Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 7. Perasaan Edo yang sesungguhnya


__ADS_3

Happy Reading🥰


Di dalam mobil, yang dikendarai oleh Edo dan Jesicca. Mereka sedang menuju ke bengkel tempat mobil Jesicca berada. Edo menyetir dengan sesekali mencuri pandang ke arah Jesicca, yang sedang memainkan ponselnya. Memang benar kata pepatah. "Tidak ada pertemanan yang murni di antara laki-laki dan perempuan! Pasti salah satu di antara keduanya akan memiliki sebuah rasa yang lebih dari sekedar teman." Begitu juga yang dirasakan oleh Edo. Selama ini ia memang menyukai Jesicca lebih dari sekedar teman. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, disaat Jesicca bekerja di perusahaan Khendrik, tepat 1 tahun yang lalu.


Edo lebih memilih untuk tidak mengungkapkan perasaannya kepada Jesicca. Bukannya dia takut Jesicca akan menolaknya. Tapi ia takut akan ditinggal pergi oleh Jesicca. Karena Jesicca selalu mengatakan suatu hal. "Jangan sampai ada kata cinta di antara kita. karena aku tidak ingin merusak pertemanan kita suatu saat nanti. Aku tidak menjamin hubungan sepasang kekasih akan berjalan mulus tanpa ada suatu konflik di dalamnya. karena itu, tolong jaga baik-baik hati kita, agar tidak menimbulkan rasa cinta. Aku sangat takut kehilangan kamu Ed. karena hanya kamu teman satu-satunya di luar rumah, selain Liora." ucapan Jesicca selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


Bukan cuma satu kali Jesicca mengatakan itu, tapi sudah berkali-kali. Apalagi setelah mendengar para karyawan kantor yang kerap kali menjodohkan mereka. Jesicca selalu memperingatinya, agar tahu batasan dalam pertemanan mereka.


"Edo! Jangan melamun! Lihat jalannya!" teriak Jesicca disaat mobil yang ia tumpangi salah memilih jalur jalan. Karena sedari tadi Edo tidak merespon ucapannya, maka terpaksa ia berteriak hingga Edo sadar dari lamunannya. Entah apa yang Edo pikirkan, kenapa sampai tidak fokus dalam menyetir. Padahal itu sangat berbahaya, jika ada kendaraan lain lewat dari arah berlawanan, maka sudah di pastikan mobil yang ia tumpangi habis di tabrak lawan.


"Kamu mikirin apa sih Ed?" tanya Jesicca dengan nada kesal.


"Maaf, tadi aku kepikiran sama data keuangan di kantor. Soalnya ada sedikit masalah," terpaksa Edo harus berbohong daripada dia menjawab jujur, tapi Jesicca malah turun di jalan.


"Hem ..., lain kali jangan melamun disaat sedang menyetir. Bahaya Ed, kita itu hanya mempunyai satu nyawa. Jika kita kecelakaan dan meninggal, gak mungkin kita bisa hidup lagi," kesal Jesicca menasehati Edo.


"Siap Nyonya, laksanakan!" Edo memberikan hormat, layaknya tentara yang memberikan hormat kepada komandannya. Ia mengucapkan dengan tersenyum lebar dan menampilkan deretan gigi putihnya. Tampan! satu kata yang pantas diucapkan untuknya.

__ADS_1


"Ish, kau ini, selalu saja bercanda. Aku tuh serius Ed." Jesicca mencebikkan bibirnya karena merasa kesal dengan jawaban Edo yang terkesan bercanda. Edo hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman, tangannya terulur untuk mengelus kepala Jesicca dan mengacak rambutnya pelan. Ia merasa gemas dengan sikap Jesicca yang menunjukkan rasa perhatian kepadanya.


Jesicca yang mendapatkan perlakuan seperti itu, hanya diam saja. Tidak dipungkiri bahwa hatinya menghangat kala merasakan sentuhan lembut dari Edo. Dia selalu merasa nyaman saat berdekatan dengannya. Mungkin karena ia sudah menganggap Edo seperti Kakaknya sendiri. Ia tidak ingin mengartikan perasaan nyamannya dengan sebuah rasa yang tidak wajar. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah mencintai Edo sebagai sepasang kekasih.


Tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di bengkel tempat mobil Jesicca berada. "Mas, mobil saya sudah selesai di perbaiki?" Jesicca bertanya kepada salah satu Karyawan di bengkel itu.


"Sudah Bu, silahkan kebagian pembayaran ya bu. Saya akan mengeluarkan mobilnya dulu," ucap karyawan itu dan melangkah pergi menuju ke dalam bengkel untuk mengeluarkan mobil Jesicca yang memang sudah selesai di perbaiki sejak tadi pagi.


Setelah dari bengkel, Jesicca pulang sendiri tanpa di antar oleh Edo. "Makasih ya Ed, sudah memberikan aku tumpangan," ucap Jesicca dengan tulus.


"Iya sama-sama Jes. Santai aja kali. ingat! Ini tidak gratis! Jangan lupa imbalannya," ucap Edo dengan penuh penekan, ia mengedipkan sebelah matanya.


...----------------...


Gemerlapnya Bintang, menghiasi Langit dengan susana malam yang pekat. Cahaya rembulan bersinar dengan terang. Seterang wajah cantik dua wanita yang sedang berdiri di balkon kamar. Mereka menengadahkan wajahnya menghadap langit. Menghirup udara segar di malam hari. Senyuman indah terpampang nyata di bibir keduanya. Melepaskan beban yang selama ini menghimpit relung hatinya. Merindukan sosok Ayah dan Ibu yang selalu menyayanginya. Tak terasa buliran bening mengalir membasahi pipi keduanya.


Kehilangan adalah satu hal yang sangat tidak diharapkan oleh semua orang. Apalagi kehilangan sosok orang yang sangat berarti dalam hidup kita.

__ADS_1


Yang selalu membuat hari-hari kita berwarna, memberikan kebahagiaan dan kasih sayang yang tiada batas. Setelah sosok itu pergi, maka hanyalah kesedihan dan penyesalan yang dirasakan. Sedih karena di masa yang akan datang tidak bisa bertemu kembali. Mungkin hanya di alam yang berbeda bisa menjumpai mereka. Menyesal karena disaat mereka masih ada, tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga yang bisa membahagiakan mereka.


"Apakah mereka bahagia disana? Sedangkan kita di sini sangat sedih dan sangat merindukan mereka," ucap Jessica dengan suara parau.


Mendengar penuturan sang Kakak, membuat Liora merasa sedih. Ia mendekatkan diri lalu memeluk Jessica dengan penuh kasih sayang. "Mereka pasti bahagia Kak, karena melihat kita sampai di titik ini. Kita berhasil melewati hal-hal tersulit dalam hidup kita setelah kepergian mereka." Liora berkata dengan lembut tanpa melepaskan pelukannya. Ia tahu jika sang Kakak sangat sedih atas kepergian kedua orang tuanya. Begitupun dengannya, yang lebih merasakan kehilangan.


"Kita harus buktikan kalau kita bisa membanggakan mereka, Kak. Jangan sampai mereka melihat kita yang cengeng ini," ucap Liora terkekeh kecil, Ia melerai pelukannya dari sang kakak. "Kak, ingat, masih ada aku. Kita berjuang bersama ya! Kakak sekarang sudah sukses tinggal aku yang akan menyelesaikan pendidikanku. Setelah itu, aku akan melamar pekerjaan di perusahaan tempat kakak bekerja. Agar kita sama-sama mandiri," ucap Liora dengan yakin.


Jessica mengangguk pasti. Ia sangat beruntung mempunyai adik seperti Liora, yang selalu mengerti akan dirinya. Ia semakin semangat berkerja untuk masa depan mereka nanti.


...----------------...


Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaya karyaku🥰


Semoga kalian tidak bosan dengan ceritanya ya🥰🥰


Jangan lupa Follow akunku😁😁

__ADS_1


dan juga tekan like, komen, favorit dan juga giftnya🤭🤭🤭🤭🤭🤲


Lophe-Lophe se kebon cabe🌶🌶🌶


__ADS_2