
Happy Reading🥰
Hari ini, Liora berangkat ke kampus menggunakan taksi. Karena Jesicca ada meeting pagi. Jadi dia tidak ada waktu untuk mengantar Liora ke kampus. Taksi yang ditumpangi Liora melaju dengan kecepatan sedang, ia duduk di kursi belakang sambil lalu memainkan ponselnya. Hingga tiba-tiba mobil itu berhenti.
"Kenapa berhenti pak?" tanya Liora dengan penasaran. Karena jarak ke kampus masih lumayan jauh.
"Sepertinya mobilnya mogok non," jawab si supir dengan raut wajah cemas. "Sebentar, saya cek dulu." Supir pun turun dari mobil, ia membuka jok mobil bagian depan. Mengutak-atik rangkaian kabel yang ada di dalam sana. Setelah itu ia kembali kedalam mobil.
"Gimana pak, apakah mobilnya bisa nyala lagi?" tanya Liora antusias. Ia tidak ingin terlambat masuk kelas karena taksi yang ditumpangi mogok dipertengahan jalan menuju ke kampus. Apalagi hari ini adalah jadwal Kenan mengajar di kelasnya dan ia sudah ditugaskan untuk mengumpulkan tugas miliknya serta teman-teman yang lain.
"Maaf, Non. Lebih baik nona turun disini dan mencari taksi lain. Karena mobil ini harus saya bawa ke bengkel," ucap supir meminta maaf.
"Aduh, bapak gimana sih. Mana ada taksi mahal mogok! Lain kali kalok mobilnya sudah rusak jangan di pakai untuk narik pelanggan dong pak," ucap Liora dengan kesal. Ia pun turun dari taksi itu dan mengambil ponsel dari dalam tasnya yang melingkar dibahu kirinya. Ia menekan layar pada benda pipih itu lalu mencari sebuah aplikasi yang akan ia gunakan untuk memesan taksi online. Sebelum jarinya menekan sebuah tulisan order, ponselnya tiba-tiba mati. Ia lupa mengisi daya ponselnya semalam.
"Sial! Gimana caranya aku cepat sampai di kampus, jika ponselku saja mati. Jalan disini pun jarang ada taksi lewat." Liora terus menggerutu kesal.
Akhirnya Liora memilih berjalan di trotoar, berharap akan ada taksi lewat. Agar ia segera sampai di kampus. Ia tidak ingin terlambat di waktu Kenan mengajar. Hingga sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti tepat di sampingnya. Mobil yang pernah mengantarkannya pulang ke rumah. Kaca bagian samping kemudi turun perlahan, menampilkan sosok laki-laki tampan.
"Masuk!"
Seulas senyum mengembang dibibir Liora, manakala sang pemilik mobil mempersilahkan dia masuk kedalam sana. Dengan senang hati dia melangkah cepat dan memasuki mobil itu. Debaran jantung yang selalu berpacu dengan cepat disaat berdekatan dengan Kenan, sang pangeran. Sangat sulit untuk mengontrolnya. Ia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Kenan. Agar Kenan tidak mendengar irama jantung yang terdengar nyaring di telinganya.
"Wah ..., sepertinya kita berjodoh deh Pak. Sudah dua kali kita bertemu dijalan dan bapak dengan senang hati mau memberikan tumpangan gratis buat saya." dengan percaya diri Liora mengatakan itu kepada Kenan. Tidak dipungkiri bahwa semua ucapan yang terlontar dari bibirnya, adalah sebuah harapan yang selama ini bersemayam di lubuk hatinya. Ia mengatakan itu untuk menghilangkan rasa gugup yang dirasakan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Liora, membuat Kenan membulatkan mata sempurna. Ia memandang Liora dengan tatapan tajam. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu kepada dirinya yang notabene dosen pembimbing di kampus. Dia tak habis pikir dengan tingkah gadis yang satu ini.
"Apa kamu mau, saya menurunkanmu disini dan berjalan kaki ke kampus?" ucap Kenan dengan penuh penekanan.
"Tidak! Jangan pak, nanti kaki saya bisa pegal jika harus berjalan kaki ke kampus, yang jaraknya lumayan jauh dari sini."
"Maka diam lah!" Kenan langsung melajukan mobilnya kembali setelah melihat Liora menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
...----------------...
Di sebuah ruangan, Jesicca dan Khendrik sedang melaksanakan meeting bersama seorang klien. Jesicca tampak serius melakukan presentasi di depan klien itu. Ia menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai proyek yang akan dia gunakan untuk melakukan kerja sama dengan sang klien.
Khendrik benar-benar kagum dengan hasil presentasi Jesicca. Ia mengakui kemampuan Jesicca dalam bekerja di perusahaannya. Yang tidak pernah mengecewakannya sama sekali. Malahan semenjak Jesicca menjadi sekretarisnya, banyak klien yang memuji kemampuan Jesicca, yang selalu berhasil memenangkan tender dari perusahaan lain.
Sedangkan Khendrik duduk di kursi kebesarannya, yang terletak paling ujung di jajaran kursi itu.
"Saya setuju nona, bekerja sama dengan perusahaan Khendrik. Saya sangat puas dengan hasil presentasi anda nona Jesi." Bagas memuji kemampuan Jesicca dalam presentasinya. Ia sangat yakin jika bekerjasama dengan perusahaan Khendrik, akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.
"Terimakasih pak Bagas. Kalau begitu kita akhiri meeting ini," ujar Khendrik. Sedari tadi ia hanya mempercayakan semuanya kepada Jesicca. Ia akan membantu Jesicca jika ada kesulitan dalam acara meeting itu. Tapi siapa sangka, Jesicca selalu bisa dengan caranya sendiri tanpa bantuannya.
Kendrik menjabat tangan Bagas sebagai bentuk akhir dari acara meeting. Begitupun dengan Jesicca, ia juga menjabat tangan Bagas dan mengucapkan terimakasih. Setelah acara meeting selesai, mereka pun keluar dari dalam ruangan itu.
"Bagus Jes, kamu selalu membuat saya bangga dengan hasil kerja kerasmu. Tetap semangat dan teruslah seperti ini. Kau benar-benar sangat bisa diandalkan," ucap Khendrik, memuji kemampuan Jesicca.
__ADS_1
"Terimakasih Pak, anda terlalu berlebihan. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai sekretaris bapak." Jesicca memang selalu merendah jika ada yang memuji kemampuannya. Kecuali orang itu Edo. Tanpa di puji pun dia akan membanggakan dirinya sendiri di depannya.
Ah ..., jika mengingat Edo, dia jadi teringat dengan janji makan siangnya, sebagai bentuk rasa terimakasih karena kemarin Edo sudah mengantarkannya ke bengkel.
"Baiklah, kalau begitu kembalilah ketempatmu Jes. Hari ini aku akan pulang lebih awal." Khendrik sengaja ingin pulang awal, karena ingin makan diluar bersama dengan istri tercintanya.
"Baik Pak." Jesicca langsung pergi menuju ke meja kerjanya. Ia mengambil ponsel yang berada di dalam laci, yang ia letakkan tadi sebelum pergi meeting. Jesicca memang tidak pernah membawa ponsel jika melaksanakan meeting. Ia lalu menyalakan ponselnya, jemari lentiknya mengutak-atik layar di benda pipih itu. Ia menekan aplikasi berwarna hijau yang bertuliskan Whatsapp. Ia mencari sebuah nama di sana dan mengirimkan pesan kepadanya.
"Nanti siang, kita pergi ke cafe Moana. Aku akan mentraktirmu makan disana." begitulah isi pesan yang ia kirim kepada Edo.
Sedangkan di ruangan lain, Edo yang merasakan sebuah getaran dari dalam saku celana yang menandakan ada pesan masuk dari ponselnya. Ia langsung mengambil benda pipih itu. Setelah membaca pesan dari seseorang yang ia cintai dalam diam, Edo langsung mengirim balasan pesan untuknya.
"Baiklah, kau harus membawa uang yang banyak. Karena aku akan makan sepuasnya di sana." setelah membalas pesan dari Jesicca, Edo kembali fokus ke pekerjaannya. Karena dia sudah tahu, Jesicca tidak akan membalas pesannya. Itu adalah kebiasaan yang sering Jesicca lakukan. Meskipun begitu, Edo tetap terlihat senang.
...----------------...
Terima kasih sudah mampir di karya pertama Author🥰
Semoga kalian suka dengan ceritanya😘
Jangan lupa tekan like, komen, dan juga giftnya ya😁😁
Follow juga akunku😘😘😘😘
__ADS_1