Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 108. Kata Dokter.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Liora terlihat sangat cemas. Ia mondar-mandir di ruang tengah layaknya setrikaan. Kenan yang melihat itu jadi khawatir. "Sayang, duduk ya. Apa kamu tidak capek seperti itu terus, hum?"


"Aku takut, Ken." Liora berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Apa yang kamu takutkan, Sayang?"


"Aku takut bayi kita--"


"Shuut! Duduklah!" Kenan menuntun Liora agar duduk di sofa ruang tengah. "Kamu ingat 'kan dengan penjelasan dokter? Hari perkiraan lahir terkadang bisa maju dan juga bisa mundur dari waktu yang di tentukan. Jadi, kamu tidak udah takut. Sekarang ini usia kehamilan kamu masih memasuki minggu ke 41. Bukankah sejak awal kamu yang selalu berkata seperti itu sama aku, ketika aku tidak sabar ingin melihat anak kita lahir kedunia. Tapi, kenapa sekarang malah kamu yang takut?" cecar Kenan panjang-lebar.


Ya, Liora merasa cemas karena sampai saat ini dia belum juga melahirkan. Padahal Lio, anak Jesicca sudah berumur 2 minggu. Namun Liora masih belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Awalnya Kenan memberikan saran kepada Liora, agar Liora di cecar saja jika masih takut tidak bisa melahirkan. Namun, Liora menolak keras usulan itu. Ia ingin lahir normal seperti kakaknya.


Liora sangat takut kalau bagian perutnya harus dilukai. Meskipun Kenan tidak akan membiarkan dirinya kesakitan dengan memberikan pelayanan terbaik di rumah sakit nanti. Namun Liora juga ingin merasakan lahir normal. Rasanya akan lebih sempurna jika dirinya bisa melalui proses lahir normal. Proses penyembuhannya pun lebih cepat.


Bukannya Liora berspekulasi bahwa lahir cecar itu tidak sempurna, hanya saja setiap wanita mempunyai keinginannya masing-masing dalam proses melahirkan. Jadi, inilah keinginan dan pilihan Liora.


Dokter spesialis kandungan sudah mewanti-wanti agar Liora tidak terlalu cemas yang akhirnya akan menyebabkan stres. Hal itu juga berpengaruh terhadap kesehatan janin, bahkan akan mempengaruhi proses persalinan. Jika Liora terlalu banyak fikiran, kemungkinan besar akan menghambat proses persalinan.


"Huf! Aku hanya tidak sabar, Ken. Ingin segera melahirkan."


"Aku pun tidak sabar. Tapi mau bagaimana lagi, kita hanya bisa pasrah dan menunggu sampai anak kita ingin keluar dengan sendirinya."


"Hem, ya udah deh. Aku pasrah aja."


"Gitu dong. Oiya, kamu masih ingat 'kan apa kata dokter? Kita bisa membuat bayi cepat lahir, dengan cara merangsangnya melalui permainan tanam-tanaman." Kenan menatap Liora dengan tatapan lapar.

__ADS_1


Kenan tidak pernah bosan, bahkan tidak pernah absen dalam sehari untuk tidak bermain tanam-tanaman. Malahan sejak usia kehamilan Liora semakin membesar, libi**nya semakin tinggi. Menurut Kenan, Liora terlihat sangat seksi dengan perut membesar. Karena itu Kenan ingin terus memakannya.


Liora yang mengerti dengan maksud Kenan hanya bisa pasrah. Dia sudah hafal betul dengan trik modus dari Kenan yang selalu beralasan dengan kata dokter. Hingga akhirnya mau tidak mau Liora harus menuruti keinginan Kenan. Bahkan Kenan tidak kehabisan akal dalam mencari gaya yang nyaman untuk ibu hamil.


Buktinya, Liora selalu terbuai dengan permainan Kenan. Yang awalnya menolak, akhirnya Liora yang tidak ingin berhenti saat bermain. Bukankah itu sangat memalukan? Tidak! Kata siapa itu memalukan! Itu memang tugas istri melayani suami! Jadi Liora tidak merasa malu, selama dia melakukan hal itu dengan Kenan.


Apalagi hormon ibu hamil yang membuat Liora semakin sensitif. Mendapatkan sentuhan sedikit saja dari Kenan, pasti tubuh Liora akan merespon dengan cepat. Bahkan Liora tidak akan segan untuk mengeluarkan suara merdunya saat men-de-sah. Sehingga membuat Kenan semakin bersemangat untuk membajak sawah, Liora.


Kenan mulai memberikan sentuhan ringan kepada tubuh Liora. Kenan sudah tidak sabar ingin mengobrak-abrik sawah Liora menggunakan terong jumbo nya yang sudah berdiri tegak sejak tadi. Kenan me-lu-mat habis bibir Liora dengan rakus. Tangannya bergerilya kemana-mana.


Membuat tubuh Liora menjadi meremang. Kenan selalu bisa membuat dirinya melayang dengan sentuhannya. "Aahh!" Sebuah de-sa-han lolos dari bibir Liora. Membuat Kenan semakin gencar untuk segera bermain tanam-tanaman.


Setelah di rasa cukup melakukan foreplay, Kenan melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya. Sedangkan pakaian Liora sudah berserakan di atas lantai akibat perbuatan Kenan.


Kenan mendudukkan Liora di atas pangkuannya. Saat akan memasukkan terongnya ke lembah surgawi itu, tiba-tiba Liora menghentikannya.


"Tunggu, Ken!" Liora memegang tangan Kenan yang sudah mengarahkan terongnya.


"Kamu yakin, akan bermain di sini?"


"Memangnya kenapa?"


"Tapi, ini di ruang tamu loh, Ken. Bagaimana kalau nanti--"


Jleb!


Aahh!

__ADS_1


Kenan tidak mengindahkan pertanyaan dari Liora. Ia langsung memasukkan terongnya ke goa milik Liora. Yang membuat Liora seketika bungkam, dan bergantikan dengan suara de-sa-han.


Kenan memegang pinggul Liora untuk membantu pergerakannya. Supaya Liora tidak kesusahan bergerak di atas tubuhnya. Kenan duduk dengan sedikit bersandar ke sandaran sofa. Sebab ia tidak ingin menyakiti anaknya yang masih berada di dalam kandungan Liora.


Aahh! Aahh!


Liora! Sayang!


Kenan! Aahh!


Suara erotis saling bersahutan dan menggema di ruangan itu. De-sa-han Liora terdengar sangat seksi di telinga Kenan. Hingga Kenan me-lu-mat habis bibir itu. Kenan merasa miliknya seperti di re-ma-s-re-ma-s. Membuatnya menge**ng merasakan nik*** yang tiada tara.


Liora merasakan miliknya penuh dengan terong jumbo itu. Rasanya seperti mengenai dinding rahimnya. Mungkin karena terong jumbo milik Kenan bukan sekedar jumbo, tapi juga sangat panjang. Membuat Liora susah move on dari benda kesayangannya itu.


Kenan juga tidak bisa move on dari lembah surgawi milik Liora, yang selalu membuat dirinya kecanduan. Dimana pun Kenan berada, pasti di pikirannya selalu terbayang jepitan dari sawah Liora. Ingin rasanya Kenan membawa Liora kemanapun dirinya pergi, agar Kenan tidak merasa terganggu dengan pikiran kotornya.


Ough! Liora!


Aahh! Kenan!


Mereka berdua sama-sama menge**ng saat merasakan pe-le-pa-san. Hingga sesuatu yang hangat terasa membanjiri milik mereka berdua. Kenan mendekap tubuh Liora agar tidak ambruk ke atas tubuhnya. Kasian bayi mereka pasti akan kesulitan bernafas jika Liora tengkurap.


Nafas keduanya tersengal-sengal, dengan keringat yang tampak mengkilap di tubuh mereka. Mereka tidak sadar bahwa di depan rumah tengah ada tamu yang ingin berkunjung, namun tidak jadi karena mendengar suara erotis mereka.


"Sayang, mereka lagi main tanam-tanaman. Jangan di ganggu. Lebih baik kita pulang saja, dan juga bisa bermain tanam-tanaman seperti mereka."


"Niko!" Maura memelototkan kedua matanya kepada Niko. Maura berniat memberikan spagetti buatannya kepada Liora dan Kenan. Namun saat berada di ambang pintu, mereka di kagetkan dengan suara lucknut dari dalam rumah. Akhirnya Maura mengurungkan niatnya itu, dan memilih pulang ke rumah.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tekan like, dan tingalkan jejak di kolom komentar 😘


__ADS_2