
Happy Reading 🥰
Malam ini, Kenan bermalam di kediaman orang tuanya. Kenan akan mencoba untuk berbicara secara baik-baik kepada mamanya mengenai kebohongan sang papa. Kenan tidak mau mamanya terus-menerus disakiti oleh Khendrik.
"Kenan! Tumben pulang ke sini?" tanya Maura saat melihat Kenan yang tiba-tiba duduk di ruang makan.
"Memangnya kenapa? Apa mama tidak suka kalau aku pulang?"
"Bukan begitu sayang, mama 'kan cuma nanya, lagian biasanya kamu lebih suka tinggal di apartemen mu."
"Ya sekali-kali aku pengen pulang juga lah. Apa mama tidak merindukan anakmu yang tampan ini."
"Tumben banyak ngomong? Pasti ada sesuatu nih, apa kamu sedang jatuh cinta?" tebak Maura. Ia memang sangat faham dengan sikap Kenan. Apalagi Kenan orangnya irit bicara, namun sekarang bicaranya malah panjang-lebar. Pasti sudah ada yanb merubah sifat es nya.
Kenan mendengus kesal, saat tebakan mamanya tepat sasaran. Namun ia masih belum siap memperkenalkan Liora kepada mamanya. Apalagi ada Khendrik di rumah, pasti dia akan mencari kesempatan untuk bisa mendekati Liora. Ah, Kenan tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Papa kemana Ma?" tanya Kenan mengalihkan pembicaraan.
"Paling masih lembur di kantor. Bagaimana keadaan perusahaan setelah kamu yang mengelolanya?"
"Semuanya lancar Ma, malah perusahaan semakin maju saat aku yang memimpin."
"Wah, bagus sekali Ken. Mama bangga sama kamu."
Maura mengusap pelan kepala sang putra, ia sangat menyayangi putra semata wayangnya. Entah mengapa saat melihat Kenan yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan, Maura sudah tidak sabar ingin memiliki seorang menantu di rumahnya.
Khendrik memasuki rumah dengan langkah gontai, ia sepertinya sangat lelah. Atensinya tertuju ke arah Kenan yang duduk di ruang makan. Khendrik langsung menunjukkan tatapan tidak sukanya terhadap sang putra.
__ADS_1
Kenan yang menyadari tatapan sang papa, ia hanya tersenyum miring, seolah sedang mengejek papanya yang dia anggap telah kalah saing dalam mendapatkan cinta Liora.
"Papa sudah pulang? Tumben mama gak dengar suara mobil Papa. Papa pulang naik apa?" tanya Maura beruntun.
"Eum ... I-itu, mobil papa ban nya bocor, jadi papa titip di bengkel. Papa pulang naik taksi," jawab Khendrik gugup.
Kenan merasa curiga dengan tingkah papanya. Gelagat Khendrik benar-benar mencurigakan di mata Kenan. Tidak seperti biasanya sang papa meninggal 'kan mobilnya di bengkel. Apalagi hari sudah malam, pasti Khendrik akan meminta supirnya untuk menjemput dirinya ke kantor. Sedangkan mobil yang katanya ban nya bocor, akan di perbaiki ke esokan harinya.
Ah, Kenan tidak ingin pusing memikirkan hal yang tak jelas itu. Lebih baik, dia memulai aksinya untuk menas-manasi sang papa. Untuk rencananya yang ingin membongkar kebusukan sang papa, ia undur dulu.
"Khem! Ma, Pa, duduk lah. Ada yang ingin aku bicarakan sama kalian," ucap Kenan serius.
Khendrik dan Maura menuruti perintah sang putra untuk duduk. "Ada apa sayang, hum?" tanya Maura penasaran. Sedangkan Khendrik hanya diam di tempatnya tak ingin bertanya apa pun terhadap sang putra yang ia anggap sebagai rivalnya.
"Sepertinya Kenan akan menikah dalam waktu yang cepat," ucap Kenan to the poin.
Khendrik merasa dag-dig-dug, ia takut dugaannya benar. "Ah, tidak! Kenan tidak mungkin akan menikahi Liora. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." gugam Khendrik di dalam hatinya.
"Namanya LIORA, Ma. Dia wanita yang sangat baik, aku yakin Mama pasti menyukainya," Kenan menekan kata-katanya saat menyebut nama Liora. Ekor matanya melirik ke arah sang papa yang tampak mengepalkan tangan, karena menahan amarah.
Khendrik membulatkan mata saat mendengar nama calon istri Kenan. Darahnya seakan mendidih karena tidak terima wanita yang ia cintai akan di nikahi oleh anaknya sendiri. Tangannya terkepal sempurna, rahangnya mengeras, dan bola matanya memerah.
Awalnya Kenan tidak ingin memberitahukan mamanya terlebih dahulu mengenai Liora. Karena ia takut sang papa akan macam-macam. Namun, saat melihat sikap papanya yang dingin terhadapnya, membuat pikiran Kenan berubah. Ia malah terang-tetangan berkata akan menikahi Liora di depan kedua orang tuanya.
Kenan sangat puas melihat ekspresi papanya yang menahan amarah. Kenan menatap remeh kepada Khendrik.
"Wah, mama gak sabar ingin bertemu dengannya. Secepatnya kamu harus bawa dia kesini ya Ken." Maura merasa sangat senang karena Kenan akan segera menikah.
__ADS_1
"Mama tenang saja, aku akan segera membawa dia ke sini untuk berkenalan dengan Mama. Tapi, Mama harus pastikan akan memberikan restu untuk aku dan Liora."
"Kamu tenang saja sayang, mama sama papa akan selalu mendukung keputusanmu. Mama yakin, kamu tidak akan salah memilih calon istri. Iya 'kan Pa?" Maura menatap sang suami, seolah meminta pendapat darinya.
"I-iya Ma," jawab Khendrik singkat. Ingin rasanya dia menjawab TIDAK AKAN MEMBERIKAN RESTU KEPADA KENAN DAN LIORA. Namun, ia takut Maura merasa curiga jika dirinya mengatakan hal itu.
"Tuh 'kan, Papa kamu juga setuju." Maura tersenyum manis kepada Kenan.
Kenan tersenyum puas, karena berhasil membuat sang papa kepanasan. Ia yakin, papanya tidak akan bisa tidur malam ini, karena memikirkan tentang pernikahan dirinya bersama Liora.
"Baiklah, kalau begitu aku istirahat duluan. Soalnya aku sangat lelah, akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu bersama dengan Liora." ucap Kenan sengaja untuk memancing emosi sang papa.
"Jangan kurang ajar kamu Kenan! Pacaran sewajarnya saja, jangan sampai kamu melakukan hal terlarang." Khendrik tiba-tiba marah saat mendengar ucapan Kenan.
"Cih! Dasar Papa tidak tahu diri. Berani mengajariku hal begitu, tapi dirinya sendiri jauh lebih buruk." gerutu Kenan dalam hati.
"Pa, sudahlah. Mama yakin Kenan tidak akan melakukan hal seperti itu. Putra kita adalah laki-laki yang baik dan selalu menghormati wanita," ujar Maura menyela ucapan Khendrik.
Kenan merasa bersalah saat mendengar penuturan sang mama. "Maafin aku Ma, aku tidak sebaik yang mama kira. Justru aku telah menjadi laki-laki jahat, yang telah melecehkan seorang wanita yang tak berdosa, dengan cara paling menjijikkan." sesal Kenan dalam hati.
Kenan langsung pergi menuju ke kamarnya. Ia tak ingin berlama-lama menatap sang papa. Dulu Kenan sangat mengagumi papanya karena sangat mencintai sang mama. Namun, sekarang berbanding terbalik, Kenan Justru sangat membenci Khendrik.
Khendrik masih menatap kesal kepada Kenan. Maura yang melihat itu merasa curiga terhadap suaminya dan Kenan. "Kenapa aku merasa kalau Khendrik dan Kenan tengah ada masalah. Mereka terlihat seperti musuh saja, bukan seperti ayah dan anak." batin Maura bingung. "Ah, sudahlah, aku tidak boleh berfikiran buruk. Gak mungkin Khendrik dan Kenan bermusuhan. Lagi pula apa yang membuat mereka bermusuhan? Aku rasa tidak ada." imbuhnya meyakinkan.
...----------------...
Lopyu pull untuk kalian para readers yang masih setia membaca novel ku😘😘😘😘
__ADS_1