
Happy Reading 🥰
Saat sampai di rumah sakit, Liora langsung berlari menuju ruang VIP tempat kakaknya dirawat. Edo yang memesan kamar itu, ia ingin penanganan yang terbaik untuk Jesicca selama masa pemulihan.
Klek ...
Liora membuka pintu ruang VIP, atensinya tertuju kepada sosok wanita cantik yang terbaring lemah di atas ranjang, ditemani oleh sosok laki-laki yang selalu bersamanya sejak ia bekerja. Liora menghampiri kakaknya, air mata tak dapat di bendung lagi, tangisnya pun pecah. Ia sangat takut kehilangan sang kakak, satu-satunya keluarga yang ia punya dan selalu menyayangi nya lebih dari apapun.
"Kak, kenapa kakak begini? Apa yang terjadi?" tanya Liora kepada Edo yang berada di samping kakaknya. Tatapannya tetap tertuju kepada Jesicca, membelai rambut sang kakak dengan sangat lembut dan tak ingin membuat kakaknya terusik karena sentuhannya.
"Kita bicara di sofa!" setelah menghela nafas panjang, akhirnya Edo memutuskan untuk berbicara jujur mengenai apa yang terjadi kepada Jesicca. Ia tak ingin menutupi masalah ini lagipula Liora memang harus tahu agar ia bisa berpikir dengan cara apa ia menyikapi kakaknya saat sadar nanti.
Mereka duduk di sofa ruangan itu. Terlihat jelas ekspresi serius di wajah Edo. "Ceritakan kak!" cetus Liora dengan tidak sabarnya.
Edo menarik nafas sebelum menceritakan semuanya. Setelah itu ia menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Liora tentang apa yang ia lihat dan ia simpulkan tentang kejadian itu. Dan juga pernyataan dari dokter.
Liora menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia terus menggelengkan kepala tanda tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Edo. Matanya sudah berkaca-kaca dan siap menumpahkan genangan yang terlihat penuh di peluk mata. Hingga akhirnya ia tak dapat membendung nya lagi. Tangis nya pecah saat itu juga.
"Gak mungkin! Kak Edo pasti bohong!" ucap Liora tak terima dan tak ingin percaya. Tapi saat melihat ekspresi serius di wajah Edo, Liora kembali terisak karena sudah yakin apa yang di katakan Edo itu benar.
Tidak!
Jangan!
Aku mohon jangan lakukan itu!
Aaaargh ...
Aaaargh ...
__ADS_1
Tiba-tiba Jesicca berteriak histeris di atas ranjang. Liora dan Edo langsung berlari menghampiri Jesicca. Keringat bercucuran dikeningnya, dia terus meronta dan semakin histeris dengan mata yang masih terpejam. Tangannya mencekram selimut yang dikenakan.
"Kak tenang kak! Ini aku Liora kak!" ucap Liora yang berusaha menenangkan sang kakak dan mengusap keringat di keningnya menggunakan tapak tangan.
Edo langsung memencet tombol di samping ranjang untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian seorang dokter dan perawat masuk keruangan itu. Dokter langsung memberikan suntikan penenang untuk Jesicca. Setelah itu Jesicca langsung lemas dan tertidur kembali.
"Dok, kenapa kakak saya seperti ini?" tanya Liora dengan cemas.
"Apa dia akan terus seperti tadi jika sadar nanti dok?" ujar Edo menimpali.
"Saya sudah memberikan obat penenang. Tapi jika dia nanti sadar dan tetap seperti tadi, maka kita harus bertindak. Karena keadaan mental pasien mungkin sedikit terganggu, akibat dari suatu kejadian yang dia alami dan akhirnya membuat dia trauma," pungkas dokter.
"Apa itu artinya kakak saya akan gila dok?"
"Tentu saja tidak. Maka dari itu, kalian harus berdoa dan terus memberikan support kepada pasien, agar dia bisa lebih tenang. Dan sesuatu yang kita takut kan tidak terjadi."
"Baik dok, terimakasih."
Sedangkan Edo, dia hanya diam membisu. Ia berharap semuanya hanya mimpi, karena ia benar-benar tidak sanggup melihat kondisi Jesicca yang sangat memprihatinkan.
...----------------...
Di sisi lain.
Khedrik masih berada di dalam mobil dengan posisi yang sama.
"Eungh!" Khendrik mengerang, merasakan sakit di bagian wajahnya. Hingga ia meringis saat tangan menyentuh sudut bibirnya. Ada darah yang menempel di sana. Kepalanya masih terasa pening, ia bangun dari posisi tidur dan duduk bersandar di kursi kemudi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Khendrik terperanjat melihat keadaan dirinya yang tanpa sehelai benang pun. Ia mengingat-ingat kembali kejadian dimana ia saat kepanasan gara-gara minuman yang di berikan oleh Morgan.
__ADS_1
Matanya kembali membulat sempurna, disaat ia mengingat kepingan kejadian dimana ada Jesicca yang menolongnya dan berakhir dengan perilaku bi@dab yang ia berikan.
Sial! Sial!
"Tidak! Itu pasti tidak benar!" monolog Khendrik sambil menggeleng kan kepala. Ia memungut pakaian yang berserakan di dalam mobil. Netranya tertuju ke kursi sebelah. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Keringat dingin mulai bercucuran ditubuhnya. Badannya gemetar, tangannya terulur menyentuh bercak darah yang mulai mengering di kursi itu.
Air mata menetes bersamaan dengan rasa penyesalan yang menyelimuti hatinya.
"Maafkan saya Jes." Khendrik menangis, menyesali perbuatannya yang tak terpuji. Ia tidak menyangka jika melakukan itu dengan sekertarisnya sendiri. Dan merenggut kesuciannya.
Selama ia menikah, sekalipun tidak pernah tergoda dengan godaan para wanita diluar sana, karena ia hanya mencintai dan setia kepada Maura, Istrinya. Namun saat ini, dia sendiri yang memaksa seorang gadis untuk menjadikan pelampiasan hasrat yang tak pernah ia inginkan.
Setelah membenahi pakaiannya, Khendrik melihat wajahnya pada kaca spion tengah di dalam mobil.
Ia terkejut melihat wajah yang sudah babak belur. Dia sama sekali tidak mengingat orang yang telah memukulnya. Tapi satu yang pasti, orang itu yang telah menolong Jesicca saat ia berhasil menodainya.
"Siapa yang memukulku? Apakah tadi banyak orang sehingga aku di keroyok? Tapi itu tidak mungkin, jika memang iya pasti aku sudah di seret ke kantor polisi karena kasus pelecehan s*ksual," ucap Khendrik dengan penasaran. "Atau ..., Edo! Pasti dia yang menghajar ku karena tidak terima Jesicca dilecehkan." tambahnya lagi.
"Aku harus menemui Jesicca dan meminta maaf kepadanya. Ya meskipun kata maaf darinya sangat lah mustahil. Tapi aku akan berbicara dengannya besok di kantor. Jesicca pasti tetap bekerja," ucapnya dengan yakin. Yang di pikirkan sekarang hanyalah pulang, sebelum Maura khawatir karena belum pulang sampai waktu tengah malam. Keadaan di basement pun sudah sepi, dan hanya tinggal beberapa mobil di sana. Mungkin acara pesta sudah usai.
Khendrik langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai ke rumahnya. Apalagi Maura sedang sakit dan Kenan tidak ada di rumah, pasti ia merasakan kesepian hanya di temani oleh pelayan di sana.
...----------------...
Bersambung ...
Terimakasih yang sudah setia membaca karya Author🥰.
Semoga kalian betah dan suka dengan cerita nya😘.
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, komen, Vote dan giftnya ya😘😘.
Aku maksa loh🤣🤣🤣🤣