
Happy Reading🥰
Di Cafe Rindu.
Kenan mengikuti Liora yang bersikeras untuk kembali bekerja di cafe Kejora. "Sayang, kenapa kamu maksa banget untuk bekerja!" Kenan menampilkan wajah kesalnya. Bukan karena apa dia melarang Liora untuk berkerja, ia takut Liora kelelahan dan berdampak buruk terhadap kandungannya.
"Kenan, aku bosan di rumah terus tanpa ada kegiatan."
"Tapi gak harus kerja juga 'kan! Aku takut kamu kelelahan, Sayang."
"Aku gak apa-apa, Kenan. Aku sehat, kandungan aku juga sehat."
"Tapi aku tetap khawatir, apalagi kamu pernah pendarahan."
"Dokter 'kan sudah bilang kalau kandungan aku baik-baik saja, dan janinnya juga sehat. Jadi kamu tidak usah cemas."
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapian, Kenan. Sudahlah lebih baik kamu pulang saja, memangnya kamu gak berangkat ke kantor?"
"Aku mau nemenin kamu di sini."
"Kenan! Jangan mentang-mentang kamu bos, bisa seenaknya gak masuk ke kantor. Jangan lalai menjalankan tugas kamu sebagai pemimpin di perusahaan!"
Kenan tersenyum mendengar omelan, Liora. Dia merasa gemas saat Liora menceramahinya. "Bukan begitu, Sayang. Aku sudah mengambil cuti selama satu bulan."
"Apa! Untuk apa cuti sebanyak itu?"
"Sebentar lagi kita akan menikah, pastinya akan ada malam pertama dan bulan madu. Jadi aku sudah bersiap-siap mulai sekarang."
Plak!
Liora memukul lengan Kenan. "Kalau ngomong lihat tempat dulu, Kenan." Liora celingukan melihat keadaan di dalam cafe. Takut omongan Kenan ada yang mendengar. Mulut Kenan tidak bisa di rem, nyerocos saja kalau bicara.
"Memangnya kenapa? Wajar 'kan pengantin baru pergi honeymoon? Ya meskipun itu bukan yang pertama buat kita, tapi aku selalu merasa milik mu tetap se***t seperti masih virgin."
__ADS_1
"Kenan!" Liora menatap marah kepada Kenan. Sungguh perkataannya membuat darah Liora mendidih. Kenan seperti tidak tahu malu dengan apa yang dia ucapkan.
Mendapatkan tatapan tajam dari Liora membuat nyali Kenan menciut. Ia telah salah bicara, Liora sangat tidak menyukai jika dirinya berbicara terlalu absurd di luar rumah.
Liora meninggalkan Kenan ke ruang kerja sang kakak. "Kak Jesi!" rengek Liora kepada sang kakak, bergelayut manja di lengan, Jesicca.
"Ada apa bumil cantik, hum?" Jesicca mengusap puncak kepala sang adik.
"Bolehkah malam ini aku menginap di rumah kakak?" tanya Liora dengan tatapan memohon.
"Tidak boleh!" bukan Jesicca yang menjawab, melainkan Kenan yang telah berdiri di ambang pintu. Ia mengikuti Liora dari tadi.
Jesicca paham sekarang, pasti Liora dan Kenan lagi ada masalah. "Ya sudah kakak keluar dulu, kalian bicaralah di sini. Jangan lupa kunci pintunya agar Edo tidak mengganggu waktu kalian." Ucap Jesicca mewanti-wanti keadaan, takut kejadian di kamar mandi terulang kembali.
"Siap, kakak ipar." Kenan dengan cepat mengunci pintu setelah Jesicca keluar dari ruangan itu.
Liora berdiri membelakangi Kenan. Ia masih marah kepada calon suaminya itu. Kenan menghampiri Liora dengan hati-hati. Memeluk tubuhnya dari belakang, meskipun Liora terus memberontak ia tak ingin melepaskannya. "Sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Janji terus, tapi selalu saja ingkar!"
"Ooh, berarti janji kamu yang kemarin-kemarin itu tidak serius, begitu?"
"Astaga! Kenapa jadi serba salah sih! Oke fiks, wanita memang selalu benar! Sabar Kenan, sabar. Ingat Liora sedang hamil, kamu tidak boleh membuatnya stres." batin Kenan frustasi.
"B-bukan begitu, Sayang. Begini saja, Kamu boleh menghukum aku dengan cara apa pun jika aku sampai ingkar janji lagi, oke." Kenan berkata dengan serius, berharap Liora akan memaafkannya.
Liora membalikkan badan menghadap ke arah Kenan. Ia dapat melihat tatapan serius di matanya. Cukup lama Liora berpikir sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala. "Baiklah, kali aku memaafkan mu. Kalau sampai kamu mengulanginya, aku pastikan kamu tidak akan bisa menengok anak kamu lagi!"
Kenan menelan saliva nya kasar, tak dapat di bayangkan jika dirinya tidak mendapatkan jatah dari Liora. Pasti bibit terongnya akan basi dan tak bermutu lagi. Tidak! Kenan tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Sayang, sepertinya aku lupa. Hari cuti ku tidak dimulai dari sekarang. Jadi aku akan ke kantor hari ini." ucap Kenan kikuk. Untuk saat ini Kenan harus menghindar dari Liora, takut terkena amukan lagi jika dirinya ketahuan salah bicara.
"Bagus! Sana ke kantor, kalau kamu gak kerja mau dikasih makan apa anak kita."
"Sayang, apa kamu lupa? Kekayaan aku itu banyak, tidak akan habis meskipun sampai tujuh turunan."
__ADS_1
"Wah, sombong sekali anda, Pak Kenan!"
"Itu fakta bukan sombong."
"Sama saja."
"Gak sama dong, Sayang."
"Jadi menurut kamu ucapan aku salah, huh!"
"B-bukan begi ...."
"Sudahlah, aku memang selalu salah di mata kamu." Mata Liora sudah berkaca-kaca dan siap untuk meluncurkan air matanya.
"Apalagi ini! Kenapa setiap kali aku berbicara selalu salah di mata Liora. Lama-lama aku bisa stres kalau setiap hari harus berdebat seperti ini! Untung cinta, kalau tidak sudah ku tendang dia ke pluto!" Kenan hanya bisa membatin.
"Apa! Kamu ingin menendang ku!" Liora meninggikan suaranya. Air mata sudah mengalir di kedua pipinya. Entah kenapa Liora bisa tahu apa yang di ucapkan oleh Kenan di dalam hati, mungkin Liora mempunyai ilmu batin.
"T-tidak, Sayang. Mana mungkin aku berani melakukan itu." Kenan dibuat bingung dengan tingkah Liora yang sangat sensitif akhir-akhir ini. "Kenapa Liora bisa tahu apa yang aku katakan di dalam hati?" lirih Kenan. Namun tanpa dia tahu Liora mendengar ucapannya.
"Jadi benar kamu akan menendang ku! Jahat kamu Kenan, jahat!" Liora semakin histeris, ia memukul-mukul dada Kenan.
"Kamu salah faham, Sayang. Sudahlah terserah kamu saja." Kenan memilih pasrah. Terserah Liora mau bagaimana. Bicara salah, diam pun salah. Lebih baik diam saja kalau ujung-ujungnya tetap salah.
Kepala Kenan rasanya ingin pecah. Ibu hamil memang menguji kesabaran. Sudah 2 hari ini sikap Liora berubah-ubah, Kenan sampai bingung kenapa Liora bisa berubah drastis. Tapi saat dia mencari di internet ternyata itu disebabkan oleh hormon ibu hamil yang kadang berubah-ubah.
Kenan berusaha sesabar mungkin agar dia tidak tersulut emosi. Takut akhirnya membuat Liora terluka dan kesehatan janinnya bermasalah. Biarlah Kenan di marahi habis-habisan oleh Liora yang penting Liora dan kandungnya baik-baik saja.
Kaki Kenan terasa pegal karena sejak tadi Liora masih setia berdiri sambil memukul dirinya. Hingga pukulan itu semakin lama semakin melemah. Bersamaan dengan tubuh Liora yang tampak lunglai, dan akhirnya ....
Bruk!
"Liora! Kenan menangkap tubuh Liora yang ambruk seketika."
...----------------...
__ADS_1
Selamat malam teman-teman. Maaf ya updatenya lama, soalnya Author lagi ada acara 😁. Jadi sekarang up satu bab saja 🤗