
Happy Reading 🥰
Pagi-pagi sekali, Niko telah sampai di kediaman Khendrik untuk menemui istri sang atasan.
Tok! Tok! Tok!
Karena tak kunjung ada jawaban dari tuan rumah. Niko memilih duduk di kursi yang terdapat di depan rumah. Mungkin karena terlalu pagi Maura belum bangun dari tidurnya. Niko terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Maura, hingga tak sadar dirinya datang di saat matahari belum terbit.
Di dalam kamar, Maura terusik dengan suara alarm yang sedang membangunkannya. Dengan cepat Maura bangun dari atas ranjang saat mengingat kalau hari ini Niko akan datang menemuinya. Ia menghabiskan waktu selama 30 menit untuk menyelesaikan ritual mandi dan bersiap-siap.
Maura membuka pintu rumah, ia terkejut saat melihat Niko tengah duduk di depan rumah. "Niko! Apa kamu sudah lama ada di situ?" tanya Maura dengan penuh selidik.
"Tidak terlalu lama, Bu."
"Kenapa tidak ketuk pintu, atau menghubungi ponsel saya?"
"Tadi, saya sudah mengetuk pintu, tapi mungkin anda masih istirahat. Saya tidak berani mengganggu waktu istirahat anda, Bu."
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Ayo silahkan masuk." Maura membuka pintu, membawa Niko masuk ke dalam rumah. Ia ingin berbicara serius dengan asisten pribadi suaminya.
"Sebentar, saya ambilkan minum dulu." Maura menuju ke dapur untuk mengambil minuman. Niko hanya mengangguk dan tidak menolak untuk dibawakan minuman. Kebetulan dirinya memang haus, setelah bangun tidur Niko hanya minum sedikit, bahkan dia juga belum sarapan.
"Silahkan di munim, Niko." Maura meletakkan satu gelas orange jus di atas meja di ruang tamu.
"Terimakasih, Bu. Oiya ada keperluan apa ibu memanggil saya? Apa yang bisa saya bantu?" Niko bertanya to the point, karena tidak biasanya istri atasannya mengajak dia untuk bicara empat mata.
Maura menghembuskan nafas berat. Dadanya kembali terasa sesak ketika mengingat tujuannya memanggil Niko ke rumah, untuk mengurus perceraiannya dengan Khendrik.
"Begini, kamu pasti sudah tahu apa yang telah terjadi dengan suami saya. Saya tidak ingin terus terikat dengan laki-laki biadab sepertinya. Tolong urus perceraian saya dengan Khendrik. Saya ingin setelah sidang kasus kejahatan yang Khendrik perbuat, saya dan Khendrik sudah resmi bercerai."
Niko sangat terkejut dengan permintaan Maura terhadapnya. Bukannya Maura sangat mencintai Khendrik? Lalu kenapa dia ingin bercerai dengannya hanya karena sebuah kasus itu? Niko jadi bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Apa anda yakin ingin bercerai dengan pak Khendrik?"
"Saya sangat yakin, Niko."
"Bukankah anda sangat mencintai pak Khendrik?"
"Saya memang mencintainya, tapi saya tidak ingin terus-menerus bodoh hanya karena cinta. Saya begitu percaya kepadanya hingga saat dia berbohong pun saya juga percaya."
Niko hanya menjadi pendengar yang baik untuk Maura, tak ingin menyela ucapannya. Ia ingin mendengarkan keluh kesah dari Maura. Hingga Maura kembali melanjutkan ucapannya.
"Saya sudah pernah memberikan kesempatan untuk Khendrik berubah, namun dia menyia-nyiakan kesempatan itu. Sekarang tidak ada kesempatan kedua, apalagi bukan hanya satu kejahatan yang Khendrik perbuat. Sudahlah Niko, kamu tidak akan mengerti dengan apa yang saya rasakan. Lebih baik kamu segera mengurus perceraian itu."
"Baik, Bu. Akan saya laksanakan secepat mungkin." Niko akhirnya menuruti keinginan Maura. Benar apa yang dikatakan oleh Maura. Ia tidak akan mengerti dengan apa yang Maura rasakan.
"Satu lagi. Tolong carikan rumah untuk saya, karena saya akan pindah dari rumah ini. Hanya kamu yang bisa membantu apa yang saya butuhkan dan saya inginkan, Niko. Saya tidak ingin merepotkan Kenan."
Lagi-lagi Niko dibuat tercengang dengan perintah Maura. Setelah ingin bercerai dengan Khendrik, sekarang dia juga akan pergi dari rumah itu. Niko benar-benar dibuat pusing. Tapi, keputusan Maura memang sudah benar menurutnya. Setelah dipikir-pikir tidak ada seorang istri yang mau bertahan dengan seorang suami kriminal.
"Saya ingin rumah yang tidak terlalu jauh dengan rumah calon menantu saya. Setelah Kenan menikah, dia akan tinggal di rumah Liora. Jadi saya ingin terus berdekatan dengan mereka."
"Kenapa anda tidak tinggal bersama mereka saja, Bu?"
"Tidak, Niko. Biarkan mereka menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan caranya sendiri tanpa ada campur tanganku. Aku tidak mau nanti ada perselisihan antara ibu mertua dan menantunya."
"Hati anda sangat baik. Beruntung sekali Kenan mempunyai ibu seperti anda." Niko terang-terangan memuji Maura. Ini kali pertama dia memuji istri atasannya.
Niko memang mengagumi sosok Maura yang sangat baik. Jika saja dulu dia tidak menikah dengan Khendrik, pasti Niko akan menikahinya. "Astaga, apa yang aku pikirkan? Tidak Niko! Bu Maura masih istri sah-nya Khendrik. Kau tidak boleh mempunyai pemikiran seperti itu." gumam Niko dalam hati.
"Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka hidup bahagia bersama dengan pasangannya." Maura tersenyum lembut ke arah Niko. Membuat jantung Niko kembali berdesir setelah 26 tahun ia menutup hati.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Bu. Saya akan menjalankan tugas yang anda berikan."
__ADS_1
"Tunggu, Niko!"
"Iya, ada apa Bu?" Niko menghentikan langkahnya saat berada di ambang pintu.
"Em, apa kamu sudah sarapan?" tanya Maura dengan ragu. Entah mengapa dirinya ingin sekali menanyakan hal itu.
"Sudah, Bu." Bertepatan dengan itu, perut Niko berbunyi menandakan dia memang lapar.
Kriuk ... Kriuk ...
Wajah Niko memerah menahan malu. Perutnya tidak bisa diajak kompromi, bisa-bisanya berbunyi disaat waktu yang tidak tepat. Mana dia barusan berbohong lagi kepada Maura.
Sekuat tenaga, Maura menahan rasa ingin tertawa. Mendengar perut Niko yang berbunyi sangat nyaring. "Duduklah, saya akan memasak. Kita makan bersama nanti." Maura langsung menuju ke dapur untuk memasak makanan.
Niko tak bisa menolak perintah dari Maura, ia duduk kembali di ruang tamu. Sudut bibirnya tertarik menampilkan senyuman tipis.
Aw!
Mendengar teriakan dari dapur, Niko reflek berlari menyusul Maura. Dia takut terjadi sesuatu kepada istri atasannya.
"Bu Maura!" Niko begitu cemas melihat tangan Maura yang memerah.
Tadi saat Maura merebus air, tangannya tersiram oleh air panas. Hingga tangannya memerah menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. "Sssht! Panas, Niko."
Niko menarik pergelangan tangan Maura, membawanya ke wastafel. Membiarkan tangan Maura tersiram air agar rasa panasnya menghilang.
Niko meniup-niup tanga Maura. Entah mengapa Niko seberani itu. Jika Khendrik tahu pasti dia akan sangat marah melihat istrinya dipegang oleh laki-laki lain. Tapi Niko seakan tak perduli dengan kemarahan Khendrik nanti. Lagipula Khendrik masih berada di dalam penjara, pikir Niko.
...----------------...
hallo para readers setiaku🥰. Jangan lupa mampir di karya kedua ku ya, baru rilis tadi, masih anget loh. Ceritanya gak kalah seruh dengan cerita ini😍. Terimakasih atas dukungan kalian😘😘
__ADS_1