
Happy Reading๐ฅฐ
Jesicca dan Edo menyusul ke rumah sakit tempat Liora di rawat. Setelah menemukan ponsel Liora yang tergeletak di atas lantai, Jesicca melihat riwayat panggil terakhir di Ponsel Liora, yang bernama 'Pria Gila'. Jesicca mengerutkan kening saat membaca nama itu, namun tidak berlangsung lama karena Jesicca langsung menghubungi orang itu, yang ternyata adalah Kenan.
Jesicca berlari ke ruang VIP tempat Liora dirawat. Kenan yang memesan kamar itu, supaya Liora mendapatkan perawatan intensif. Liora tadi sempat sadar waktu berada di ruang UGD, namun karena Liora terus histeris, Dokter memberikan obat tidur melalui suntikan kepada Liora. Akhirnya Liora kembali tertidur.
"Liora! Hiks ... Hiks ..., maafin kakak, Li. Seharusnya kakak tidak meninggalkanmu sendirian di rumah." Jesicca menangis tersedu-sedu di samping Liora berbaring. Ia terus menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa sang adik.
Sedangkan Edo, menatap tajam ke arah Kenan. "Kita perlu bicara!" Edo mengajak Kenan untuk bicara empat mata. Ia ingin membahas malah tindak kriminal yang telah Khendrik perbuat.
Edo dan Kenan berada di rooftop rumah sakit. Edo memperlihatkan rekaman CCTV yang dia dapatkan dari depan Minimarket, Apotik, dan juga basement Hotel Kejora kepada Kenan. Kenan membulatkan mata sempurna. Ia benar-benar tidak menyangka, bahwa papanya akan sejahat itu, dan selama ini dirinya salah menilai Khendrik.
Jika Maura mengetahui kejahatan Khendrik, pasti dia akan sangat terpukul. Tapi, mau bagaimana lagi, Maura memang harus segera mengetahui fakta itu.
"Aku harap kamu tidak menghalangi rencanaku." Edo memberikan peringatan kepada Kenan. Bagaimanapun, Kenan adalah anak dari Khendrik. Edo takut, Kenan akan menghancurkan rencananya untuk menjebloskan Khendrik ke penjara.
"Lakukanlah, aku juga akan memberikan bukti kejahatan papa terhadap Liora. Meskipun dia adalah papaku, tapi aku tidak mendukung perilaku jahatnya. Apalagi dia juga mencelakai calon istri dan anakku. Aku tidak terima."
Mendengar ucapan Kenan, Edo merasa lega. Ia kagum dengan sosok Kenan, yang tidak memihak kepada Khendrik. Apalagi Kenan bersedia memberikan bukti juga. Pasti hukum Khendrik akan berkali-kali lipat.
Edo menepuk bahu Kenan dengan bangga. "Bagus! Terimakasih sudah mau membantu. Kita harus segera bertindak, agar papamu tidak kabur."
"Kamu ke kantor polisi, dan aku ke rumah mama untuk memastikan papa ada di rumah atau tidak." Kenan membagi tugas antara dirinya dan Edo.
Sebelum berangkat, Kenan dan Edo berpamitan kepada Jesicca, karena Liora masih belum sadarkan diri. Namun, ketika akan meninggalkan ruangan itu, Kenan menghentikan langkahnya saat melihat kelopak mata Liora bergerak.
Perlahan Liora membuka matanya, orang yang pertama kali dia lihat adalah Kenan. Liora masih bergeming di tempatnya. Hanya air mata yang mulai menetes di kedua sudut matanya.
__ADS_1
Kenan memeluk tubuh Liora untuk menenangkannya. Ia tahu Liora pasti masih shock dan trauma dengan kejadian itu. Hatinya terasa tercubit melihat keadaan Liora yang seperti itu. Ingatannya berputar pada kejadian dimana dirinya yang juga melecehkan Liora, bahkan melukai fisik dan batinnya. Sungguh Kenan sangat menyesali perbuatannya. Pasti Liora juga sangat terpukul waktu itu.
"Maaf! Aku terlambat menolongmu! Kamu tenang saja setelah ini kamu akan aman, hum." Ucap Kenan menenangkan.
"J-janin a-aku?" Liora megang perutnya. Ia masih belum tahu jika kandungannya baik-baik saja. Yang dia ingat hanya rasa sakit yang luar biasa di bagian perutnya, ketika Khendrik mendorong terongnya untuk memasuki miliknya.
Liora memejamkan mata kala teringat dengan kejadian itu. Liora sudah berpikir bahwa Khendrik telah berhasil memasukinya.
"Kandungan kamu baik-baik saja, sayang. Anak kita masih sehat, kamu hanya pendarah ringan. Jadi, kamu tidak usah khawatir."
"T-tapi ..." Liora tidak meneruskan ucapannya. Ia bingung mau memulainya dari mana. Hatinya merasa lega karena anak yang berada di dalam kandungannya masih bisa di selamatkan. Namun, ia ingin memastikan apakah Khendrik benar-benar berhasil merusaknya atau tidak.
Kenan yang mengerti dengan ekspresi wajah Liora, segera memberikan kata-kata penenang lagi. "Tidak terjadi apa pun saat itu. Meskipun aku datang terlambat, tapi aku datang di waktu yang tepat." Kenan sangat tahu jika papanya tidak sempat memasuki Liora. Hanya sekedar menempel saja, karena Kenan langsung menyeret dan menghajar Khendrik.
Liora menatap Kenan dengan tatapan tidak percaya. Ia mencari sebuah kebohongan di mata Kenan, tapi Liora melihat keseriusan di sana.
Edo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya cepat sampai di kantor polisi. Setelah tiba di sana, Edo langsung melaporkan tidak asusila yang Khendrik perbuat. Dengan semua bukti yang Edo punya, akhirnya polisi bersiap untuk menangkap Khendrik di rumahnya.
Awalnya para polisi tidak percaya dan tidak berani untuk memberikan surat laporan penangkapan untuk Khendrik, karena mereka tahu Khendrik adalah orang yang sangat berpengaruh di kota itu. Dengan kekuasaannya Khendrik bisa menghancurkan siapa saja yang mengusiknya.
Akan tetapi, dengan bukti-bukti yang sangat kuat, Edo berhasil membawa petugas polisi ikut bersamanya. Edo tersenyum miring saat keluar dari kantor polisi.
Kenan memasuki rumah dengan langkah cepat. Ia langsung menelusuri setiap sudut ruangan yang berada di rumah itu.
Maura yang melihat Kenan berada di rumahnya di waktu jam kerja merasa heran. "Kenan, tumben pulang di waktu jam kerja?" tanya Maura dengan hati-hati. Ekspresi wajah Kenan menggambarkan bahwa terlah terjadi sesuatu.
"Dimana suami Mama?" Kenan malah bertanya balik. Tentu saja pertanyaan Kenan membuat Maura geram. Karena menanyakan keberadaan papanya dengan tidak sopan.
__ADS_1
"Jaga biacaramu, Ken!"
"Cepat Ma katakan dimana dia? Aku tidak punya banyak waktu. Jika mau marah nanti saja, aku akan menjelaskannya."
"Papa kamu belum pulang, dia masih di kantor."
"Jangan bohong Ma. Jelas-jelas dia tidak ke kantor hari ini."
"Apa maksud kamu, Kenan?"
"Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri."
Kenan meninggalkan Maura yang masih bertanya-tanya soal Khendrik. Mana mungkin suaminya tidak pergi ke kantor. Tadi pagi dia mengantarkannya sampai ke depan rumah, waktu Khendrik telah siap dengan setelan kerjanya.
Maura memang tidak berbohong mengenai Khendrik yang tidak pulang. Bahkan dia bingung kenapa Kenan berkata bahwa Khendrik tidak pergi ke kantor? Ada apa sebenarnya?
Pintu rumah di ketuk dari luar dengan cara yang sangat kasar. Maura menjadi kesal dibuatnya. Ia membuka pintu rumah dengan wajah kesalnya. Siapa tamu tidak tahu sopan santun itu? Maura tercengang ketika melihat tamu yang berada di depan pintu. Ada tiga polisi di sana, dan juga ada Edo yang dia kenal sebagai karyawan di kantor Khendrik, dulu.
"Maaf, ada perlu apa ya bapak-bapak kemari?" tanya Maura dengan sopan.
"Kami membawa surat penangkapan untuk Pak Khendrik, Bu."
"A-Apa!"
...----------------...
Jangan lupa dukungannya ya kakak-kakak readers ๐๐. Tinggalkan jejak di kolom komentar ๐
__ADS_1