Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 91. Ungkapan Cinta.


__ADS_3

Happy ReadingπŸ₯°


Pagi hari.


Kenan, Liora, Jesicca, dan Edo sudah stay di restoran yang ada di hotel itu. Mereka akan melaksanakan sarapan pagi. Namun mereka belum memulainya karena sedang menunggu Maura dan Niko yang belum berkumpul di sana.


"Tumben mama lama banget," ucap Kenan merasa heran.


"Mungkin mama masih istirahat, semalam mama menemani para tamu sampai lewat tengah malam, Ken." jawab Jesicca.


"Ya udah kalau gitu kita sarapan duluan biar mama sarapannya sama Om Niko saja. Takutnya mama siang bangunnya." Kenan memberikan usul. Yang di angguki oleh mereka semua.


Akhirnya mereka sarapan lebih dulu, para istri memakan sarapannya dengan sangat lahap. Liora dan Jesicca seperti orang kelaparan yang tidak makan selama 1 hari full. Itu semua karena ulah para suami yang terus menggempur mereka sampai dini hari. Tentu saja para istri merasa lelah, sebab tenaganya sudah terkuras habis.


"Sayang, pelan-pelan makannya." Kenan memperingati Liora karena takut tersedak jika makannya secepat itu.


"Aku sangat lapar, itu semua gara-gara kamu! Bilangnya tidak akan menyentuh aku karena aku lelah. Tapi pas dengar suara berisik dari kamar sebelah malah menyerang ku habis-habisan." cerocos Liora panjang-lebar.


Ungkapan Liora sontak membuat Jesicca tersedak dengan makanannya. Sedangkan Kenan hanya terkekeh kecil.


Uhuk ... Uhuk ...


Edo dengan cepat mengambilkan air minum untuk Jesicca. "Pelan-pelan, Sayang. Lihat, kamu tersedak 'kan."


"Aku kaget Mas!" Jesicca berbisik di telinga Edo. Ia malu sendiri dengan ucapan Liora. Kamar sebelah adalah kamar yang ditempati oleh dirinya dan Edo. Apa benar suara permainannya semalam terdengar sampai ke kamar Liora.


"Sudahlah, biarkan saja. Anggap saja kita tidak mendengar percakapan mereka." Edo menyendokkan kembali makanan yang masih tersisa di piringnya.


Mereka kembali sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Sehabis sarapan mereka berempat menuju ke kamar masing-masing. Membereskan pakaian mereka yang akan di bawa pulang. Hari ini mereka semua akan check-out dari hotel. Kenan dan Liora akan berbulan madu ke luar negeri asalkan kandung Liora sehat dan aman untuk pergi dalam perjalanan jauh.


Liora berdiri di depan pintu kamar Maura, tangannya mengetuk pintu tersebut. Berharap Maura akan mendengarnya. Namun hingga beberapa kali Liora mengetuk pintu itu, masih tidak ada sahutan dari dalam sana.


"Sepertinya mama benar-benar kecapean, Kenan. Aku takut mama kenapa-napa."


"Sudahlah, lebih baik kita pulang lebih awal. Biarkan mama istirahat sepuasnya. Nanti dia pulang sendiri kok."


"Ken! Dia itu mama kamu loh. Kamu kok gitu ngomongnya sih!"

__ADS_1


"Memang kenapa, Sayang. Aku hanya memberikan saran saja. Ya udah aku kirim pesan saja sama mama. Nanti aku beritahu kalau kita berempat akan check-out duluan. Biar mama tidak khawatir dan tidak bingung jika saat bangun nanti mama tidak menemukan keberadaan kita."


"Hm, oke deh." Liora pasrah saja dengan ucapan Kenan. Tepat jam 9 pagi mereka mereka berempat pulang ke rumah masing-masing.


Edo dan Jesicca langsung menuju ke rumah pertama, sedangkan Kenan dan Liora pulang ke rumah kedua. Mereka berada di mobil yang berbeda. Jadi saat pertengahan jalan mobil yang mereka kendarai bertolak arah.


"Sayang, kira-kira kamu mau kita honeymoon kemana?" tanya Kenan dengan tatapan lurus ke depan.


"Memangnya harus ya?"


"Harus dong! Masa iya kita nikah tapi tidak ada honeymoon!"


"Nanti kita pikirkan bersama. Saat ini aku hanya ingin cepat sampai ke rumah, Kenan."


"Siap, Sayang."


Kenan menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah.


...----------------...


Di Hotel.


Deg.


Jantung Maura berpacu dengan cepat, ketika netranya menangkap sosok laki-laki yang sangat ia kenal berada di atas ranjang sama dengannya. Apalagi dalam keadaan telanjang bulat. Maura melihat ke arah tubuhnya sendiri yang ternyata juga tidak memakai sehelai benang pun.


Aaaargh!


Maura berteriak sambil lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Niko yang mendengar teriakan Maura langsung bangun dari posisi tidurnya. Maura menutup kedua matanya saat melihat sesuatu yang bergelantungan di pangkal paha, Niko.


Niko reflek mengambil bokser yang teronggok di atas lantai, lalu memakainya.


"N-niko, apa yang kamu lakukan?" tanya Maura dengan terbata-bata.


"Tenang, Maura. Aku bisa jelaskan." Niko begitu panik melihat ekspresi Maura yang tampak frustasi.


"Kenapa kita berada di ranjang yang sama? Tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kita 'kan?"

__ADS_1


Hati Niko mencelos saat mendengar pertanyaan dari Maura, yang artinya dia tidak mengingat kejadian semalam. "Apa kamu tidak mengingat kejadian semalam?"


Maura menggelengkan kepala tanda tak mengingat apapun. "Apa kita sudah melakukan hal terlarang, Niko?"


"Hem." Niko menganggukkan kepala. Lebih baik Niko tidak usah menjelaskan soal kejadian semalam. Biarlah Maura mengingatnya sendiri. Lagi pula ia tidak menyesal sudah melakukan hal terlarang dengan Maura. Malahan Niko ingin mengulangnya lagi.


Maura memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pening. Kilasan tentang kejadian semalam melintas di Kepalanya. Kepingan demi kepingan berkumpul mejadi satu, hingga Maura mengingat semuanya. Ia menutup mulut tak percaya, kepalanya terus menggeleng.


Maura sangat malu kepada Niko, dia ingat betul bahwa dirinya yang sudah memaksa Niko untuk berbuat itu.


"N-niko! Maafkan aku!" Maura berkata dengan tulus.


"Untuk?" Niko menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti.


"Untuk kejadian semalam. Itu benar-benar di luar kendaliku."


"Tidak masalah. Aku mengerti."


Maura menatap manik mata Niko yang juga menatapnya. Maura melihat tidak ada raut menyesal di wajah Niko.


"Apa kamu tidak menyesal, Nik?"


"Tidak! Untuk apa aku menyesal. Malah aku beruntung dan sangat bahagia bisa melakukan itu bersama dengan wanita yang aku cintai."


"Maksud kamu?"


"Maura! Aku mencintai kamu dari dulu hingga sekarang, dan sampai masa yang akan datang!"


Maura membulatkan mata, tubuhnya seakan membeku. Ungkapan cinta dari Niko membuatnya tak percaya. Bagaimana mungkin Niko mencintai dirinya sejak dulu?


Maura juga merasa aneh dengan perasaannya. Kenapa dia tidak marah kepada Niko yang sudah melakukan itu bersamanya. Meskipun Maura dalam keadaan mabuk, tapi Niko bisa saja menolak. Namun Maura malah merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya.


"Mungkin kamu masih bingung dan bertanya-tanya tentang perasaan ku, yang mencintai kamu sejak dulu. Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang kamu bersihkan dulu tubuhmu. Setelah itu kita sarapan, aku sudah memesan makanan kepada pelayan hotel."


"Aku akan menjelaskan semuanya, Maura!" batin Niko.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar 😘😘😘😘


__ADS_2