
Happy Readingπ₯°
Tepat jam satu malam ruang ballroom hotel telah sepi. Para tamu sudah meninggal acara pesta. Hanya ada Maura dan Niko di sana, sedangkan Jesicca dan Edo sudah memasuki kamar hotel lebih dulu. Maura yang memaksa mereka agar segera beristirahat meskipun awalnya Jesicca menolak, tapi akhirnya Maura bisa membujuknya.
"Maura!" panggil Niko seraya menghampiri Maura yang sedang duduk di atas sofa. Ya atas desakan dari Maura, akhirnya Niko terpaksa memanggil Maura tanpa embel-embel 'Ibu' lagi, dan juga tidak berbicara terlalu formal.
"Iya, Niko. Ada apa?"
"Em, kenapa belum istirahat? Ini sudah malam, Maura. Tidak baik buat kesehatan kamu."
"Aku masih ingin bersantai disini. Kamu sendiri kenapa belum istirahat?"
"I-itu, aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian di ruangan ini." Niko menjawab dengan gugup. Sejak kejadian dimana dirinya yang membantu mengobati tangan Maura yang terkena siraman air panas, Niko menjadi sedikit canggung ketika berhadapan Maura.
Ingin rasanya Niko mengutarakan perasaannya kepada Maura. Namun sekarang bukan waktu yang tepat. Dia tidak ingin membuat Maura merasa risih kepadanya. Apalagi mengingat status Maura yang masih istri orang.
"Aku tidak apa-apa meskipun ditinggal sendirian. Aku sudah terbiasa dengan itu." Maura berkata dengan tersenyum miris. Mengingat saat Khendrik ketahuan selingkuh, dan sering tidak pulang dengan alasan lembur di kantor. Maura selalu merasa kesepian.
"Mulai sekarang, aku yang akan menemani kamu." Niko berkata dengan serius. Ia menatap manik mata Maura yang juga sedang menatapnya.
Mereka berdua saling pandang. Tatapan mereka sangat sulit di artikan. Entah apa yang mereka rasakan saat bertatapan seperti itu. Kalau Niko sudah jelas jantungnya berdebar tak beraturan seakan mau copot dari tempatnya.
Maura lebih dulu memutus kontak mata diantara mereka. "Aku akan mengambil minuman di sana." Maura beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil dua gelas minum yang tersedia di meja khusus tempat minum.
"Ini, minumlah." Maura memberikan satu gelas minum kepada Niko.
__ADS_1
"Terimakasih." Niko menampilkan senyuman termanisnya kepada Maura.
Mereka duduk berdampingan di atas sofa yang terletak di pojokan ruangan itu. "Minggu depan adalah hari persidangan. Apakah kamu akan hadir di sana, Maura?" Niko bertanya dengan ragu.
"Hem ... Haa ...." Maura menarik nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan guna menghilangkan rasa sesak di dadanya. "Aku rasa tidak perlu. Biarkan saja hakim yang memutuskan hukuman itu tanpa adanya seorang saksi. Semua bukti yang di berikan oleh Kenan sudah cukup membuat Khendrik mendekam lama di dalam penjara."
"Jika itu yang kamu inginkan tidak apa-apa. Liora juga tidak mau hadir di sana. Kenan menyetujui itu, dan mengurus semuanya agar korban tidak perlu hadir di persidangan."
"Itu lebih baik, Niko. Aku tidak ingin Liora ketakutan saat bertemu dengan Khendrik. Karena itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan janinnya."
Niko hanya diam tak menjawab ucapan Maura. Ia menenggak minuman yang diberikan oleh Maura. Begitupun dengan Maura, ia juga menenggak habis minuman itu, dan merasa puas setelah menghabiskannya.
Mereka terus berbincang hingga lupa waktu. 30 menit kemudian, Maura merasakan pusing di kepalanya. Beberapa kali ia menggelengkan kepala dan mengerjakan mata guna menghilangkan rasa pusing itu. Namun semakin lama kepala Maura terasa semakin pening.
"Maura kamu kenapa?" tanya Niko terlihat cemas.
Niko merasa curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukkan Maura. Ia melihat minuman yang dibawa oleh Maura tadi. Niko mencium sisa minumannya di dalam gelas. "Aku rasa ini hanya minuman biasa." gumam Niko setelah menaruh kembali bekas minumannya.
Niko masih curiga dan ingin membuktikan dugaannya benar atau salah. Niko meraih gelas yang tadi di pegang oleh Maura. Masih ada sisa sedikit minuman di dalam gelas itu. Maura tidak Menghabiskannya secara tuntas. Niko mulai mengendus-ngenduskan indera penciumannya ke dalam gelas itu. Merasa tak yakin, Niko mencicipi sisa minuman itu.
Niko membulatkan mata sesudah mencicipi nya. "Ini minuman yang mengandung alkohol. Meskipun kadarnya rendah, tapi selama ini Maura tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Kenapa dia bisa salah mengambil minuman? Kenapa juga tadi dia langsung menenggak minuman itu? Tidak sadarkah dia bahwa minuman ini sangat berbahaya baginya?" Niko menggerutu kesal.
Maura semakin ngelantur, ia tertawa sendiri, dan terus meracau. "Niko, kenapa wajahmu semakin tampan, hum?" Maura mencubit kedua pipi Niko.
Wajah Niko memerah saat mendapatkan sentuhan tangan dari Maura. Niko berusaha sekuat tenaga agar bisa mengendalikan hasratnya.
__ADS_1
Niko berdiri menarik tangan Maura agar ikut berdiri. Ia memapah tubuh Maura untuk mengantarkannya ke dalam kamar. Maura tidak bisa diam, dia terus mengoceh di hadapan Niko.
"Niko, bibirmu seksi sekali, rasanya aku ingin menggigitnya. Bolehkah?"
Niko tidak menggubris ucapan dan pertanyaan dari Maura, ia hanya fokus ke jalan agar cepat sampai ke kamar Maura yang telah di pesan khusus untuknya.
Setelah sampai di dalam kamar, Maura. Niko membaringkan tubuh Maura di atas ranjang. Niko ingin segera keluar dari dalam kamar itu. Niko takut melakukan hal di luar batas jika berada dalam satu kemar dengan Maura.
Maura bangun dari posisi tidurnya, ia membuka bajunya karena merasakan suhu di kamar itu tiba-tiba panas. Niko yang Melihat Maura hanya menggunakan kacamata merah menelan saliva nya dengan susah payah. Tak dapat di pungkiri jika dirinya tergoda, apalagi dia belum pernah melakukan hal itu di usianya yang sangat matang.
Meskipun usia Maura tak lagi muda, tapi tubuhnya masih sangat bagus dan seksi. Ia masih terlihat seperti wanita umur tiga puluhan. Maura menarik tangan Niko hingga tubuhnya terjerembab di atas kasur. Dengan posisi berada di atas tubuhnya.
Wajah Niko memerah saat tangannya tak sengaja memegang salah satu gunung kembar milik Maura. "Maura, jangan seperti ini. Kamu sedang mabuk." Niko ingin beranjak, namun di tahan kuat-kuat oleh Maura.
"Niko, jangan pergi. Temani aku di sini. Aku sangat membutuhkan kamu." ucap Maura dengan mata yang sudah merem-melek.
Maura menggulingkan tubuhnya agar berada di atas tubuh Niko. Tiba-tiba Maura mencium bibir Niko yang membuat Niko membulatkan mata sempurna. Niko tidak menyangka bahwa Maura akan melakukan hal senekat itu. Niko takut tidak bisa menahan diri jika terus di goda dan mendapatkan serangan dari Maura.
Niko tahu bahwa Maura sedang dalam pengaruh alkohol, semua yang dia lakukan itu di luar kendalinya. Jadi Niko tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi jika Maura terus memaksanya maka jangan salahkan Niko jika dia dengan senang hati melayani keinginan Maura.
...----------------...
Jangan lupa kembang kopinya πππ
Ayo yang belum mampir di karya baruku segera mampir. Ceritanya tak kalah panas dengan di novel iniππππ
__ADS_1