
Happy Reading 🥰
Khendrik merasa tidak asing dengan jalan yang menuju ke rumah Liora. Apalagi Liora menunjukkan rumah dirinya yang Khendrik ketahui adalah rumah Jessica.
"Itu rumah kamu?" Khendrik bertanya dengan sangat penasaran.
"Iya Pak. Anda mau mampir dulu?" Liora menawarkan Khendrik untuk singgah di rumahnya.
"Apa kamu sejak dulu tinggal disini? Dengan siapa kamu tinggal?" Khendrik terus menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
"Saya baru 2 minggu yang lalu pindah kesini pak. Saya membelinya dari seorang wanita cantik yang kebetulan mau pindah dari rumah ini." Liora memberikan alasan yang masuk akal kepada Khendrik. Ia ingin melihat reaksi Khendrik saat dirinya berada di rumah yang sama dengan rumah Jessica.
"Oh ..., jadi begitu. Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu. Maaf saya tidak bisa mampir, istri saya pasti sudah menunggu di rumah," tutur Khendrik. Setelah itu ia langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Khendrik sempat mengira jika Liora adalah keluarganya Jessica, tapi ternyata dugaannya salah. Informasi dari orang suruhannya semuanya benar, jika rumah itu sudah dijual.
Setelah kepergian Khendrik, Liora langsung memesan taksi online untuk pulang ke rumah barunya. Ia yakin Jessica pasti sudah menunggunya. Liora memang sengaja minta diantar pulang ke rumah yang lama, agar Khendrik teringat dengan Jessica. Karena ia yakin, kalau Khendrik pasti sudah tahu alamat Jessica yang dulu dan berusaha mencarinya.
Liora sampai di rumah tepat jam 5 sore. Ia langsung menuju ke kamar kakaknya, untuk memberikan kabar bahwa dia sudah diterima sebagai sekertaris di perusahaan Khendrik.
Saat akan membuka pintu kamar, Liora mendengar suara isak tangis dari dalam. Ia membuka sedikit pintu itu, untuk mengintip sang kakak. Terlihat Jessica yang duduk di sisi ranjang dengan keadaan menangis, tangannya memegang sebuah figura.
Hiks ... Hiks ...
"Ma, Pa. Maafin Jessica yang sudah mengecewakan kalian. Aku sudah gagal menjadi wanita yang utuh dan seorang kakak yang baik untuk Liora. Masa depanku hancur gara-gara pria itu. Mungkin setelah ini, tidak akan ada laki-laki manapun yang akan menerima aku sebagai istrinya." Jesicca menumpahkan keluh kesahnya kepada foto mama dan papanya.
Tangan Liora terkepal, saat mendengar penuturan sang kakak. Sungguh hatinya teriris, tak sanggup melihat Jessica terus bersedih. Yang setiap bersama dengannya akan bersikap baik-baik saja. Namun ternyata hatinya sangat rapuh.
Liora berjanji, akan membalas 'kan dendam sang kakak, bagaimanapun caranya. Liora menutup kembali pintu kamar Jessica dengan pelan, agar Jessica tidak menyadari kehadirannya. Liora memilih pergi ke kemar miliknya, dan membersihkan diri.
__ADS_1
Liora menuju ke dapur, disana sudah ada Jessica yang sedang memasak untuk makan malam nanti. Liora membantu kakaknya agar masakannya cepat tersaji di meja makan.
"Gimana Li, apakah kamu sudah diterima bekerja?" Jessica bertanya kepada Liora, tapi netranya tetap fokus ke arah wajan yang berada di atas kompor. Di dalamnya terisi dengan tumis kangkung.
"Semuanya lancar Kak. Aku diterima bekerja disana. Tadi aku juga langsung mulai bekerja," ucap Liora tersenyum. Ia mengambil mangkok untuk dijadikan wadah tumis kangkung yang dimasak oleh Jessica.
Semua masakan telah selesai dan tertata rapi di atas meja ruang makan. Jessica dan Liora langsung duduk disana, mereka tidak langsung makan. Melainkan sedang menunggu seseorang yang akan ikut bergabung bersama mereka.
"Kak Edo kapan sampainya ya? Aku sudah lapar kak," rengek Liora kepada sang kakak.
"Sebentar lagi dia sampai kok."
"Ah, kak Edo pasti sengaja deh buat aku nunggu lama."
"Ck ... Ck ..., kau ini, mana mungkin Edo seperti itu. Palingan dia terkena macet di jalan."
"Huh!" Liora mendengus kesal mendengar Jesicca membela Edo. Ia memang sangat lapar, karena tadi siang hanya makan sedikit karena pura-pura sakit.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Edo merasa bersalah.
"Sangat lama, aku tuh udah lapar banget kak Edo." Liora langsung nyerocos dengan bibir yang ditekuk.
"Sudahlah jangan dengarkan dia, Ed. Kamu tahu sendiri 'kan, jika Liora memang pandai berdrama," ucap Jessica dengan nada meledek. Edo hanya cengengesan mendengar kakak beradik itu adu argumen.
Edo langsung duduk disana, saat akan mengambil piring untuk di isi dengan nasi. Namun keduluan oleh Jessica yang langsung menyodorkan nasi ke hadapannya, yang sudah lengkap dengan lauk kesukaan Edo.
Edo tersenyum simpul mendapatkan perlakuan manis dari Jesicca. Ia sangat berharap, bisa setiap hari dilayani saat makan. Ingin memperistri Jesicca secepat mungkin. Tapi dia harus meyakinkan Jesicca atas cintanya.
Setelah selesai makan, mereka bertiga mengobrol bersama di ruang keluarga. Rumah yang di tempati oleh Jessica dan Liora tidak terlalu besar, hanya ada satu lantai. Berbeda dengan rumah peninggalan kedua orang tuanya, rumah minimalis namun sangat luas di dalam, yang terdiri dari dua lantai.
__ADS_1
Di rumah yang baru, ada tiga kamar disana. Kamar utama di tempati oleh Jessica, sedangkan Liora menempati kamar di sebelahnya. Dan satu kamar lagi khusus tamu yang berkunjung kesana.
Di rumah Khendrik.
Khendrik sedang melamun di balkon kamar. Pikirannya kembali berputar tentang kejadian bersama Jessica. Ia harus menemukan keberadaan Jessica, dan menyelesaikan semuanya. Jesicca hilang bak ditelan bumi. Uang pesangon dari kantor pun tidak Jessica ambil.
"Pa, papa melamun?" Maura menepuk pelan pundak suaminya, karena tidak merespon saat ia berbicara. Sejak tadi Maura sudah memanggil suaminya, namun tak mendapatkan jawaban.
"Oh, eh, eung ..., kenapa Ma?" tanya Khendrik gelapan.
"Astaga, Papa lagi mikirin apa? Kenapa melamun disini?"
"Tidak ada, Papa hanya memikirkan keadaan Kenan, karena anak itu sudah lama tidak pulang," jawab Khendrik beralibi. Tidak mungkin dia jujur tentang apa yang dia pikirkan.
"Beneran? Papa gak bohong 'kan?" Maura nampak tak percaya dengan jawaban Khendrik. Karena tidak biasanya Khendrik melamun. Apalagi bukan cuma satu kali ia mendapati Khendrik sedang melamun. Tapi sudah beberapa kali sejak 2 minggu terakhir.
"Beneran sayang, papa gak mungkin bohong sama istri tercinta papa," ucap Khendrik tersenyum lembut, untuk membuat sang istri percaya. "Lebih baik kita tidur, ini sudah malam sayang." Khendrik langsung menggandeng tangan Maura menuju tempat tidur.
Maura tak ingin mencurigai Khendrik, karena ia percaya bahwa Khendrik tidak mungkin membohonginya. Selama ini Khendrik selalu jujur, meskipun itu hal kecil. Karena itu Maura sangat mencintai suaminya, yang selalu setia dan menyayangi dirinya.
...----------------...
**Terimakasih yang sudah mampir dan baca karyaku 🥰
Semoga kalian betah dan suka dengan ceritanya😘😘.
Jangan lupa tekan like, komen, dan giftnya ya😘😘😘
Authornya sedikit maksa🤣🤣🤣
__ADS_1
Lophe-Lophe se kebon cabe🌶🌶🌶**