Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Terjerat Dendam Dan Cinta Mr. Adelio


__ADS_3

Suara bising di sebuah bar begitu memekakkan telinga. Lampu disko yang berkerlap-kerlip menyilaukan mata dan membuat kepala pusing. Lantunan musik terdengar begitu keras, hingga getarannya tembus ke dalam jantung.


Seorang laki-laki tampan berperawakan tinggi dengan tubuh yang kekar, alis tebal, bibir sensual, hidung mancung, serta mata layaknya elang begitu tajam. Sejak satu jam yang lalu ia menenggak minuman beralkohol dengan kadar tinggi. Namun, tidak serta-merta membuat dirinya hilang kesadaran. Mungkin karena dia terlalu jago dalam hal meminum alkohol.


"Leo, berhenti. Kamu sudah menghabiskan 5 botol vodka," ucap seorang laki-laki yang sejak tadi menemani Leo di meja bar. Ia mengambil alih botol yang berada di dalam genggaman Leo.


"Tidak usah ikut campur, Raka. Lebih baik kamu pulang saja." Leo yang malas merebut botol vodka itu, memilih menjetikkan jari kepada bartender untuk membawakan satu botol vodka lagi untuknya.


Suasana hati Leo sedang kacau, dia memang sering melampiaskannya kepada minuman keras. Leo rasa itu adalah cara terbaik untuk menghilangkan rasa stres di pikirannya. Ia kembali meneguk vodka itu layaknya meminum air putih biasa.


Raka menghembuskan nafas kasar. Ia memang tidak akan bisa mencegah Leo yang keras kepala supaya berhenti minum. Hanya ada satu orang yang bisa membantunya dalam hal ini. Tanpa banyak berpikir Raka menghubungi seseorang melalui panggilan telepon.


"Halo, Vania. Cepat datang ke bar xxx," cerocos Raka sebelum sang penerima telepon menyapanya. Tanpa menunggu jawaban dari Vania, Raka langsung mematikan sambungan telepon itu. Karena ia yakin kalau Vania pasti akan datang ke sana seperti hari-hari sebelumnya.


"Kenapa kamu menghubunginya?" sentak Leo sambil tersenyum kecut. Ia sangat kecewa tentang apa yang dia dengar dari pembicaraan mama dan papanya waktu di rumah.


Raka tidak menjawab pertanyaan Leo, sebab jika di jawab pasti akan panjang urusannya. Apalagi Leo sudah terlihat mulai mabuk, lebih baik Raka diam saja. Ia duduk gelisah di hadapan Leo yang masih setia dengan minumannya.


Tak berselang lama, orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Membuat Raka bisa bernafas lega. Ia tidak tahu caranya menghadapi Leo yang sangat keras kepala itu.


"Leo!" teriak Vania saat melihat kakak sepupunya tengah mabuk. Dia sampai jengah dengan sifat Leo yang sering kali menghabiskan waktu di bar.


"Jangan berteriak, Cla. Suara cempreng mu bisa merusak gedang telingaku," protes Leo sambil menutup kedua telinganya.

__ADS_1


Setelah melihat Vania datang ke sana Raka memilih pulang. Sebab ia masih ada janji dengan Kaila, sang kekasih.


"Ayo, kita pulang." Vania menarik tangan Leo lalu membawanya keluar dari dalam bar, membuat kepalanya pusing karena bau alkohol yang begitu menyengat di indera penciumannya.


Dengan susah payah Vania memapah tubuh Leo ke arah mobilnya yang terparkir di depan bar. "Benar-benar menyusahkan! Memangnya tidak ada kerjaan lain apa? Kenapa harus pergi ke bar?" decak Vania dengan kesal. Ia mulai menyalakan mobilnya dan pergi dari area bar. Ia harus mengantarkan Leo ke rumahnya.


"Jangan bawa aku pulang ke rumah, Cla. Antarkan saja ke villa," pinta Leo dengan suara berat. Sebenarnya ia tidak terlalu mabuk dan masih sadar dengan keadaan di sekelilingnya. Namun, Leo harus berpura-pura mabuk demi melancarkan rencananya.


Vania tidak menggubris ucapan Leo, tatapannya fokus ke arah jalanan. Ingin marah rasanya tidak bisa, apalagi saat mendengar Leo memanggilnya 'Cla' nama panggilan kesayangan dari Leo sejak mereka masih kecil. Entah mengapa Leo selalu bisa meluluhkan hati Vania ketika dia sedang marah.


Vania menghentikan mobilnya di depan villa yang terletak cukup jauh dari rumah kedua orang tuanya dan kedua orang tua Leo. Dia memang sering menginap di villa itu bersama dengan Leo. Mungkin sekarang pun Vania juga akan menginap di sana. Sebab tidak mungkin dirinya pergi meninggalkan Leo seorang diri dalam keadaan mabuk.


Vania membawa Leo memasuki kamar utama, ia membaringkan Leo di atas ranjang king size. Dengan cekatan Vania membuka sepatu dan kaos kaki Leo. Setelah itu Vania juga membantu membuka jas yang dikenakan oleh Leo. Vania memang sangat perhatian terhadap kakak sepupunya itu. Bukan hanya Vania, tapi Leo juga begitu. Malahan Leo yang lebih protektif terhadap Vania.


Leo hanya diam saja, ia masih memikirkan apakah akan melanjutkan rencananya atau tidak. Hinga ia memutuskan untuk menjalankan rencana itu. Leo menarik pergelangan tangan Vania ketika akan pergi dari kamar itu.


"Ada apa, Leo?" tanya Vania dengan suara lembutnya.


"Jangan pergi Cla. Aku membutuhkan mu saat ini."


"Kamu butuh apa? Biar aku ambilkan."


"Tapi, aku tidak yakin kalau kamu bisa memenuhi kebutuhanku."

__ADS_1


Vania mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. Ia melihat tatapan aneh dari sorot mata Leo yang tak seperti biasanya. "Memangnya apa yang kamu butuhkan? Aku pasti akan memberikannya," ucap Vania dengan yakin.


"Aku butuh pelampiasan untuk menuntaskan has-ratku, Cla." Leo menatap Vania dengan tatapan memohon.


"M-maksud kamu apa? Jangan bilang ...."


"Iya, aku butuh itu. Jika kamu tidak bisa membantu aku, tolong panggilkan wanita malam saja. Karena aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, Cla," tutur Leo dengan suara parau.


Vania berpikir sejenak untuk mencerna ucapan Leo dan mencari solusi tentang itu. Vania tidak mungkin membiarkan Leo menghabiskan malam dengan wanita malam. Pastinya mereka sudah tidak higenis dan bisa saja mereka membawa penyakit menular. Vania tidak akan membiarkan itu terjadi kepada Leo.


"Kamu mencintai aku 'kan, Cla?" tanya Leo sendu. Ia sangat tahu kalau Vania mencintainya. Bahkan Leo juga sangat mencintai Vania sejak mereka masih kecil.


Vania menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Leo. Ia sangat mencintai Leo, kakak sepupunya sendiri. Kedua orang tua mereka juga sudah tahu tentang perasaan mereka. Namun Vania dan Leo sama-sama belum siap menjalin kasih karena takut akan cemoohan orang-orang yang akan menilai hubungan mereka seperti apa nantinya, dengan status mereka yang masih bersaudara.


"Kalau begitu kamu bersedia 'kan menjadi pelampiasan has-ratku malam ini?"


"Tapi--"


"Shuuut! Kamu tidak perlu takut, Cla. Aku akan bermain dengan sangat lembut," ucap Leo untuk merayu Vania agar mau menuruti keinginannya. Dalam hati Leo tersenyum sinis melihat ekspresi Vania yang kebingungan dan juga ketakutan.



__ADS_1


Jangan lupa mampir ya teman-teman 😘 Ini sekuel dari novel yang ini🥰 Kalau bingung cari judulnya, tinggal cek di profil ku terimakasih 🥰


__ADS_2