
Sinar mentari pagi masuk melalui celah jendela di sebuah kamar VIP. Tempat Jessica di rawat.
Jessica mengerjapkan mata di kala silau menerpa wajahnya. Perlahan ia membuka mata, melihat ruangan bernuansa putih dan bau obat yang menyengat di indera penciumannya.
"Aku dimana?" Jessica melihat sekeliling ruangan itu. Matanya tertuju ke arah tangan yang terdapat selang infus. Dia bangun dan bersandar di ranjang. Jesicca masih belum ingat dengan kejadian semalam, atau dia hanya berpura-pura untuk tidak mengingatnya.
Klek ...
Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita cantik dan mungil. "Kak Jesi, kakak sudah sadar?" Liora berjalan cepat menghampiri Jessica, setelah ia meletakkan makanan yang dia beli dari luar, dia meletakkannya di atas meja.
Liora yang menemani Jessica semalaman, sedangkan Edo terpaksa harus pulang karena tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Tapi Edo berjanji akan kembali lagi untuk menemui Jesicca.
Liora sangat khawatir karena sang kakak sejak semalam belum sadar, saat dokter memberikan obat penenang.
"Liora, kakak kenapa? Kenapa kakak ada di sini?" tanya Jesicca penasaran.
"Apa kak Jesi tidak ingat tentang ...," Liora menggantung ucapannya, tak berani mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada sang kakak. Dia takut membuat kakaknya kembali histeris.
"Tentang apa Jes? Semalam kakak pergi ke pesta bersama dengan Edo dan Pak Khen ...," Jesicca menghentikan ucapannya saat akan menyebut nama Khendrik. Dadanya bergemuruh sangat cepat, ia berharap semua hanyalah mimpi. Namun saat melihat kondisinya yang sangat lemah, sudah menunjukkan bahwa kejadian itu nyata dan bukan mimpi yang ia harapkan.
"Kak ...," ucap Liora tercekat, ia tahu jika sang kakak sudah mengingat semuanya. Air mata menetes ketika melihat wajah Jesicca kembali pucat.
Jesicca menatap Liora dengan mata berkaca-kaca. Ia tak sanggup untuk mengeluarkan suara. Pasti Liora akan kecewa karena ia tidak bisa menjaga diri dari seorang pria brengsek. Jesicca merasa gagal menjadi seorang kakak, yang seharusnya memberikan contoh baik untuk adik semata wayangnya.
Liora langsung memeluk Jesicca, saat itu juga tangis keduanya pecah. Liora mengeratkan pelukan kepada sang kakak, untuk mentransfer kekuatan untuknya.
Hiks ... Hiks ...
__ADS_1
"Maafin kakak Li, kakak gagal menjadi seorang wanita dan seorang kakak yang baik. Seharusnya kakak memberikan contoh yang baik untuk kamu. Bukannya malah ... malah ...," ucap Jesicca tersedu-sedu.
"Shuut! Kak Jesi adalah kakak terbaik yang aku punya. Sudah ya kakak jangan sedih lagi, di sini ada aku yang akan menemani kakak. Jadi kak Jesi tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Semua itu bukan atas kehendak kakak," ucap Liora menenangkan Jesicca.
"Semua itu gara-gara pria tua b@jingan itu kak. Aku harus memberikan dia pelajaran. Dia harus membayar mahal atas apa yang sudah diberbuat," ucap Liora dengan mata yang menyala.
"Pelajaran seperti apa Li? Dia itu orang kaya, kita tidak akan menang melawannya," ujar Jesicca dan melerai pelukannya bersama Liora.
"Kakak tenang saja, aku sudah ada rencana untuk itu. Kakak harus berhenti bekerja di perusahaan Khendrik. Mulai sekarang kakak tidak boleh bekerja, biarkan aku saja yang bekerja."
"Kakak memang akan berhenti dari perusahaan itu Li. Tapi, untuk tidak bekerja kakak tidak setuju, kakak akan mencari pekerjaan lain, kakak gak mungkin membiarkan kamu berkerja seorang diri."
"Ya sudah, kita pikiran lagi nanti kak. Sekarang kakak harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran. Lupakan apa yang terjadi meskipun itu sulit. Aku yakin kak Jesi bisa, kakak adalah wanita kuat." Liora tersenyum lembut untuk menyemangati Jesicca.
Jesicca hanya mengangguk pelan tanpa mau menjawab. Mau bagaimana pun Jesicca tetap merasa trauma dengan kejadian itu. Dia hanya pura-pura tegar di hadapan Liora, agar Liora tidak merasa sedih dengan keadaannya sekarang.
Liora berjalan ke arah meja untuk mengambil makan yang dia beli. Liora membuka bungkus makanan itu lalu menyendoknya untuk di berikan kepada Jesicca. Karena Liora tahu kalau Jesicca tidak akan pernah mau makan makanan dari rumah sakit. Meskipun makanan itu khusus di masak untuk pasien VIP, yang sudah pasti lebih higenis.
"Tapi kakak tidak lapar Li."
"Kakak harus makan, kalau kakak gak makan nanti tambah sakit. Jika kakak sakit, terus yang nemenin aku wisuda siapa?" ujar Liora dengan wajah sedih.
"Baiklah kakak akan makan, wisuda kamu kapan?"
Jesicca terpaksa harus buka mulut dan mengunyah makanan yang Liora berikan, meskipun sebenarnya dia sangat tidak berselera untuk makan apapun.
"Dua minggu lagi aku wisuda kak. Kakak harus datang mendampingi aku saat acara nanti."
__ADS_1
"Iya, kakak pasti datang sayang," jawab Jesicca sambil tersenyum tipis.
klek ...
Seorang dokter datang, dokter yang sejak tadi malam menangani Jesicca.
Jesicca dan Liora segera menghabiskan makannya. Karena dokter akan memeriksa keadaan Jesicca.
"Selamat pagi Bu." sapa sang dokter kepada Jesicca dan Liora.
"Pagi dok." jawab Jesicca dan Liora dengan serempak.
"Bagaimana, apa yang ibu rasakan? Apa masih ada keluhan?"
"Tidak ada dok, saya hanya ingin segera pulang."
Jesicca menjawab dengan cepat.
"Kak!" Liora memelototi Jesicca, bisa-bisanya Jesicca mau pulang dalam keadaan lemah seperti ini.
"Sabar ya Bu. Saya periksa dulu." Dokter langsung memeriksa keadaan Liora.
"Wanita ini sangat kuat, meskipun keadaan mentalnya terguncang, tapi dia tetap terlihat tegar. Aku kira keadaannya akan semakin memburuk setelah sesuatu menimpanya. Apalagi semalam dia sempat histeris." batin sang dokter. Ia menatap Jesicca dengan rasa takjub.
"Semuanya sudah normal. Hanya tinggal menunggu air infusnya habis saja ya Bu, jika ingin pulang. Agar kondisi ibu semakin stabil dan tidak ibu lemah," tutur sang dokter.
"Baik dok, saya akan menunggu, terimakasih dok," ucap Jesicca dengan tulus.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya ke ruangan saya dulu."
Setelah kepergian dokter, Liora membantu Jesicca untuk berbaring di ranjang. Agar kembali beristirahat. Sedangkan dirinya duduk di samping Jesicca. Liora merogoh ponselnya yang berada di saku celana bagian belakang. Dia akan mengirim pesan kepada Edo untuk memberikan kabar, jika sang kakak sudah sadar.