
Happy Reading๐ฅฐ
"Mas! Di bawah masih banyak tamu loh, kita ngapain masuk kamar duluan? Kasian sama mama Maura dia sendirian di bawah." Jesicca membalikkan badan tangannya sudah siap membuka pintu kamar. Namun tiba-tiba di tarik oleh sang suami.
"Mas! Emph ... Emph ...."
Edo meraup bibir Jesicca dengan rakus. Sedari tadi ia sudah menahan hasrat untuk tidak tergoda dengan kecantikan sang istri. Tapi usahanya sia-sia mana kala Jesicca dengan sengaja menggoda dirinya.
Nafas keduanya tersengal-sengal, Edo melepaskan ciumannya. "Hanya sebentar, Sayang. Kita main singkat ya. Kasian si Otong udah gak sabar ingin bertemu sama Dipsi.
Jesicca tidak menolak ajakan Edo, ia mengalungkan tangannya di leher Edo dengan manja. Membuat Edo semakin bersemangat. Tanpa ba-bi-bu Edo kembali me-lu-mat bibir sexy milik Jesicca. Tanpa membuka baju, Edo langsung menyerang Jesicca dengan tergesa-gesa.
Edo melakukannya dengan posisi berdiri, seperti keinginan Edo setiap kali bercinta maka mereka akan melakukan dengan cara yang terus berbeda-beda. Jesicca menj**it merasakan miliknya di tusuk-tusuk oleh terong jumbo, Edo.
Beruntung kamar itu kedap suara, jika tidak maka mereka berdua akan menjadi tontonan para tamu di bawah. Padahal pengantin barunya sedang istirahat dan tidak melakukan ritual malam pertama. Namun Edo dan Jesicca mendahului pengantin baru itu.
"Edo! Ahh ...."
Jesicca terus menj**rit saat Edo menusuknya lebih dalam lagi. Edo mempercepat gerakannya saat bibit terongnya berdesakan minta dikeluarkan. Hingga suara er***an lolos dari bibir keduanya. Edo mendekap tubuh Jesicca yang tampak lunglai karena kehabisan tenaga.
Edo mengambil tisu untuk membersihkan sisa percintaannya di area sel***kangan, Jesicca. Setelah itu Edo merapikan kembali pakaian Jesicca dan dirinya yang sempat acak-acakan yang disebabkan oleh permainan tanam-tanaman.
Meskipun permainan itu dilakukan dengan singkat, namun rasanya tetap sangat luar biasa. Makanya Edo masih meminta jatah saat acara pesta selesai.
__ADS_1
Mereka berdua kembali ke lantai ballroom. Edo berjalan ke arah Niko yang sedang duduk sendirian di pojokan. Sedangkan Jesicca menghampiri Maura yang tengah berbaur dengan para tamu di sana. "Ma!" sapa Jesicca kepada Maura yang berhasil membuat para tamu tercengang saat mendengar panggil itu.
Mereka bertanya-tanya kenapa Jesicca bisa memanggil Maura dengan sebutan 'Mama'.
"Hai, Sayang. Mama dari tadi cariin kamu loh. Oiya kalian pasti bingung kenapa dia memanggil saya dengan sebutan 'Mama." Jesicca ini kakak dari istrinya Kenan. Saya mengenalnya juga sudah lama, dia wanita yang sangat baik. Jadi saya menyuruhnya untuk memanggil saya, mama. Saya sudah menganggap dia seperti anak saya sendiri." terang Maura menjelaskan kepada para tamu yang berkumpul dengannya.
"Wah, beruntung sekali Bu Maura memiliki menantu dan juga anak angkat yang cantik dan baik seperti mereka." ucap salah satu dari tamu tersebut. Mereka semua tampak menyukai sikap Jesicca yang terlihat sopan dan ramah.
Jesicca tersenyum menanggapi ucapan para tamu tersebut. Akhirnya Jesicca ikut berbaur dan berbincang-bincang dengan para tamu tersebut. Mereka terlihat sangat asik dengan apa yang mereka bicarakan. Hingga mereka lupa waktu yang ternyata saat itu jam telah menunjukkan pukul 12 malam.
Para tamu sudah banyak yang pulang dari acara pesta itu. Maura terlihat sangat bahagia karena acara pernikahan anaknya berjalan dengan sangat lancar dan mewah. Untuk saat ini Maura benar-benar sudah melupakan Khendrik yang masih berada di dalam sel.
Tanpa Maura sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip. "Om lihatin apa?" Edo bertanya kepada Niko yang sejak tadi tidak menatapnya, namun menatap ke arah lain. Tentu saja Edo tak terima dirinya di abaikan seperti itu.
"Om Niko mau apa lihatin istri saya, huh?" Edo sedikit meninggikan suaranya. Berhasil membuat fokus Niko menjadi buyar.
"Ck! Mengganggu saja, kamu pikir saya sedang menatap istrimu!" Niko menatap sinis, Edo.
"Lalu kalau bukan istri saya, Om Niko lihatin siapa? Di sana hanya istri saya yang paling cantik."
"Kata siapa? Masih ada yang jauh lebih cantik dari istri kamu!"
Melihat Niko yang tampak acuh kepadanya, Edo tidak jadi marah, ia menatap lagi ke arah Jesicca. Memperhatikan para tamu di sana. Kira-kira siapa yang ditatap oleh Niko? Edo sangat penasaran.
__ADS_1
Di sana Jesicca berkumpul dengan para tamu wanita, namun yang paling dekat dengan istrinya, hanya Maura. Jangan-jangan ...
Edo menatap Niko lalu menatap ke arah Maura. Berulang kali Edo menatap wajah mereka bergantian. Seketika sudut bibirnya terangkat, Edo yakin kalau Niko sedang memperhatikan Maura. Mungkin benar apa yang dikatakan Niko kalau dia tidak menatap Jesicca.
Akan tetapi Edo sedikit terganggu dengan ucapan Niko yang berkata bahwa masih ada wanita yang jauh lebih cantik di bandingkan istrinya. Masak iya Maura lebih cantik daripada Jesicca? dilihat dari mananya coba? Jelas-jelas Jesicca jauh lebih cantik dan jauh lebih muda dari Maura.
Cinta memang bisa membuat orang buta. Meskipun wanita sudah berkepala empat, namun di mata laki-laki yang sedang kasmaran maka dia akan terlihat cantik. Ya seperti Niko yang melihat Maura. Memang Maura masih terlihat cantik di usianya yang sudah memasuki kepala empat, tapi masih lebih cantik Jesicca lah.
"Ekhem! Sepertinya Bu Maura harus tahu deh kalau ada yang menatapnya secara diam-diam." Edo sengaja menyindir Niko dan menakut-nakutinya untuk melihat respon dari Niko.
Benar saja Niko langsung memalingkan wajahnya menatap nyalang ke arah Edo. "Maksud kamu apa? Saya tidak memperhatikan Bu Maura. Jadi jangan sembarangan bicara."
"Wah, kenapa Om Niko jadi marah? Memangnya saya berkata kalau Om lagi memperhatikan Bu Maura? Tidak 'kan? Itu sih kalau Om merasa!"
Niko mendadak bungkam dengan ucapan Edo. Benar juga, kenapa dirinya harus marah, padahal Edo tidak mengatakan bahwa dirinya tengah menatap Maura. Sial! Kenapa juga Niko harus terpancing dengan ucapan Edo. Kalau begini dirinya sendiri yang malu.
Edo merasa puas sudah membuat Niko bungkam. "Kalau cinta perjuangkan, Om. Pepet terus! Lagi pula sebentar lagi Bu Maura akan menyandang gelar janda. Semangat Om!" Setelah mengatakan itu, Edo langsung lari. Takut kena semprot oleh Niko.
Niko sangat kesal karena Edo sudah mengetahui perasaannya terhadap Maura. Namun mengingat kata 'janda' entah mengapa hati Niko jadi berbunga-bunga. Itu artinya setelah ini masih ada peluang untuk dirinya bisa mendapatkan cinta Maura.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ๐๐๐
__ADS_1