Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 95. Karunia Terindah.


__ADS_3

Happy Reading🥰


Niko mendatangi rumah Maura untuk menyerahkan surat cerai yang sudah di tandatangani oleh Khendrik. Niko masih terbayang dengan wajah sedih Khendrik saat menandatangani surat cerai itu.


Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Khendrik tidak bisa mempertahankan hubungan rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk. Apalagi Maura sudah bersikeras untuk bercerai dengan Khendrik.


Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu akhirnya Maura membukakan pintu rumahnya. "Silahkan masuk, Nik." Maura tersenyum menatap Niko.


Niko dan Maura duduk di ruang tengah. Tak ingin berbasa-basi Niko langsung berbicara ke intinya. "Pak Khendrik sudah menandakan surat perceraian kalian." Niko menyerahkan surat cerai itu kepada Maura.


Dada Maura terasa sesak melihat surat cerai yang sudah di bumbuhi dengan tanda tangan Khendrik dan juga dirinya. Itu artinya mereka telah resmi bercerai. 26 tahun hidup bersama bukanlah waktu yang singkat. Rumah tangga yang Maura harapkan tetap utuh kini telah hancur.


Tak terasa Maura menitikkan air mata. Ia masih sedih dengan nasih rumah tangganya. Niko paham dengan apa yang di rasakan oleh Maura. Ia membiarkan Maura menumpahkan air matanya supaya dia bisa sedikit lega.


"Menangislah, jika itu bisa membuatmu tenang." Niko berpindah duduk hingga berada di samping Maura. Ia menyenderkan kepala Maura di dada bidangnya. Niko menjadi tempat bersandar bagi Maura. Sebenarnya Niko juga tidak tega melihat wanita yang dia cintai menangis di hadapannya.


Apalagi hanya untuk menangisi mantan suaminya. Namun Niko tak ingin egois, ia tahu bahwa Maura masih mencintai Khendrik. Niko akan berusaha untuk membuat Maura mencintai dirinya.


"Bagaimana keadaannya di sana? Apa dia baik-baik saja?" Maura menanyakan kabar Khendrik. Walau bagaimana pun Khendrik masih bertahta di hatinya. Meskipun suatu saat nama Khendrik akan tergantikan dengan nama Niko.


"Dia baik-baik saja. Tapi aku yakin batinnya sangat tersiksa. Dia juga menitipkan salam permintaan maafnya kepadamu."


"Aku sudah memaafkannya, namun tidak dengan perbuatannya."


"Aku paham! Pasti sangat sulit untuk melupakan apa yang sudah Khendrik perbuat. Dengarlah! Aku yakin Khendrik sudah berubah, aku bisa melihat perubahan itu. Jadi, aku harap suatu saat kamu bisa menjenguknya ke sana agar Khendrik merasa lega bisa bertatap muka lagi dengan kamu."


"Akan aku usahakan. Aku tidak membencinya, Niko. Hanya saja hatiku terlanjur kecewa."


"Sudahlah! Lebih baik kamu mempersiapkan diri kamu. Karena sebentar lagi aku akan menikahi mu."


"Niko!" Maura membulat mata sempurna. Lagi-lagi Niko membuat dirinya jengah.


"Tidak ada penolakan, Maura! Aku hanya perlu restu dari anak kamu yang sebentar lagi akan menjadi anakku juga."

__ADS_1


Wajah Maura bersemu merah. Ia sudah seperti anak gadis yang akan dilamar oleh kekasihnya. Perkataan Niko membuat jantungnya berdebar. Bagaimana mungkin di hatinya bertahta dua nama pria. Segila itukah dirinya? Salahkah Maura jika yang dia inginkan hanya kebahagiaan.


Katakanlah Maura egois. Dia ingin hidup bahagia bersama dengan Niko, dan menghadirkan rasa cinta di hatinya tanpa menghapus terlebih dahulu nama Khendrik di sana.


Dibalik kehancuran rumah tangganya ada kebahagiaan yang sedang menanti dirinya. Maura sangat beruntung bisa di cintai oleh laki-laki seperti Niko. 26 tahun Niko mencintai dalam diam, hidup melajang tanpa mau mengenal cinta hanya karena Maura.


Meskipun Niko berada di luar negeri, namun sedikitpun dia tidak pernah tergoda dengan wanita di luar sana. Niko tipikal laki-laki yang setia, jika tidak maka dengan senang hati ia menerima para wanita yang dengan sengaja menawarkan tubuhnya agar bisa tidur bersama bersamanya.


...----------------...


Di Cafe Rindu.


Edo tengah khawatir melihat sang istri sejak tadi bolak-balik ke kamar mandi. Wajah Jesicca terlihat sangat pucat. Ia memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya.


Huek ... Huek ...


Jesicca terus memuntahkan isi perutnya di wastafel. Hingga hanya cairan kuning yang keluar dari dalam mulutnya. Tabuh Jesicca lunglai, tenaganya benar-benar terkuras habis.


Edo dengan sigap menangkap tubuh sang istri yang akan jatuh ke atas lantai. "Sayang! Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang."


"Gak apa-apa bagaimana! Wajah kamu sangat pucat. Menurut lah, Sayang." Edo mengangkat tubuh Jesicca menggunakan kedua tangannya. Membawanya memasuki mobil dan menuju ke rumah sakit.


Edo tidak menghiraukan tatapan penuh tanda tanya dari pada karyawan dan orang-orang di cafe itu. Edo hanya berpesan kepada Mita, salah satu karyawan cafe yang sangat ia percayai agar menjaga cafe selama Edo ke luar.


Jesicca memejamkan matanya dengan kepala yang bersender ke kursi mobil. Jesicca sudah tak mampu untuk sekedar berbicara. Tulang-tulang di tubuhnya serasa ingin copot. Perutnya seakan melilit, dan terus bergejolak ingin di keluarkan.


"Sayang, kamu masih sadar 'kan?" Edo terlihat sangat panik. Dia tidak terlalu fokus dalam menyetir mobil sebab terus mengkhawatirkan keadaan sang istri.


"Hem." Jesicca hanya menggumam pelan.


Edo menambah kecepatan laju mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil yang di kendari oleh Edo dan Jesicca telah tiba di depan rumah sakit. Edo langsung membawa Jesicca ke ruang UGD, di sana sudah ada tim medis yang menunggu.


"Tolong periksa istri saya, Dok." ucap Edo kepada seorang dokter laki-laki yang berada di sana.

__ADS_1


"Baik, Pak. Silahkan tunggu di luar." Dokter itu langsung memeriksa keadaan Jesicca. Sedangkan Edo dengan setia menunggu Jesicca di depan ruang UGD.


Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Jesicca keluar dari dalam ruangan UGD. Edo dengan sigap menghampirinya guna menanyakan keadaan sang istri.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia sakit apa?" tanya Edo dengan nada khawatir.


"Tenang Pak. Tidak ada yang serius dengan keadaan pasien, dan hal itu sangat wajar di alami oleh ibu hamil."


"A-apa! Istri saya hamil, Dok?" Edo sangat terkejut dengan kabar yang ia dengar. jantungnya sudah berdebar saat mendengar kata 'hamil'.


"Iya, Pak. Istri tengah hamil. Selamat ya Pak." Dokter itu mengulurkan tangannya sebagai ucapan selamat.


Edo menyambut uluran tangan itu dengan wajah yang berseri. Ia sangat bahagia dengan kabar itu. "Terimakasih, Dok. Apakah saya boleh menemui istri saya di dalam?"


"Oh, silahkan Pak." Dokter itu menggeser tubuhnya, memberikan jalan kepada Edo untuk memasuki ruangan.


Edo menghujani Jesicca dengan kecupan di seluruh wajahnya. "Makasih, Sayang. Makasih banyak. Cup! Cup! Cup!"


"Makasih buat apa, Mas?" Jesicca menatap heran kepada sang suami.


"Di dalam sini ada anak kita, Sayang."


Jesicca membulatkan kedua matanya, ia benar-benar tak menyangka bahwa dirinya akan secepat ini, hamil. Apalagi dia baru saja mengalami keguguran. Jesicca menitikkan air mata kebahagiaan.


"Kamu gak bohong 'kan, Mas?"


"Tentu saja tidak, Sayang. Untuk apa aku berbohong. Ini adalah kabar yang paling bahagia, Mama sama Papa harus tahu kabar ini."


"Aku sangat senang, Mas. Akhirnya aku bisa hamil lagi, dan itu adalah anak aku dan kamu."


"Aku pun lebih senang dan bahagia, Sayang." Edo merengkuh tubuh Jesicca di dalam pelukannya. Apa yang Edo harapkan akhirnya menjadi kenyataan. Sungguh Tuhan sangat bermurah hati sudah memberikan karunia terindah dalam hidupnya. Kehadiran anak yang akan menjadi pelengkap dalam hubungan rumah tangganya bersama sang istri tercinta. Edo berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu menjaga dan membahagiakan istri serta anaknya kelak.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘😘


__ADS_2