Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 64. Hamil.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


"Kak Jesi!"


"Bruk ...."


"Liora!"


Semua orang berteriak panik, karena Liora tiba-tiba pingsan. Liora sangat tertekan dengan keadaan yang di buat kacau oleh Kenan. Apalagi melihat kakaknya yang tengah menangis karena salah faham. Saat Liora akan menghampiri Jesicca, tiba-tiba Kepalanya terasa pening. Hingga akhirnya pandangan mata Liora kabur, dan semuanya terasa gelap.


Jesicca sangat panik, ia menghampiri Liora yang tengah di pangku oleh Kenan. "Li, bangun! Kamu kenapa? Jangan bikin kakak khawatir." Jesicca menepuk pelan pipi sang adik, berharap ia akan sadar.


Kenan mengangkat tubuh Liora menggunakan kedua tangannya, ala bridal style. Ia membawa Liora keluar dari dalam cafe, lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Jesicca berlari mengikuti langkah Kenan, tanpa permisi ia langsung masuk ke dalam mobil Kenan. Jesicca tidak mungkin membiarkan sang adik di bawa pergi oleh Kenan.


Kenan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat khawatir dengan keadaan Liora, Kenan takut terjadi sesuatu kepada sang pujaan hati. Padahal sedari tadi ia melihat Liora masih baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda kalau dia tengah sakit.


Sedangkan Maura dan khendrik mengikuti Kenan dari belakang. Mereka juga tampak cemas dengan keadaan Liora. Apalagi Khendrik, ia sangat mencemaskan wanita yang sangat ia cintai. Ia berharap semua ucapan Kenan tidak benar, yang mengatakan Liora tengah hamil.


Maura dan Jesicca sama-sama menunggu klarifikasi dari Liora tentang kabar kehamilan itu. Apa benar Liora sedang hamil? Maura akan sangat kecewa jika itu terjadi, karena ia sangat percaya kepada Kenan, mana mungkin Kenan akan berbuat hal yang di luar batas.


Sedangkan Jesicca, ia pasti juga akan sangat kecewa, jika adiknya di nyatakan hamil. Sungguh Jesicca tidak akan memaafkan dirinya sendiri, karena telah gagal menjaga sang adik. Jesicca mengirim pesan kepada Edo, agar Edo tidak menyusulnya dan meninggalkan cafe. Saat Liora pingsan, keadaan cafe masih tampak ramai akan pengunjung.


Para pengunjung menatap mereka (Liora, Kenan, Maura, Khendrik, dan Jesicca), dengan tatapan penasaran, namun mereka tak ingin ikut campur. Mereka hanya melihat dan mendengarkan apa yang di bicarakan oleh mereka.


Biarlah Edo tetap di cafe, meskipun sudah ada karyawan di sana, namun Jesicca tidak ingin membuat Edo kelimpungan. Setelah mengirim pesan kepada Edo, Jesicca kembali fokus ke Liora. "Jika terjadi sesuatu kepada adikku, aku tidak akan memaafkan mu, Kenan!" Jesicca menatap Kenan melalui kaca spion tengah.


Kenan hanya diam saja, ia tak ingin menanggapi ucapan kakak iparnya yang tengah emosi. Setelah sampai di rumah sakit, Kenan langsung menggendong tubuh Liora, dan membawanya ke dalam rumah sakit. Kenan tak ingin membuang waktu, ia langsung masuk ke ruang UGD untuk memeriksa keadaan Liora. Semua orang di sana sangat terkejut dengan kehadiran Kenan yang tiba-tiba.

__ADS_1


Dokter yang awalnya akan menegur Kenan, ia mengurungkan niatnya karena melihat tatapan dingin dari Kenan. "Cepat periksa dia!" sungguh suara Kenan membuat orang yang mendengarnya jadi merinding. Ekspresi wajahnya saja sangat menyeramkan.


Takut mendapatkan amukan dari Kenan, Dokter langsung memeriksa keadaan Liora. Kenan tetap pada posisinya, ia tidak ingin meninggalkan Liora barang sejenak pun. Sedangkan Jesicca ikut terdiam di ruangan itu. Ia baru tahu jika Kenan sangat menyeramkan saat mencemaskan sang adik. Jesicca menatap wajah Liora yang pucat dengan begitu iba.


Kenan mencekal pergelangan tangan sang dokter, saat dia akan membuka baju bagian bawah, Liora. "Apa yang anda lakukan, Dok?" Kenan menatap dokter laki-laki itu dengan tatapan membunuh.


"Maaf Pak, saya harus memeriksanya agar mengetahui dugaan saya itu benar atau tidak. Anda tenang saja, saya tidak akan macam-macam. Anda bisa melihatnya langsung saat saya memeriksa pasien." Dokter itu menegaskan kata-katanya.


Kenan membiarkan Dokter itu memeriksa Liora. Dokter itu menekan pelan perut bagian bawah, Liora. Dia seperti menemukan sesuatu di sana. Hanya sebentar setelah itu dokter langsung merapikan kembali baju Liora.


"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?l" tanya Jesicca setelah Dokter memeriksa Liora.


"Pasien hanya kecapean, dia sepertinya sedang tertekan. Hingga membuat dia sedikit stres. Tolong jangan membuat pasien banyak pikiran, dan jang terlalu menekannya. Karena itu sangat berpengaruh untuk kesehatan janin yang ada dalam kandungannya." ucap Dokter itu yang kebetulan adalah Dokter Obgyn. Jadi, dia bisa dengan mudah mengetahui kehamilan pasien.


Jedaaaar!


"Iya Bu. Setelah saya periksa ternyata di sedang hamil." Dokter laki-laki itu berkata sambil tersenyum, dan memberikan selamat kepada Jesicca dan Kenan atas kehamilan Liora.


"Berapa usia kehamilannya, Dok?" tanya Kenan antusias. Ia masih tak menyangka bahwa Liora tengah hamil. Apa Liora berbohong kepadanya mengenai pill kontrasepsi itu? Lalu kenapa Liora sampai berbohong? Kenan harus menanyakan itu saat Liora sadar.


Kenan merasa tersentuh, hatinya menghangat saat mengetahui fakta bahwa ada janin di dalam rahim Liora, yang ia yakini anak dirinya. Ternyata ucapannya yang berbohong kepada sang mama, menjadi kenyataan. Dengan begitu Kenan benar-benar bisa menikahi Liora.


"Lebih jelasnya, pasien harus melakukan USG agar mengetahui usia kehamilannya. Anda bisa memeriksanya di ruangan khusus untuk ibu hamil." terang dokter menjelaskan.


Kenan berterimakasih kepada dokter itu. Setelah dokter keluar, Kenan menghampiri Liora yang masih tak sadarkan diri di atas brankar. "Sayang, aku tidak menyangka bahwa kamu benar-benar akan mengandung anakku." Kenan tiada hentinya mengecup kening dan tangan Liora. Mencurahkan perasaan bahagianya.


Plak!

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di pipi Kenan. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali tamparan itu mengenai pipi Kenan.


"Dasar! Laki-laki kurang ajar! Brengsek! Biadab! Bajingan! Tega sekali membuat adikku satu-satunya hamil!" Jesicca terus menampar Kenan penuh dengan amarah. Bahkan ia terus melontarkan kata-kata kasar kepada Kenan.


"Maaf!" Kenan hanya bisa meminta maaf, dan tak bisa membela diri atas tuduhan dan kata-kata pedas dari Jesicca. Kenan akui memang dirinya yang salah, ia membenarkan ucapan Jesicca.


"Maaf? Cih! Kata maaf tidak akan bisa mengembalikan semuanya! Seperti apa yang telah papamu lakukan terhadap ku! Anak dan bapak sama saja! Sama-sama tak bermoral! Kalian tidak pantas di sebut dengan manusia!"


Jesicca sanga emosi, dadanya naik-turun, matanya memerah. Ia sampai lupa membuka aibnya bersama Khendrik di sana.


Mereka tidak sadar bawah sedari tadi ada dua pasang mata yang menyaksikan kejadian itu dari balik pintu UGD. Suara Jesicca yang begitu lantang sampai terdengar nyaring ke luar pintu UGD.


Dengan cepat Maura memasuki ruangan UGD, ia merasa tak terima dengan ucapan Jesicca yang terdengar kasar. Apalagi sampai membawa nama suaminya.


"Maksud kamu apa! Kenapa nama suami saya di sebut-sebut?" Maura bertanya tak kalah lantangnya dari suara Jesicca yang sejak tadi menggelegar di ruangan itu.


"Mama!"


...----------------...


Terimakasih untuk kalian yang masih setia membaca novel ku😘😘.


Terimakasih untuk dukungan yang kalian berikan, dan tentu saja itu sangat bermanfaat untuk ku🥰.


Jangan lupa tekan like, komen, dan kirim gift sebanyak-banyaknya 🥳🥳🥳🥳.


Lophe-lophe se kebon cabe😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2