
Happy Reading 🥰
Khendrik seakan tuli dengan ucapan Liora. Khendrik mengarahkan terongnya ke lembah surgawi itu, dan mendorongnya.
"Aaaaargh!"
Kenan sudah berada di depan pintu kamar Liora, merasakan sakit di hatinya saat mendengarkan teriakan Liora yang menyayat hati. Kenan mendobrak pintu kamar itu dengan cara menendangnya. Karena kekuatan Kenan sangat super, hanya dengan sekali tendangan, 🚪 itu langsung terbuka.
Kenan membulatkan mata ketika melihat pemandangan di depannya. Darahnya seakan mendidih, matanya memerah, rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal kuat.
Kenan berlari, menarik tubuh Khendrik yang berada di atas tubuh sang pujaan hati. Kenan memukul wajah Khendrik dengan membabi buta. Ia tidak memberikan kesempatan untuk Khendrik melawan.
Kenan sangat marah, benci, dan kecewa terhadap papanya, yang telah melecehkan Liora. Kenan terus memberikan bogeman meskipun tubuh Khendrik sudah tak berdaya.
Khendrik memang tak menyadari kedatangan Kenan, bahkan saat pintu kamar itu di dobrak, Khendrik masih fokus dengan kenikmatannya. Hingga akhirnya Kenan langsung menyerang dirinya sampai tak berdaya.
"Aku menyesal mempunyai seorang papa sepertimu, Khendrik!" ucap Kenan dengan lantang. Ia sudah tidak memanggil Khendrik dengan sebutan papa lagi.
Khendrik sudah terkapar tak berdaya di atas lantai. Tubuhnya masih dalam keadaan polos. Kenan menghampiri Liora yang masih berada di atas ranjang.
Kenan terkejut saat melihat Liora tak sadarkan diri. Bukankah tadi Liora sempat berteriak? Lalu kenapa sekarang dia pingsan? Kenan sangat cemas. "Sayang, bangun." Kenan menepuk pelan pipi Liora, berharap dia akan sadar. Namun, Liora masih memejamkan mata.
Dengan cepat, Kenan mengambil bath robe yang teronggok di lantai, lalu memakaikannya ke tubuh Liora yang telanjang bulat. Kenan mengangkat tubuh Liora ala bridal style.
Tak ingin membuang waktu, Kenan langsung membawa Liora menuju ke rumah sakit. "Sayang, bertahanlah, jangan membuatku cemas."
Kenan membulatkan mata ketika melihat darah yang mengalir di paha Liora. "D-darah? Sayang, kamu pendarahan." Kenan sangat panik, ia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Liora dan calon anaknya. Jika sampai Liora keguguran, maka Kenan akan membuat Khendrik mendekam di penjara.
Setelah sampai di rumah sakit, Liora langsung di larikan ke ruang UGD. Kenan menunggu di luar ruangan itu dengan cemas, dan mondar-mandir layaknya setrikaan.
Ingin rasanya Kenan menghubungi kakak iparnya, namun ia tidak ingin mengganggu pengantin baru itu. Lagi pula, Kenan tidak mempunyai kontaknya. Ia memilih diam saja, setelah keadaan Liora membaik, Kenan akan membawanya pulang ke rumah, agar kakak iparnya tidak cemas.
__ADS_1
Tak berselang lama, Seorang Dokter wanita keluar dari ruangan UGD. Kenan langsung menghampirinya, dan menanyakan keadaan Liora. "Bagaimana keadaan istri dan kandungannya, Dok?" tanya Kenan dengan antusias.
"Syukurlah, keadaan mereka baik-baik saja. Pasien hanya mengalami pendarahan ringan, dan kandungannya masih bisa diselamatkan. Untung saja janin yang ada di kandung istri anda sangat kuat, Pak. Lain kali jangan sampai pasien mengalami stres, dan ketakutan berlebih, karena itu sangat membahayakan untuk kandungannya."
"Terimakasih Dok. Apa saya boleh menemuinya?"
"Silahkan, Pak."
Kenan memasuki ruangan UGD dengan langkah cepat. Ia duduk di kursi yang terletak di samping brankar. Tangannya memegang tangan Liora dengan lembut. Tak terasa air mata menetes membasahi kedua pipi Kenan. Ia sangat sedih melihat kondisi Liora. Pasti Liora sangat shock dan ketakutan saat Khendrik melecehkannya.
Sungguh Kenan tiada hentinya merutuki dirinya sendiri atas apa yang menimpa Liora. Andaikan dia tetap berada di rumah Liora, dan tidak pergi dari sana, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.
...----------------...
Jessica dan Edo sedang sarapan, untuk mengisi perutnya yang tengah keroncongan sehabis ngeronda. "Mas, Setelah sarapan, kita ke rumah ya, aku takut terjadi sesuatu terhadap Liora."
Edo merasakan jantungnya berdebar saat mendengar Jesicca memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Edo jadi salah tingkah, hingga ia tersipu malu.
Jesicca yang melihat Edo malu-malu meong, merasa gemas sendiri. Sungguh Edo terlihat sangat lucu dimatanya.
Edo dan Jesicca pergi dari rumah pertama, menuju ke rumah kedua untuk menemui Liora. "Mas, perasaanku gak enak. Aku takut terjadi sesuatu terhadap Liora," ucap Jesicca dengan khawatir.
"Itu cuma firasatmu saja, sayang. Liora pasti baik-baik saja." Edo berusaha menenangkan sang istri agar tidak terlalu over thinking.
"Kenapa pintu rumah terbuka? Itu mobil siapa? Tumben ada tamu?" Jesicca bertanya-tanya saat sampai di halaman rumahnya.
Edo juga bertanya-tanya, karena tidak biasanya ada orang yang bertamu ke rumah Jesicca. Mereka berdua memasuki rumah dengan wajah penasaran.
Suasana di dalam rumah tampak sepi. Edo dan Jesicca semakin heran di buatnya. Kenapa pintu rumah terbuka jika tidak ada orang? Lalu, kemana Liora?
"Li! Liora! Kakak pulang! Kamu dimana?" Jesicca berteriak memanggil nama sang adik, namun tidak ada jawaban. Hal itu semakin membuatnya cemas. "Mas, Jangan-jangan Liora di culik?"
__ADS_1
"Hus, jangan aneh-aneh, sayang. Tidak mungkin Liora di culik. Coba kamu cek ke kamarnya, siapa tahu dia sedang istirahat. Ibu hamil 'kan gampang ngantuk."
"Ya udah deh, aku cek ke kamar Liora dulu ya."
Jesicca menuju ke kamar Liora, di semakin heran karena pintu kamar itu terbuka. Saat memasuki kamar itu, Jesicca tercengang melihat sosok Khendrik yang terkapar di atas lantai dengan wajah babak belur, dan dalam keadaan telanjang.
Aaaaaaaaaargh!
Jesicca berteriak histeris melihat pemandangan itu. Edo yang mendengar teriakan sang istri, bergegas menyusulnya. "Sayang, ada apa?" Edo bertanya dengan cemas.
Edo langsung menyembunyikan wajah Jesicca di dalam dekapannya, saat melihat pemandangan tak senonoh di depan matanya.
Edo membawa Jesicca ke ruang tengah, lalu mendudukkannya di sofa. Jesicca menangis di sana. Pikirannya sudah berkelana jauh, dia takut Liora kenapa-napa.
Edo kembali memasuki kamar Liora. Dia menyiram wajah Khendrik menggunakan air satu ember. "Bangun, bajingan!" Edo meneriaki Khendrik begitu emosi.
Khendrik langsung tersadar, ia memegang kepalanya yang masih terasa pening. Wajah Edo memerah kala pikirannya teringat dengan kejahatan yang Khendrik lakukan terhadap Jesicca. "Apa yang kamu lakukan di sini, huh!"
Tanpa menunggu jawaban dari Khendrik, Edo langsung memberikan bogeman kepadanya. Sungguh Edo merasa jijik, melihat Khendrik yang telanjang bulat.
Setelah puas memukuli wajah Khendrik, Edo melemparkan pakaian Khendrik yang berserakan di lantai. "Pakai bajumu, lalu pergi dari rumah ini. Pergi yang jauh, sebelum kehancuran menjemputmu." ancam Edo.
Dengan sisa kekuatannya, Khendrik melangkah keluar dari rumah Liora, setelah memakai pakaiannya. "Sialan! Kacau! Semuanya kacau! Gara-gara Kenan yang menghancurkan rencanaku. Sekarang malah Edo juga ikut memukulku. Aaargh! Sial! Sial!"
...----------------...
Terimakasih untuk kalian yang masih setia membaca novel ku😘
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar 🤗.
Dukungan kalian sangat berarti untuk Author 🥰
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu🤗