Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 94. Resmi Bercerai


__ADS_3

Happy ReadingπŸ₯°


"Sayang, aku pulang!" Kenan berteriak memanggil sang istri. Wajah Kenan tertutup oleh bunga yang memenuhi kedua tangannya.


"Kenan! Kenapa bawa bunga sebanyak ini?" Liora mengambil alih bunga-bunga itu dari tangan Kenan. Lalu meletakkannya di atas meja, ruang tengah.


"Ini buat kamu, Sayang. Apa kamu suka?"


"Sangat suka! Terimakasih, Ken." Liora memeluk tubuh Kenan dengan erat.


"Kita ke kamar yuk. Ada yang mau aku ceritain." Kenan menggendong tubuh Liora ala bridal style. Ia membawanya masuk ke dalam kamar.


Mereka berdua duduk bersandar di head bord. Liora menyandarkan kepalanya di dada Kenan. "Apa yang ingin kamu ceritakan? Oiya, Bagaimana hasil persidangan tadi?" Liora bertanya tanpa menatap Kenan.


"Semuanya berjalan dengan lancar. Hanya saja ...." Kenan menggantung ucapannya. Ia takut Liora akan keberatan dengan tindakannya yang sudah meringankan hukuman untuk Khendrik. Namun bagaimana pun Kenan harus menceritakan semuanya kepada Liora. Agar istrinya itu tidak salah faham.


"Hanya saja apa, Ken?" Liora mengerutkan keningnya seraya menunggu kelanjutan cerita dari Kenan.


Kenan menghembuskan nafasnya kasar. Setelah itu Kenan menceritakan tentang sidang Khendrik yang berjalan lancar, serta hukuman apa yang diputuskan oleh Hakim. Lalu Kenan juga menceritakan tindakannya saat membayar biaya kompensasi atas hukuman yang hakim jatuhkan kepada Khendrik. Sehingga Khendrik diberikan keringan dan di penjara selama 5 tahun.


Liora mendengarkan secara seksama. Ia tidak menyela sedikitpun ucapan Kenan. Ia tahu pasti sangat berat buat Kenan melewati semua ini. Apalagi Khendrik adalah papanya sendiri. Sejahat apapun seorang ayah, dia akan tetap menjadi ayah kita, dan namanya tidak akan berubah menjadi mantan ayah.


"Apa kamu marah? Maaf jika aku bertindak sesuka hati, dan tidak bertanya dulu sama kamu, yang selalu korban. Jika kamu keberatan maka aku akan kembali kesana dan berbicara kepada hakim untuk membatalkan biaya kompensasi itu." cerocos Kenan dengan cepat.


Liora membalikkan badan, menatap manik mata Kenan dengan sorot mata yang dalam. Bibirnya membentuk sebuah lengkungan. "Ken, aku tidak marah. Kamu berhak melakukan itu karena kamu adalah anaknya. Hukuman 5 tahun penjara sudah cukup untuk membuat papa kamu jera dengan perbuatannya."

__ADS_1


Kenan merasa tersentuh dengan ucapan bijak dari sang istri. "Terimakasih, Sayang. Kamu benar-benar wanita yang baik. Aku melihat papa dengan versi lain. Sepertinya papa sangat menyesali perbuatannya, dan dia juga sudah berubah. Papa kembali menjadi sosok papa Khendrik yang dulu aku kenal. Bahkan papa juga tidak menggunakan kekuasaannya untuk melawan hakim agar terbebas dari jeratan hukum."


"Syukurlah kalau begitu, aku berharap dia benar-benar sudah berubah."


"Papa nitip salam buat kamu. Dia bilang kalau dirinya sangat menyesal atas perbuatannya terhadap kamu dan juga kakak ipar. Papa benar-benar tulus meminta maaf sama kamu dan kak Jesi."


"Aku sudah memaafkannya, Ken. Tapi untuk melupakan kejahatannya, aku masih butuh waktu. Tidak secepat membalikkan telapak tangan untuk melupakan semua itu. Namun kamu tenang saja, aku akan berusaha untuk berdamai dengan keadaan."


"Terimakasih, Sayang. Terimakasih banyak. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Sungguh kamu adalah wanita yang sangat luar biasa."


Cup! Cup! Cup!


Kenan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah dan puncak kepala Liora. "Aku akan menjenguk papa setiap hari. Aku takut papa merasa kesepian dan terus di hantui rasa bersalah, hingga menimbulkan sesuatu yang tak diinginkan terjadi."


"Harus! Sudah tugas kamu menghibur dia. Maaf aku masih tidak bisa memanggil dia dengan sebutan papa." Liora berkata dengan lirih.


"Makasih, Ken. Sudah mau mengerti dengan keadaan aku. Suatu saat aku akan menjenguk dia ke penjara. Ada yang harus aku bicarakan dengannya. Aku tidak ingin terus-menerus terbelenggu dengan rasa trauma ini. Jadi aku akan melawan rasa trauma itu."


"Aku akan membantu kamu agar bisa melupakan kejadian itu, dan terbebas dari rasa trauma yang masih ada di dalam diri kamu."


Keduanya saling berpelukan guna menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang. "Bagaimana keadaan bayi kita di dalam sana?" tanya Kenan sambil mengusap perut Liora yang sudah sedikit menonjol.


"Dia baik-baik saja, Ken. Apa kamu merindukannya?"


"Sangat! Aku ingin dia segera hadir ke dunia."

__ADS_1


"Apa kamu tidak berencana untuk menjenguknya?" tanya Liora ambigu.


Kenan mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. Namun detik itu juga ia langsung tersenyum girang. Ucapan Liora seolah memberikan sinyal untuk dirinya. "Apakah Boleh?" Kenan menatap Liora dengan mata yang berbinar.


Liora menganggukkan kepala tanda setuju. Semenjak usia kandungan Liora menginjak usia bulan ketiga. Perubahan hormonnya sangat cepat. Liora seolah ingin mendapatkan sentuhan terus dari Kenan. Sekarang Liora yang lebih agresif dan sangat liat saat bermain.


Kenan langsung menyerang Liora dengan ganas, tak memberikan kesempatan untuk Liora sekedar bernafas. Liora menaiki tubuh Kenan, lalu duduk di atas perutnya. Tangan Kenan dengan aktif membuka pengait bra di belakang punggung Liora. Detik berikutnya tubuh mereka telah polos seperti bayi sehabis mandi.


Kenan mengarahkan terongnya untuk memasuki lembah surgawi milik Liora yang sudah seperti candu baginya. Suara decitan ranjang menjadi saksi berapa ganasnya permainan tanam-tanaman itu.


Di saat mereka asik bercumbu, di sisi lain tepatnya di dalam sel jeruji besi. Khendrik tengah menangis tersedu-sedu. Belum hilang rasa penyesalan dan rasa bersalahnya kepada orang-orang yang telah dia sakiti. Sekarang bertambah lagi kesedihan yang mendalam. Membuat hati Khendrik terkoyak habis.


Tangannya meremas kertas yang berada di genggamannya. Sebuah kertas yang berisikan surat cerai dari sang istri. Khendrik tidak menyangka bahwa Maura akan menggugat cerai dirinya untuk kedua kalinya.


Mungkin untuk yang pertama kalinya Khendrik bisa membuat Maura untuk menggagalkan gugatan cerainya. Namun untuk yang sekarang Khendrik sudah tidak bisa. Ia tidak akan lagi egois untuk melaksanakan kehendaknya.


Dengan berat hati Khendrik menggerakkan tangannya di atas kertas itu, coretan pena dengan jelas mewarnai kertas putih itu. Tangannya gemetar saat menuliskan tanda tangan di sana.


Niko yang melihat itu merasa tidak tega. Bagaimana pun Khendrik sudah seperti saudara baginya. Khendrik sangat berjasa kepada Niko, disaat kedua orang tuanya kesusahan Khendrik memberikan bantuan dengan kekuasaannya.


Setelah ayah Niko berhenti menjadi asisten papanya Khendrik karena faktor usia. Dia sering sakit-sakitan. Hingga harus di rawat intensif di rumah sakit. Khendrik yang memberikan pelayanan terbaik di sebuah rumah sakit terbesar di kota itu menggunakan kekuasaannya.


Niko merasa bersalah ketika mengingat dirinya sudah mengkhianati Khendrik dengan meniduri istrinya. "Maafkan saya Pak. Saya tidak bermaksud untuk mengkhianati anda." batin Niko penuh sesal.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar. 😘😘😘😘


__ADS_2