
Happy Readingš„°
Bukan cuma Bastian yang berbincang dengan Edo, ternyata masih ada teman seangkatannya yang juga hadir di acara itu. Akhirnya Edo terus berbincang bersama teman-temannya. Ia sampai lupa dengan ke keberadaan Jesicca. Sedangkan Jesicca yang melihat itu memilih pamit ke toilet karena merasa mulas dan juga merasa sedikit bosan karena tidak mengerti dengan arah perbincangan mereka.
"Ed, aku ke toilet sebentar," pamit Jesicca.
Edo terkejut dengan ucapan Jesicca yang menepuk pelan lengannya. Ia benar-benar lupa jika datang bersama dengan Jesicca. "Apa perlu aku antar?" tanya Edo dengan perhatian , takut Jesicca kesasar di keramaian.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Jesicca menolak dengan halus. Masak iya hanya ke toilet dirinya harus di antar, sudah seperti anak kecil saja pikirnya.
"Baiklah hati-hati jika butuh sesuatu telpon saja aku, oke. Aku tunggu kamu di sini."
"Iya bawel." Jesicca langsung pergi meninggalkan Edo dan langsung menuju ke toilet. Keadaan ruang pesta masih tampak ramai meskipun jam sudah menunjukkan jam 10 malam, ia berencana akan mengajak Edo pulang setelah selesai dari toilet.
Di sisi lain.
Khendrik juga masih berbincang mengenai bisnis dengan rekan kerjanya yang terdiri dari lima orang. Ia tetap tidak menghiraukan keberadaan lawan bisnis yang sering curang itu. Hingga Morgan tiba-tiba menyela perbincangan mereka dengan menyodorkan sebuah minuman untuk mereka semua.
"Minum lah, apa kalian tidak haus sedari tadi terus berbincang," ucap Morgan dan menyodorkan beberapa gelas yang berisi jus ke hadapan mereka yang ia ambil dari nampan seorang waiters di sana. "Tenang saja ini tidak beracun. Jika kalian tidak percaya aku akan meminumnya terlebih dahulu." Morgan meminum salah satu jus di gelas yang ia bawa agar mereka semua percaya kalau dalam minuman itu tidak ada sesuatu yang berbahaya.
Setelah melihat Morgan baik-baik saja setelah itu dan karena Morgan terlalu memaksa agar mereka mau meminum apa yang dia bawa. akhirnya Khendrik dan yang lainnya meminum jus itu meskipun awalnya mereka merasa curiga, tapi mereka mencoba untuk mempercayainya karena tidak mungkin ditempat ramai seperti itu Morgan bisa melakukan hal yang aneh-aneh dan berbahaya.
Morgan tampak tersenyum misterius setelah melihat mereka semua meminumnya terutama dengan Khendrik. Setelah Khendrik menghabiskannya yang memang merasa haus, Morgan langsung pamit pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Aku pergi ke sana dulu ya." Morgan menunjuk sekumpulan orang yang berada di sudut ruangan. Khendrik dan rekan bisnisnya hanya mengangguk tanpa berniat untuk menjawabnya.
Beberapa saat kemudian.
Khendrik merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasakan panas yang luar biasa. Keringat dingin mulai bercucuran. Gejolak dalam dirinya tiba-tiba meningkat. Ingin rasanya ia menuntaskan itu.
Khendrik memilih pergi dari ruangan acara. Sekuat tenaga ia menahan hasrat yang sedang menggebu didalam dirinya. Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, agar orang lain tidak merasa curiga. Khendrik berjalan cepat untuk keluar dari ruangan, agar segera sampai di basement. Ia harus segera pulang ke rumah.
"Sial! Siapa yang sudah berani menjebak ku! Aku yakin pasti ada yang mencampurkan sesuatu ke dalam minuman itu!" ucap Khendrik dengan marah.
"Sialan! Dasar Morgan brengsek! Khendrik baru teringat dengan minuman yang di berikan oleh Morgan. Ia masih terus berusaha keluar dari acara dan harus melewati kerumunan para tamu yang masih terlihat banyak di ruangan itu. Ia tak perduli dengan tatapan para tamu yang merasa aneh dengan sikapnya.
...----------------...
Saat sampai di tengah-tengah ballroom ia berpapasan dengan Khendrik yang juga terlihat buru-buru. "Pak, anda kenapa?" tanya Jesicca saat melihat wajah Khendrik yang bercucuran keringat dan tampak gelisah.
"Saya harus pulang." Khendrik menjawab dengan suara berat, ia benar-benar sudah tidak tahan ingin segera pulang dan menuntaskan sesuatu yang sejak tadi bergejolak di dalam tubuh dan pikirannya. Ia terus berjalan meninggalkan Jesicca yang masih menatap penuh rasa cemas.
Jesicca yang melihat Khendrik berjalan dengan sempoyongan dan sedikit kacau hingga tanpa sadar menabrak sebagian tamu di sana, ia berencana membantu Khendrik dengan memapahnya sampai ke keluar acara. Dia pikir Khendrik sedang tidak enak badan. Jesicca langsung pergi menyusul Khendrik yang masih berada tidak jauh dari tempat ia berada.
"Pak, anda baik-baik saja? Biar saya bantu bapak sampai keluar dari ruangan ini." Jesicca langsung menopang tubuh Khendrik dan memegang tangannya agar tidak terjatuh.
Khendrik yang mendapat sentuhan dari Jesicca, tubuhnya merespon cepat hingga ia merasa semakin kepanasan. Pikirannya masih sadar dan mencoba menolak niat baik Jesicca yang ingin menolongnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena hasrat di dalam dirinya semakin meronta saat mendapatkan sentuhan itu.
__ADS_1
Entah berapa tingginya dosis yang dicampur dengan minuman itu hingga bereaksi sangat cepat di tubuhnya dalam beberapa menit saja. Khendrik sangat marah ia ingin memberikan pelajaran kepada Morgan, tapi tidak untuk saat ini.
Sekarang ia harus segera pulang ke rumah dengan tujuan menemui istri tercinta agar hasratnya tersalurkan. Meskipun ia tahu Maura sedang tidak enak badan tapi tidak ada jalan lain selain meminta bantuannya.
"Tidak usah, saya bisa sendiri." khendrik benar-benar menolak bantuan dari Jesicca. Tapi bukan Jesicca namanya jika ia menyerah begitu saja apalagi dalam menolong seseorang dan orang itu adalah atasannya. Ia tidak menghiraukan ucapan Khendrik dan terus membopong tubuh Khendrik sampai keluar dari ruang pesta dan menuju basement tempat mobil atasannya berada. Ia merasakan ketegangan pada tubuh Khendrik saat memegangnya entah apa yang terjadi, Jesicca hanya bisa membantunya sampai ke dalam mobil karena ia kepikiran dengan Edo yang pasti sedang menunggu dirinya di dalam.
Tubuh Khendrik gemetar menahan hasrat yang tak dapat di bendungnya. Sekedar berkata pun ia tidak bisa dan hanya duduk berdiam diri di dalam mobil setelah Jesicca mengantarnya. Ia sangat tersiksa dengan gejolak yang meronta di dalam dirinya.
Jesicca tampak heran karena mobil sang atasan tidak melaju dan tetap pada posisinya. Ia mencoba untuk melihat keadaan Khendrik di dalam mobil.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Pak, anda baik-baik saja? Kenapa mobilnya tidak jalan?" Jessica mengetuk jendela kaca mobil Khendrik. Ia berharap mendapatkan respon dari sang atasan. Hingga akhirnya pintu mobil terbuka menampilkan sosok Khendrik yang terlihat sangat kacau.
Sreet ...
Brak ...
"Pak ...!"
...----------------...
Bersambung ...
__ADS_1