Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 55. Korban Tabrak Lari.


__ADS_3

Happy Reading🄰


Setelah mengantarkan Maura pulang ke rumah, Khendrik kembali ke area cafe Rindu. Ia sedang mengawasi seseorang dari jarak jauh. Terlihat dari wajahnya, Khendrik tengah merencanakan sesuatu yang jahat. Entah itu ditujukan kepada siapa.


Kenan masih betah berada di cafe itu, meskipun ia telah di usir beberapa kali oleh Liora, namun Kenan tidak mengindahkan ucapan Liora. Kenan terus mengikuti kemana pun Liora pergi, ia sudah seperti perangko yang terus menempel kepada Liora. Tentu saja hal itu membuat Liora kesal setelah mati.


"Kenan, sampai kapan kau akan menjadi penguntit, huh? Malah ngintilin aku terus dari tadi," sungut Liora kesal.


"Jangan marah-marah sayang, nanti cepat tua. Lebih baik kamu duduk saja, biar aku yang bantuin kamu mengantarkan pesanan para pelanggan," Kenan mendudukkan Liora di kursi dekat kasir. Hingga Jesicca yang ada di sana melihat adegan itu.


Jesicca sangat senang, akhirnya cinta Liora terbalas. Namun, ia masih tidak rela jika Liora menikah dengan anak dari laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya.


Kenan terpaksa harus pergi dari cafe, ia baru ingat jika hari ini ada meeting dengan klien di kantornya. "Sayang, aku ke kantor dulu ya, besok aku ke sini lagi," pamit Kenan kepada sang bidadari.


"Hem." sahut Liora sekenanya.


Kenan celingak-celinguk melihat orang-orang di sekitarnya. Setelah di rasa aman, dengan cepat Kenan mencium pipi Liora.


Cup.


Liora yang mendapatkan ciuman mendadak dari Kenan hanya diam membeku di tempatnya. wajahnya merona merasakan ciuman itu. Sedangkan Kenan langsung lari terbirit-birit karena takut mendapat amukan dari Liora.


"Astaga, berani sekali dia." sungut Liora.


"Bilang aja kurang, iya kan?" todong Jesicca. Ia juga terkejut dengan tindakan Kenan, namun, Jesicca tidak bisa berbuat apa-apa, selain menjadi penonton.


"Apaan sih Kak." Liora pergi dari depan kasir. ia tidak ingin terus-menerus di goda oleh sang kakak.


Dari kejauhan Khendrik melihat adegan itu. Hatinya memanas saat melihat Kenan mencium pipi Liora. Ia tidak rela Kenan menyentuh Liora lagi, setelah kejadian di kantor dulu.

__ADS_1


"Anak kurang ajar! Berani-beraninya dia mencium wanitaku. Aku harus menyusun rencana baru untuk memisahkan Kenan dan Liora." monolog Khendrik.


Kenan pergi dari cafe tanpa menyadari kehadiran papanya di sana. Mungkin karena posisi Khendrik yang sedikit jauh dari cafe, hingga Kenan tidak bisa melihatnya.


Hari ini, Edo akan pulang lebih awal, karena permintaan sang mama. Di rumah Edo, tengah menyiapkan keperluan yang akan di gunakan untuk acara pernikahan Edo dan Jesicca. Maka dari itu Dewi menyuruh Edo dan Jesicca datang ke rumahnya. Namun Jesicca menolak dengan halus ajakan Edo, karena tidak ingin meninggalkan cafe yang sedang ramai-ramainya.


"Sayang, kamu yakin gak mau ikut ke rumah? Nanti kamu pulangnya sama siapa?" tanya Edo dengan khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Jesicca dan kandungnya jika dia terlalu lelah dalam bekerja.


"Gak apa-apa kok Ed. Salam sama mama, maaf aku tidak bisa ikut ke sana," ucap Jesicca dengan nada menyesal.


"Baiklah, tapi kamu tidak boleh terlalu lelah, kasian sama dede bayinya. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Soal mama, aku sudah memberitahunya tadi, kalau kamu tidak bisa ikut, dan mama memaklumi itu." Edo berkata dengan lembut.


Setelah berpamitan, Edo langsung pulang. Tak lupa ia juga mengecup kening Jesicca dengan sangat lembut. Entah kenapa perasaan Edo tidak enak. Ia takut terjadi sesuatu terhadap Jesicca. Tapi, atas desakan sang pujaan hati, akhirnya Edo mengalah, dan pulang sendirian ke rumah.


...----------------...


Khendrik tersenyum menyeringai di dalam mobil, saat melihat mobil Edo keluar dari area cafe. Berarti di dalam cafe hanya ada Jesicca dan Liora. Khendrik terus memperhatikan jam yang melingkar di tangannya, ia sepertinya sudah tidak sabar ingin melakukan sesuatu, namun tidak tahu itu apa.


Khendrik mengawasi gerak-gerik Jesicca dan Liora saat keluar dari dalam cafe. Saat keduanya menjalankan mobilnya, Khendrik dengan cepat juga menjalankan mobilnya, dan mengikuti mobil yang di kendarai oleh Jesicca dan Liora.


Jesicca menepikan mobilnya di dekat minimarket, ia akan membeli bahan pokok yang sudah hampir habis di rumah. "Kamu masuk duluan ke minimarket ya Li, kamu cari dulu bahan-bahan yang kita butuhkan. Kakak akan ke apotik dulu, mau beli obat vitamin buat bayi kakak, soalnya obat yang dari dokter sudah habis," ucap Jesicca panjang-lebar.


"Oke Kak. Nanti kakak nyusul ya, soalnya aku gak bawa uang. Hehe ...."


"Ya udah sana masuk." Jesicca mendorong pelan tubuh Liora, agar segera masuk ke minimarket. Sedangkan Jesicca melangkahkan kakinya untuk menuju ke apotik yang berada di seberang jalan dekat minimarket.


Jesicca Melihat ke kiri dan kanan untuk menyebrang jalan. Saat di rasa sepi, dan tidak ada pengendara yang lalu lalang, Jesicca langsung melangkahkan kakinya dengan cepat agar segera sampai di apotik. Namun, saat akan sampai ke depan apotik, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi mengarah kepada Jesicca.


Jesicca masih tidak menyadari akan mobil itu, karena ia hanya fokus ke apotik yang akan dia datangi. Hingga saat ia menoleh ke arah kanan, terangnya lampu dari mobil yang melaju itu, menyilaukan mata Jesicca, dan tiba-tiba ...

__ADS_1


Bruk ...


Aaaaaargh ...


Tubuh Jesicca terpental dengan sangat keras. Seketika itu juga, pandangan mata Jesicca menjadi gelap. Terakhir ia melihat banyak orang yang berkerumun di sekitarnya. "Liora ...." seru Jesicca di sela-sela kesadarannya yang masih tersisa.


Mobil yang menabrak Jesicca langsung pergi meninggalkan tempat itu. Jesicca meringis menahan sakit di kepala dan juga perutnya. Di kakinya telah banyak darah yang mengalir, dan itu membuat orang yang berkerumun di sana merasa panik.


Sedangkan Liora yang berada di dalam minimarket tengah gelisah menunggu kedatangan sang kakak. "Kenapa kak Jesi lama sekali, padahal sebentar lagi giliran aku yang bayar di kasir." ucap Liora yang tengah berada di antrian kasir.


Hingga tiba giliran Liora yang akan membayar barang belanjaannya, Jesicca tetap belum muncul. "Bak cepetan, kenapa lama sekali. Tinggal bayar aja, kita juga buru-buru ini." omel ibu-ibu yang tengah mengantri di belakang Liora.


Karena mendapatkan omelan yang bertubi-tubi, akhirnya Liora meng-cancel barang belanjaannya. Ia memilih keluar dari minimarket, dan hendak menyusul sang kakak ke apotik.


Liora di buat tekejut dengan kerumunan orang-orang di dekat apotik. Ia berlari dengan cepat untuk melihat ada apa di sana. "Permisi, ada apa ya Pak, kenapa banyak orang yang berkerumun di sana?" tanya Liora kepada salah satu bapak-bapak yang berada di dekat area apotik.


"Oh itu Bak, tadi ada korban tabrak lari. Kasian dia masih muda lagi," ucap bapak-bapak itu.


"Korbannya laki-laki atau perempuan, Pak?"


"Perempuan Bak."


Setelah mendapatkan informasi dari bapak-bapak tadi, entah mengapa perasaan Liora menjadi gelisah, dan tidak tenang. Pikirannya langsung tertuju kepada kakaknya yang tadi pamit untuk pergi ke apotik.


Tak ingin membuang waktu, Liora langsung masuk ke dalam kerumunan orang-orang di sana. Ia penasaran dengan korban kecelakaan itu. Hingga dirinya tiba di tengah-tengah kerumunan, Liora membulatkan matanya sempurna.Tubuhnya bergetar, air mata langsung mengalir di pipi mulusnya, tenggorokan terasa kering. Liora tak bisa berkata apa-apa, pikirannya mendadak kosong.


"Kak Jesi ...." ucap Liora dengan Lirih.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2