
Happy Reading 🥰
Liora tengah bersiap untuk pergi ke cafe bersama sang kakak. Liora sangat senang saat mengetahui hubungan sang kakak dengan Edo yang telah resmi berpacaran. Jesicca sudah menceritakan semuanya, dan itu sangat membuat Liora terharu dengan perjuangan Edo untuk mendapatkan cinta sang kakak.
"Ayo kak, kita berangkat. Aku sudah siap." Liora langsung menggandeng tangan Jesicca yang berdiri di ruang tengah yang sedari tadi menunggu dirinya.
Jesicca mengikuti langkah sang adik untuk menuju ke arah mobil. Hari ini Jesicca duduk di bangku sebelah kemudi. Sedangkan yang menyetir adalah Liora. Setelah berjuang untuk mendapatkan izin dari sang kakak, akhirnya Liora di izinkan menyetir mobil. Dengan syarat, tidak boleh melaju dengan kecepatan tinggi.
Tentu saja Liora sangat senang, tidak masalah meskipun harus dengan kecepatan sedang. Bukan karena apa Jesicca melarang Liora untuk mengendarai mobil. Tapi, karena ini masih pengalaman pertama bagi Liora dalam mengemudi. Apalagi Liora hanya belajar beberapa hari saja untuk mengemudi, itupun dalam ajarannya.
Jesicca takut terjadi apa-apa terhadap dirinya dan Liora. Ia sangat menyayangi Liora, dan takut kehilangan dia. Selama dalam perjalanan, Jesicca tidak hentinya mengomeli sang adik. Karena cara mengemudinya membuat yang menumpang merasa takut.
Liora dengan sangat hati-hati mengemudikan mobilnya. Bukannya fokus, dia malah sering oleng karena terganggu dengan suara Jesicca yang tidak berhenti mengomelinya.
"Kak Jesi, stop! Jangan mengomel terus, aku gak fokus jadinya," gerutu Liora dengan kesal
"Kalau kakak diam, kamu pasti makin oleng nyetir mobilnya. Untung di sini bukan jalan raya, kalau tidak sudah pasti kamu kena tilang sama polisi," tandas Jesicca tak mau kalah.
"Makanya kakak diam. Aku gak fokus itu gara-gara dengar suara cempreng kakak. Aku tuh sudah jago menyetir, jadi jangan berisik."
"Ooooh, sudah berani ngelawan sama perintah kakak?" tanya Jesicca dengan suara meninggi.
Sepertinya ibu hamil yang satu ini sangat sensitif, bawaannya sensi terus. Salah bicara sedikit saja pasti langsung marah dia. Moodnya sangat kacau, kadang happy kadang juga sedih.
Makanya kalau bicara sama ibu hamil harus ekstra sabar. Jika di lawan maka akan panjang urusannya. Seperti mereka saat ini, awalnya cuma ngomong biasa, lama-lama jadi berantem deh.
Jesicca karena hormon ibu hamil sering naik-turun, makanya gak mau kalah debat. Apa yang dia omongin semuanya di rasa benar. Sedangkan Liora yang tidak tahu tentang hormon ibu hamil yang kadang berubah-ubah dalam sekejap mata, ia terus menanggapi ucapan sang kakak dengan serius. Liora juga tidak ingin kalah, apalagi dia benar-benar pusing karena mendengar suara kakaknya yang sangat berisik.
Hingga akhirnya kakak beradik itu terus berdebat dengan pendapat mereka yang tidak sepemikiran. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.
"Bukan begitu kak, ah sudah lah aku tidak mau berdebat dengan kakak. Yang ada malah makin pusing aku," jawab Liora dengan tatapan fokus ke depan.
__ADS_1
"Ya udah siapa juga yang mau debat sama kamu. Yang ada kakak tuh stres gara-gara punya adik yang gak penurut dan pembangkang seperti kamu."
"Apa! Mana ada aku membangkang dengan ucapan kakak. Kak Jesi aja yang terlalu berlebihan."
"Nah, ini buktinya. Dari tadi nyolot terus pas kakak ngomong."
"Siapa yang nyolot coba. Kakak jangan mancing emosiku ya."
"Enggak kok. Kamunya ajah yang sensian."
"Astaga! Kak Jesi hari ini ngeselin banget tahu gak."
"Apa! Jadi kakak ngesil di mata kamu?" tanya Jesicca dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Hingga tiba-tiba ....
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
Jesicca menangis sejadi-jadinya di dalam mobil.
Liora menghentikan mobilnya secara mendadak. Jesicca hampir terbentur ke dashboard, untung saja dia mamakai sabuk pengaman. Jika tidak pasti sudah bencol kepala Jesicca karena kebentur.
"Kak Jesi kenapa nangis? Apa aku salah ngomong?" tanya Liora dengan khawatir.
Liora sangat bingung, apa dia berbuat suatu kesalahan? Kenapa Jesicca bisa nangis sampai segitunya? Apa yang harus Liora lakukan. Ia sudah membujuk kakaknya dan meminta maaf, namun sang kakak tetap menangis sejadi-jadinya.
"Kak Jesi, aku minta maaf jika ada salah. Aku benar-benar gak tahu dan gak sengaja," ucap Liora dengan suara lembut. Berharap sang kakak akan berhenti menangis.
"Ap-apa kakak sering membuat kamu kesal?" tanya Jesicca dengan suara terbata karena sesenggukan.
"Enggak kok kak, tadi aku cuma bercanda saja. Kak Jesi kan tahu sendiri kalau aku sangat menyayangi kakak, jadi gak mungkin aku kesal sama kakak." Liora tersenyum lembut menatap Jesicca.
Setelah cukup lama membujuk Jesicca agar berhenti menangis, dengan bersikap sangat manis kepadanya. Akhirnya Jesicca kembali tersenyum, saat Liora menawarkan akan pergi ke pantai dan akan membeli ice cream yang banyak.
__ADS_1
Entah itu ide dari mana Liora dapat. Kenapa yang muncul di benaknya adalah pantai dan Ice cream. Beruntungnya Liora, karena sang kakak sangat senang waktu di ajak ke pantai. Liora merasa kesabarannya sedang di uji oleh sang kakak.
"Huft! Sabar Liora, tenang, tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. Jangan sampai kamu emosi dengan kelakuan kakakmu yang super benyebalkan hari ini." batin Liora.
Selang berapa lama, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Liora dan Jesicca telah sampai di cafe. Tepat saat mereka akan turun dari dalam mobil, sebuah mobil hitam juga terparkir di depan cafe. Seorang pria keluar dari dalam mobil itu dengan senyuman yang merekah, siapa lagi kalau bukan Edo.
Edo Menghampiri Jesicca yang sama-sama baru sampai di cafe. Edo langsung merangkul bahu Jesicca dengan begitu mesra. Tak perduli dengan keberadaan Liora yang sedari tadi melihat kemesraan itu.
"Khem! Masih ada aku di sini. Jangan jadikan aku nyamuk kalian." Liora berdeham untuk menyindir dua insan yang tengah di mabuk cinta.
"Hehehe, maaf adik ipar. Kita gak lihat," ucap Edo meledek Liora.
"Cih! Sombong sekali. Ya sudah lebih baik aku langsung bekerja di dalam. Ingat! Gaji aku paling besar di sini."
"Baru juga kerja sehari, udah bicara soal gaji. Karyawan tidak tahu diri." Edo pura-pura kesal terhadap tingkah Liora.
"Hey, aku sudah bekerja 2 hari di sini. Kalian harus gaji aku dengan bayaran per-jam."
"Bisa-bisa cafe kita langsung gulung tikar, sayang. Karena punya karyawan seperti adik ipar," ujar Edo yang mengadu kepada Jesicca.
"Sudah lah, hentikan drama kalian. Aku pusing dengarnya. Lebih baik kita langsung bekerja, para karyawan sebentar lagi pasti sampai. Pengunjung juga pasti sangat ramai. Jadi Mari kita bekerja." Jesicca langsung menggandeng tangan Edo untuk masuk ke dalam cafe dengan begitu semangat.
Liora mengikuti dua pasangan yang menurutnya sangat bucin itu. Liora merasa sangat bahagia melihat kemesraan sang kakak bersama dengan Edo. Berharap Jesicca bisa terus bahagia bersama dengan Edo.
...----------------...
Terimakasih untuk readers yang selalu setia membaca novel ku. Yang selalu meninggalkan jejak, komen, dan juga mengirim gift dengan banyak😘😘
Semoga kalian sehat selalu dan dilancarkan rezekinya 🥰🥰
Lophe-lophe se kebon cabe🌶🌶🌶
__ADS_1