iri sajaðŸ˜ðŸ˜."
Liora : "Shuut! Jangan kasih tahu yang lain! Aku gak mau mereka salah faham."
@ : "Ah, santai ajah kali Li, aku sama anak-anak kampus gak bakalan berani macam-macam. Lagian siapa yang berani gangguin kekasih pemilik kampus kita. Yang ada malah kita yang di depak sama dia."
Liora : "Makasih ya, kalian memang baik."
@ : "Oke, udah dulu ya Li, aku cuma mau mastiin kabar itu aja, benar atau enggak. Sekarang aku udah tahu jawabannya dari orangnya langsung. Maaf ya ganggu waktu kamu."
Liora : "Iya gak apa-apa kok."
Liora membulat 'kan mata sempurna saat melihat isi percakapan itu. Ia benar-benar marah kepada orang yang sudah memfitnah dirinya. Ia akan menjelaskan semuanya kepada Kenan sebelum Kenan salah faham dan menganggap dia sebagai wanita yang buruk.
"Pak, itu bukan saya. Saya tidak tahu soal itu dan saya tidak mungkin mengaku-ngaku punya hubungan sama bapak apalagi ...," Liora tidak melanjutkan ucapannya ketika ia mengingat isi percakapan itu bahwa ia dan Kenan Sudah melakukan hal yang di luar batas. Meskipun ia sangat mencintai Kenan, ia tidak mungkin melakukan perbuatan se keji itu.
Brak ...
...----------------...
Bersambung ...
__ADS_1