Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 43. Cinta yang terbalas


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Di Cafe Rindu.


Edo duduk bersama Jesicca di ruang kerjanya. Para karyawan cafe telah pulang. Namun Edo dan Jesicca masih belum pulang, karena Edo ingin berbicara serius dengan Jesicca.


Edo memegang tangan Jesicca dengan lembut. Matanya menyiratkan kekhawatiran dan keraguan. Karena takut Jesicca akan marah ketika mendengar penuturannya nanti.


Jesicca merasa heran, melihat tingkah Edo yang menurutnya tidak biasa itu. Jesicca membiarkan Edo memegang tangannya, dan menunggunya berbicara.


"Eum ..., Jes. Aku mau bicara serius sama kamu. Selama aku ngomong, tolong kamu jangan menyela, cukup dengarkan saja sampai selesai." ucap Edo dengan serius.


Jesicca hanya mengangguk sebagai bentuk jawaban atas permintaan Edo terhadapnya.


"A-aku ...." Edo tampak ragu mengatakan isi hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah itu Edo melanjutkan kembali ucapannya yang tak sempat tersampaikan.


"Jes, sebenarnya aku sudah lama memiliki rasa sama kamu. Rasa ini telah ada dan tumbuh sejak pertama kita bertemu di kantor. Namun, aku takut mengatakannya. Karena kamu selalu mengingatkan aku kalau di antara kita tidak boleh ada kata cinta. Tapi, aku tidak bisa berbohong dengan perasaanku sendiri. Rasa ini semakin lama, semakin besar dan berkembang di lubuk hati yang terdalam. Entah kamu akan membenciku setelah ini atau bahkan menjauhiku, aku akan pasrah. Yang penting aku sudah merasa lega karena sudah menyatakan perasaanku." ungkap Edo panjang-lebar.


"Jes, aku mencintaimu! Sangat mencintaimu!" lanjutnya dengan penuh penekan.


Jesicca membulatkan mata, ia benar-benar terkejut dengan ungkapan cinta dari Kenan. Tubuhnya menegang, ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika boleh jujur, Jesicca juga mencintai Edo. Tapi, sekarang keadaannya berbeda. Ia telah tak utuh dan pantas bersanding dengan Edo.


Jesicca berusaha untuk menetralkan perasaanya. Ia tersenyum menatap Edo, dan membalas genggaman tangan Edo dengan lembut.


Edo sangat gugup, ia takut Jesicca akan marah terhadapnya, dan berakhir pergi dari kehidupannya. Ia sudah mengeluarkan keringat dingin, saking gugupnya.


"Edo, aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan kamu seperti apa! Karena kamu sudah jujur dengan perasaanmu, maka aku pun juga akan jujur dengan perasaanku, Ed." Jesicca berkata dengan sorot mata yang sendu.


"Sebenarnya, aku juga ada rasa sama kamu. Aku selalu menyangkal perasaan yang hadir di hatiku. Karena itu aku selalu membuat benteng pertahanan di antara kita, agar kita tidak menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Aku takut kehilanganmu Ed, sangat takut! Bahkan jantungku selalu berdebar saat aku berada di sampingmu. Aku tahu jika aku salah karena telah menghadirkan rasa ini di hatiku." ungkap Jesicca dengan menunjuk dadanya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Edo! Tapi, sekarang keadaan sudah berbeda, aku tidak mungkin mencintaimu lagi. Aku akan menghapus rasa cinta ini. Apalagi sekarang aku tengah ha-emph" Jesicca tidak bisa melanjutkan ucapannya saat jari telunjuk Edo, menempel di bibirnya.


"Shuuut! Aku tidak mau mendengar kata-kata yang hanya akan menyakitkan untukmu Jes." ucap Edo sarkas.


"Aku sangat senang, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku sangat mencintaimu Jes! Tolong terima cintaku! Aku mencintai kamu dengan tulus, dan tidak memandang status! Aku tak perduli dengan keadaan kamu yang sekarang. Aku akan menerima kamu apa adanya. Aku hanya ingin kita menjalin kasih, aku akan menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hidupku!" Edo berkata dengan sangat yakin. Ia mengecup tangan Jesicca berkali-kali.


Jesicca merasa sangat terharu dengan pengungkapan Edo yang sangat serius. Ia melihat ketulusan di mata Edo. Ia yakin, bahwa Edo tidak main-main dengan ucapannya. Apa yang harus Jesicca lakukan. Meskipun Edo bisa menerima dia apanya, bagaimana dengan kedua orang tuanya, apakah mereka juga bisa menerima Jesicca dengan baik?


"Tapi Ed ..., bagaimana dengan orang tua kamu," ucap Jesicca dengan lirih, bahkan suaranya hampir tak terdengar.


"Mereka pasti setuju, kamu percaya sama aku."


"Aku takut mereka tidak merestui hubungan kita dengan keadaan aku yang sekarang."


"Urusan itu, serahkan semuanya kepadaku."


"Aku tetap takut Ed. Aku merasa tidak pantas menjadi pasangan kamu. kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja, yang jauh lebih sempurna, yang paling utama dia masih suci dan tidak seperti aku."


Setelah lama berfikir, akhirnya Jesicca mengangguk sebagai jawaban dari Edo.


"Jadi, kamu nerima cinta aku?" tanya Edo dengan semangat.


"I-iya." jawab Jesicca dengan menunduk malu.


Edo sangat senang, karena cintanya bersambut dengan indah. ia langsung memeluk Jesicca dengan girang. Memutar tubuh Liora di dalam dekapannya. Inilah yang Edo nanti sejak dulu.


"Bagaimana dengan kehamilanku, Ed? Apa kamu akan menerima anak ini juga?" tanya Jesicca setelah melerai pelukannya dari Edo.


"Aku akan menerima anak ini meskipun dia bukan darah daging ku. Aku akan tetap menyayanginya seperti anakku sendiri," ucap Khendrik seraya mengelus lembut, perut Jesicca yang masih rata.

__ADS_1


"Lalu, apa kamu akan menikahi aku setelah anak ini lahir?"


"Tidak! Aku akan menikahimu secepatnya, sebelum kandungan kamu membesar."


"Hem ..., tapi, apakah itu boleh?"


"Boleh atau tidak, aku akan tetap menikahimu secepatnya. Jadi semua itu harus boleh dong."


"Ish, kamu dapat peraturan darimana? Tidak ada yang seperti itu. Tidak boleh menikahi wanita yang masih mengandung anak pria lain."


"Aku sendiri yang membuat peraturan itu. Meskipun pernikahan kita tidak akan SAH, tapi aku akan tetap menakahimu sayang. Agar kamu tidak mendapatkan cemoohan dari masyarakat, yang ternyata hamil tanpa seorang suami."


Mendengar penuturan dari Edo, hati Jesicca kembali menghangat. Ia benar-benar beruntung bisa di cintai dengan tulus oleh Edo.


"Terimakasih Edo. Aku beruntung mendapatkan laki-laki sebaik kamu."


"Bukan kamu yang beruntung Jes. Tapi, aku yang beruntung, bisa mendapatkan wanita sebaik kamu untuk dijadikan seorang istri. Terimakasih sayang."


Wajah Jesicca bersemu merah, saat mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Edo. Ia menundukkan wajah karena malu.


Edo mengangkat dagu Jesicca, agar bisa menatapnya. "Kenapa menunduk, hum?" tanya Edo. Wajahnya dan wajah Jesicca sudah sangat dekat. Jesicca bisa merasakan hembusan nafas dari Edo yang sangat wangi dan hangat.


Jesicca merasa gugup saat Edo semakin mendekatkan wajahnya, hingga tidak ada jarang di antara keduanya. "A-aku ... Emp ...." Jesicca tak dapat meneruskan kata-katanya, karena bibir Edo telah membungkam bibirnya.


Eungh ... Aah ...


...----------------...


Terimakasih para readers yang selalu setia membaca novel ku🥰🥰🥰, semoga kalian sehat selalu 🤗.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya 🥳🥳🥳🥳


Lophe-lophe se kebon cabe🌶🌶🌶


__ADS_2