Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 44. Jujur Tapi Bohong.


__ADS_3

Happy Reading πŸ₯°


Eungh ... Aah ...


Jesicca tanpa sadar mengeluarkan suara indahnya, saat bibir Edo me***@t bibirnya. Meny**apnya dengan sangat dalam. Tapi, penuh dengan kelembutan. Mereka hanya sekedar ciuman biasa, untuk menyalurkan rasa cinta yang begitu dalam. Sama sekali tidak ada n**su dalam ciuman itu.


Edo melepaskan ciumannya, mengusap bekas saliva nya di bibir Jesicca. Edo tersenyum manis menatap bibir Jesicca yang membengkak karena ulahnya.


"Maaf. Apakah sakit?" tanya Edo dengan atensi yang masih tertuju ke arah bibir Jesicca.


"Em ..., tidak. Hanya terasa kebas." jawab Jesicca dengan jujur.


Edo terkekeh melihat kepolosan Jesicca. Tangannya mengacak pelan, rambut sang pujaan hati. Setelah itu, mereka langsung pulang dari cafe, karena hari sudah malam. Kasian Liora yang menunggu kakaknya pulang ke rumah.


Setelah mengantarkan Jesicca pulang, Edo langsung menuju ke rumahnya. Karena dia ingin memberitahukan niatnya untuk menikahi Jesicca. Kedua orang tuanya memang sudah tahu bawha Edo sangat mencintai Jesicca sejak lama.


Edo langsung berlari masuk ke dalam rumah, dan berteriak memanggil sang mama, dan papanya.


"Ma, Pa!" Edo terus berteriak, sambil lalu mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Tepat saat kakinya akan melangkah ke arah tangga, ternyata kedua orang tuanya lebih dulu turun dari atas tangga.


"Ada apa Do, kenapa kamu berteriak?" tanya sang mama yang bernama bernama Dewi, dan suaminya yang bernama Rudy. Mereka terlihat bergandengan tangan, yang selalu bersikap romantis di depan Edo. Meskipun di belakang Edo, mereka akan tetap mesra ya.


"Ada yang mau aku omongin Ma, Pa." Edo langsung mengajak Kedua orang tuanya menuju ke ruang tengah.


"Mau bicara apa Do, sepertinya sangat penting. Muka kamu serius sekali," ujar Rudy.


"Ini sangat, sangat penting Pa, Ma."

__ADS_1


"Cepat katakan Do, mama sangat penasaran."


"Hm ..., begini Ma, Pa. Aku sama Jesicca sudah resmi berpacaran. Kami tidak terlalu lama dengan status hubungan kami. Kami ingin segera menuju ke jenjang yang lebih serius. Apa mama dan papa setuju jika aku menikahi Jesicca dalam waktu yang dekat?"


"Halah, itu pasti kamu yang maksa Jesicca untuk segera menikah! Papa sudah yakin itu Do."


"Nggak kok Pa! Papa gak bohong. Heheh ...."


"Tuh kan, benar. Insting papa sangat kuat, jadi tebakan papa tidak akan meleset.


"Jadi, gimana, Mama sama Papa setuju kan?"


"Kalau papa oke oke aja Do. Gak tahu kalau pendapat Mama. Dia ngertuin nggak?" ujar Rudy kepada Edo, sambil lalu melirik ke arah sang istri yang tampak diam. Tak seperti biasanya, yang akan sangat kepo jika Edo tengah membicarakan Jesicca.


Edo juga merasa aneh dengan sikap sang mama yang tak seperti biasanya. Ia jadi takut, jika mamanya tidak akan merestui hubungannya dan Jesicca. "Gimana Ma? Apa mama merestui hubungan aku sama Jesicca?" tanya Edo dengan tidak sabar.


"Em ... Sebenarnya mama setuju banget kalau kamu menikah sama Jesicca, tapi ...." Dewi menggantung ucapannya.


"Kamu mau nikah cepat, bukan karena ada sesuatu kan?"


"Maksud mama apa?" Edo semakin tak mengerti dengan ucapan mamanya yang terasa aneh.


"Em ..., apa Jesicca sedang hamil? Makanya kalian ingin menikah secara cepat?" todong Dewi.


Edo menelan saliva nya dengan susah payah. Ia sangat tercekat saat mendengar tuduhan sang mama yang tepat sasaran. Meskipun bukan dirinya yang menghamili Jesicca, namun tetap saja wanita yang akan dia nikahi dalam keadaan hamil.


Edo sangat bingung. Ia harus menjawab dengan apa? Bohong salah, jika ketahuan, maka mama dan papanya akan sangat kecewa. Tapi, jika jujur itu sama saja bunuh diri. Kedua orang tuanya belum tentu mau menerima Jesicca, meskipun Jesicca hanya korban pemerk*saan.


Lebih baik Edo jujur saja, meskipun harus menutupinya dengan sebuah kebohongan.

__ADS_1


"Sebenarnya ..., i-iya Ma, Pa. Jesicca memang sedang h-hamil." Itulah jawaban dari Edo, yang menurutnya sangat tepat.


"Apa! Jesicca hamil!" ucap Dewi dan Rudy serempak. Mereka benar-benar terkejut dengan jawaban Edo, yang mengatakan bahwa Jesicca tengah hamil.


"Keterlaluan kamu Do. Mama gak pernah ngajarin kamu untuk berbuat hal seperti itu." Dewi berkata dengan dada yang naik-turun. Dia kecewa dan marah terhadap perilaku anaknya yang membuat Jesicca hamil.


"Maaf Ma, aku khilaf." hanya itu jawaban dari Edo. Ia tidak akan menambah kebohongan lagi.


Rudy hanya diam, dia melihat dan menjadi pendengar yang baik untuk anak dan istrinya. Rudy gak masalah dengan perilaku Edo yang telah menghamili Jesicca. Yang paling penting adalah, Edo telah jujur dan bersedia bertanggung jawab atas tindakannya, dengan menikahi Jesicca.


"Sudahlah Ma. Lebih baik mama restui hubungan mereka, dan nikahkan mereka secepatnya. Sebelum perut Jesicca membuncit." Akhirnya Rudy menengahi perbincangan di antara keduanya yang sudah mulai memanas.


"Sudah berapa bulan, Do. Kehamilan Jesicca?" tanya Dewi dengan suara bergetar, menahan tangis.


"Baru 1 bulan kok Ma."


"1 bulan, kamu bilang baru! Astaga kamu benar-benar membuat kepala mama ingin meledak. Sudahlah, kamu sama papa atur saja rencana lamaran ke rumah Jesicca. Mama sudah pusing, intinya lebih cepat lebih baik." Dewi berkata dengan tegas. Ia beranjak dari tempat duduknya, dan menuju ke dalam kamar yang terletak di lantai dua.


Edo dan Rudy, hanya mengangguk patus atas perintah Dewi. Edo sebenarnya merasa bersalah karena telah berbohong kepada mama dan papanya. Namun, ia tidak ada pilihan lain. Lagipula Edo berbohong demi sebuah kebaikan. Yaitu untuk menutupi aib yang di tanggung oleh Jesicca.


Suatu saat Edo akan jujur secara pelan-pelan kepada mama dan papanya. Untuk sekarang, ia hanya ingin fokus ke acara lamaran yang akan di laksanakan secepat mungkin.


"Ingat Do, meskipun papa merestui hubungan kamu dan Jesicca. Papa juga tidak memarahi kamu, bukan berarti papa membenarkan perbuatan burukmu itu. Papa juga sangat kecewa, namun mau bagaimana lagi, kamu melakukannya pasti atas dasar cinta. Kamu juga tidak lari dari tanggung jawab." ujar Rudy panjang-lebar.


"Hanya satu kali kamu berbuat kesalahan fatal. Tidak ada kesalahan kedua! Jadi, jangan sampai kamu menyakiti hati Jesicca dengan mengkhianatinya. Kamu harus jadi laki-laki sejati yang setia, bertanggung jawab, dan bisa membahagiakan istrimu." nasehat Rudy kepada putra semata wayangnya.


Edo mendengarkan nasehat sang papa dengan serius. Tak sedikit ia menyela ucapan sang papa. Ia sangat beruntung karena mempunyai orang tua sebaik mama dan papanya.


Malam itu, Edo menghabiskan waktu dengan papanya di ruang tengah. Untuk menentukan tanggal pernikahannya dengan Jesicca. Banyak nasehat yang di sampaikan oleh sang papa. Edo selalu mendengarkan dengan serius, agar tidak membuat kesalahan di masa yang akan datang.

__ADS_1


...----------------...


Lopyu pull untuk kalian para readers yang setia membaca novelku, dan dengan senang hati memberikan dukungan yang banyak untuk karyaku ini😘😘😘.


__ADS_2