Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 80. Suara Aneh.


__ADS_3

Happy Reading🥰


Kenan melepaskan sisa kain yang masih menempel di tubuh seksi, Liora. Kenan terpanah melihat pemandangan yang sangat indah di depan mata. Liora menutup sawahnya menggunakan kedua tangan. Ia merasa malu terus ditatap oleh Kenan.


Kenan melepaskan tangan Liora agar dirinya lebih leluasa bermain di sana. "Jangan di tutup, Honey. Ini sangat indah."


"A-aku malu, Kenan."


"Untuk apa malu, hum? Sebentar lagi kita akan menikah. Aku akan melihatnya siang-malam."


Liora semakin malu, Kenan mengatakan hal itu dengan sangat enteng. Ia merinding membayang jika Kenan akan melihat tubuhnya selama 24 jam. Di saat masih sibuk dengan pikirannya, Liora di kejutkan dengan permainan Kenan di lembah surgawi-nya. Liora hanya bisa mend**ah merasakan sensasi yang sangat luar biasa.


"K-kenan ... Ahh ...."


Cukup lama Kenan bermain di area itu, hingga akhirnya Liora merasakan pel***san. Kenan tersenyum melihat wajah Liora yang memerah. Ia ingin membawa Liora ke dalam kamar, bermain di atas ranjang dengan sangat ganas. Namun Kenan ingin merasakan sensasi yang berbeda saat bermain tanam-tanaman di dalam bathtub.


Kenan mengarahkan terong jumbo-nya ke sawah Liora yang telah siap untuk di bajak. Dengan sekali hentakan, terong itu berhasil menerobos pembatas yang sudah tak bersegel, namun masih terasa menje**t.


Kenan bermain dengan ritme sedang, ia bergerak maju-mundur cantik. Di iringi des**an bak irama lagu yang sangat syahdu. Suara des**an memenuhi ruang kamar mandi. Tangan Liora berpegangan ke pinggir bathtub, rasanya ia seperti terbang ke angkasa.


Permainan Kenan sangat memabukkan. Kekuatan super dari terong jumbo-nya membuat Liora tak berdaya. Sulit untuk mengimbangi permainan Kenan, apalagi dirinya sedang hamil. Jika bergerak liar takut membahayakan janin yang masih kecil.


Di luar rumah.


Maura sudah sampai di depan rumah, Liora. Sebelum memasuki halaman rumah, Maura menarik nafas terlebih dulu. Ketika ingin melangkah 'kan kaki, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Maura membalikkan badan karena terkejut.


"Jesicca!" Maura menatap Jesicca yang tengah tersenyum kepadanya.


"Selamat pagi, Bu."


"Pagi, Jes. Panggil Tante saja, jangan terlalu formal begitu manggilnya."


"Baik, Tante. Mari ikuti saya, kita masuk barengan ke dalam rumah."

__ADS_1


Jesicca membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia bawa. "Silahkan duduk dulu, Tante." Jesicca mempersilahkan Maura agar duduk di sofa ruang tamu.


"Kemana Liora dan Kenan?"


"Kenan? Apa Kenan menginap di sini, Tante?"


"Sepertinya begitu, soalnya dia tidak pulang ke rumah."


Jesicca tertegun mendengar penuturan Maura. Bukankah Kenan bilang bahwa dia tidak akan menginap? Bahkan mereka belum menikah, masa iya mereka tinggal satu rumah?


Melihat wajah terkejut dari Jesica. Maura mengerti kalau Kenan tidak izin terlebih dahulu kepada kakak iparnya bahwa dirinya akan menginap dan menjaga Liora di rumah.


"Tidak apa-apa, Jes. Saya yakin kalau Kenan tidak akan berbuat jahat kepada Liora. Dulu dia memang pernah menyakiti Liora, tapi tidak dengan sekarang. Kenan sangat mencintai Liora, saya dapat melihat dari tatapan dan sikap Kenan terhadap adik kamu. Kenan tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Liora jika ia meninggalnya seorang diri di rumah pada malam hari."


"Iya, Tante. Saya mengerti, hanya saja ...."


"Mereka akan segera menikah, Tante ke sini juga ingin membahas soal itu. Kamu tenang saja, Kenan laki-laki yang bertanggung jawab, dia tidak akan tega meninggalkan Liora dan juga calon anaknya."


"Baiklah. Kalau begitu, saya mau panggil Liora dulu, Tante. Tante tunggu sebentar ya, oiya Tante mau minum apa?"


"Tante mau tunggu di sini, atau mau ikut? Takutnya Liora masih takut untuk bergerak karena sempat mengalami pendarahan."


Maura membenarkan perkataan Jesicca, ia lebih baik ikut memanggil Liora ke kamarnya. Maura tidak ingin terjadi sesuatu terhadap calon cucunya. "Tante ikut saja deh."


Maura mengikuti langkah Jesicca menuju ke sebuah pintu kamar yang terletak di sebelah kamar utama. Jesicca mengetuk pintu sambil memanggil nama sang adik. Namun tidak ada sahutan dari dalam, membuat Jesicca sedikit cemas. Ia takut terjadi sesuatu terhadap adiknya, seperti kejadian kemarin yang tiba-tiba hilang dari rumah, dan ternyata ada di rumah sakit.


"Kenapa Liora tidak menjawab panggilan aku, ya Tante? Aku takut terjadi sesuatu kepadanya."


"Buka saja, Jes. Pintunya di kunci apa nggak?"


Jesicca memutar engsel pintu, ternyata pintu itu tidak terkunci. Jesicca dan Maura sama-sama memasuki kamar tersebut. Lagi-lagi tidak orang di kamar itu. Jesicca semakin cemas dibuatnya.


"Tante, Liora menghilang lagi. Aku takut kejadian kemarin terulang kembali."

__ADS_1


"Bagaimana ini, Jes. Tante coba hubungi Kenan ya."


Maura hendak mengambil ponselnya yang ada ruang tamu, hingga langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh di ruangan itu.


"Jes, kamu dengar suara itu?"


"Iya, Tante. Sepertinya berasal dari kamar mandi. Kita cek dulu, Tante. Takutnya ada maling yang bersembunyi di sana."


Jesicca dan Maura mendekati asal suara itu, di tangan mereka terdapat bantal untuk berjaga-jaga. Semakin dekat suara itu semakin nyaring. sepertinya bukan hanya satu orang, melainkan dua orang.


"Ahh, K-kenan pelan-pelan. Ingat, ada anak kamu di dalam sini."


"Ough! Honey, aku sudah tidak tahan. Kau n**mat sekali."


Ahh ... Ahh ...


Ough ... Yeah, Honey!


Jesicca dan Maura mematung di depan pintu kamar mandi. Wajah mereka sama-sama memerah. Mereka saling pandang, seolah mengerti dengan apa yang mereka dengar. Mereka berlari keluar dari kamar itu, tak ingin lebih lama mendengar suara-suara luckn*t yang membuat bulu kuduk merinding.


Orang yang mereka khawatirkan tengah bermain tanam-tanaman di dalam sana. Hingga suara luckn*tnya terdengar ke dalam kamar. Tak dapat di bayangkan mereka bermain di mana, dan menggunakan gaya apa. Secara mereka tengah berada di dalam bathroom.


Padahal ini masih pagi, tapi kedua insan yang tengah di mabuk cinta, malah asik bermain tanam-tanaman. Jesicca merasa malu terhadap Maura, begitu pun dengan Maura. Ia lebih malu mendapati anaknya berbuat hal tak senonoh terhadap Liora. Maura yakin kalau semua itu terjadi karena Kenan yang memaksanya, tidak mungkin Liora yang memintanya lebih dulu.


"Tante mau minum apa?" tawar Jesicca untuk mencairkan suasana yang sempat menegang. Ia harus mencari topik lain supaya terhindar dari kejadian memalukan tadi.


Padahal yang berbuat adalah Kenan dan Liora, tapi malah Jesicca yang merasa malu. Kejadian yang sangat memalukan bersama dengan calon besannya. Untung tidak ada Edo di sana, bisa-bisa dia juga di bawa ngamar sama Edo karena mendengarkan suara luckn*t itu.


...----------------...


Jangan lupa kirim vote, dan gift nya ya para readers 😘😘😘


Jangan lupa juga tekan like dan tinggalkan jejak di kolom komentar🥰🥰🥰

__ADS_1


Terimakasih untuk kalian😘😘😘


__ADS_2