
Happy Reading🥰
Edo merebahkan tubuh Jesicca di atas ranjang secara perlahan. Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah ayu sang pujaan hati yang telah resmi menjadi istrinya dalam waktu beberapa jam yang lalu.
Jesicca merasa salah tingkah mendapatkan tatapan memuja dari Edo. Sejujurnya ia masih takut melakukan itu, meskipun ia pernah melakukannya, namun waktu itu bukan atas kehendaknya. Bukan kenikmatan yang Jesicca rasakan. Melainkan sebuah rasa sakit yang sangat luar biasa, karena Khendrik melakukannya dengan cara yang sangat kasar dan brutal.
"Sayang! Bolehkah sekarang?" Edo bertanya dengan sorot mata yang dalam.
Dengan ragu, Jesicca mengangguk sebagai jawaban dari Edo. Mau tidak mau, Jesicca harus menyiapkan diri untuk memberikan hak nya terhadap Edo, suaminya.
Mendapat sinyal dari Jesicca, Edo langsung melancarkan aksinya. Pertama-tama ia memberikan pemanasan terlebih dahulu. Edo menghujani ciuman di wajah dan tubuh Jesicca.
Edo mencium kening, kedua mata, hidung, dan bibir Jesicca dengan sangat lembut. Ciuman itu turun ke leher hingga sebuah desa**n lolos dari bibir Jesicca.
Edo mengutamakan kenyamanan Jesicca terlebih dahulu. Ia tidak ingin Jesicca merasakan sakit, dan mengingat kejadian dirinya bersama dengan Khendrik. Edo akan bermain dengan selembut mungkin. Ia akan membuat Jesicca melupakan rasa traumanya, dan menggantikannya dengan sebuah kenikmatan yang tiada tara.
Edo Menjelajahi setiap inci tubuh Jesicca dengan ciuman lembutnya. Jesicca terbuai dengan sentuhan Edo. Ia sampai melupakan rasa traumanya itu. Tubuh Jesicca mengge***jang merasakan sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan. Tubuhnya bagaikan di sengat listrik, geli namun nikmat yang Jesicca rasakan.
Dengan lihai, tangan Edo mulai me-lu-cu-ti pakaian yang melekat di tubuhnya dan tubuh Jesicca. Ia membuangnya asal. Hingga sekarang tubuh keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun.
Nafas keduanya terengah-engah, sorot mata mereka telah memancarkan kabut g**rah. "Sayang! Aku masuk sekarang ya?" Edo sudah tidak tahan, ia meminta izin kepada Jesicca agar si terong bisa masuk ke sawah milik Jesicca yang telah basah, dan siap di bajak.
Setelah mendapat izin, Edo langsung mengarahkan terong jumbo-nya ke dalam sawah milik Liora. Meskipun itu bukan yang pertama bagi Jesicca, namun Edo masih merasa kesusahan memasukinya. Entah itu karena terong milik Edo yang sangat jumbo, atau memang sawah milik Jesicca yang masih s**pit.
Jleb!
Akhirnya setelah dorongan kedua, Edo bisa memasukkan terongnya ke lembah surgawi milik Jesicca. Edo me-lu-mat bibir Jesicca untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya.
Jesicca yang awalnya merasa sakit, kini tergantikan dengan rasa nikmat. Edo berhasil membuat Jesicca terbang ke atas awan.
Edo memaju mundurkan pinggulnya agar permainan tanam terong terasa sempurna. Edo menghentakkan pinggulnya dengan sedikit kasar, supaya terong jumbo-nya lebih masuk ke dalam sawah yang terasa menjepit.
__ADS_1
1 jam kemudian, Edo dan Jesicca sama-sama menge**ng merasakan pel***san yang membuat tubuh keduanya bergetar. Edo menyemburkan bibit terongnya di sawah Jesicca, berharap semoga bibit itu segera tumbuh di sana.
Edo mengecup kening Jesicca yang basah oleh keringat. "Terimakasih sayang!" bisik Edo tepat di telinga Jesicca. Jesicca tersenyum seraya menatap wajah tampan sang suami. Ia memeluk tubuh Edo dengan sangat erat.
"Akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya, Jessica Miori Jordan." gumam Edo bahagia.
Karena kelelahan, Edo dan Jesicca tertidur lelap dengan tubuh yang masih polos, dan hanya ditutupi oleh selimut tebal.
...----------------...
Liora menyadari tatapan Khendrik yang terasa berbeda. Ia menjadi takut dan waspada, karena takut Khendrik berbuat jahat terhadapnya. Liora membenarkan bath robe bagian dadanya yang sedikit terbuka. Sungguh dia menyesal karena tidak sempat memakai baju karena tamu yang tidak tahu diri itu terus menekan bell secara bertubi-tubi.
Khendrik menatap wajah Liora yang terlihat ketakutan. Ia berdiri saat Liora juga berdiri dari tempat duduknya. "Em ... O-om. Maaf, aku benar-benar capek dan ingin istirahat. Om Khendrik bisa bertamu lagi saat ada kak Jesi di sini." Liora berusaha berkata dengan sopan, karena ia benar-benar melihat aura jahat dari wajah Khendrik.
"Istirahat saja, Liora. Aku akan duduk disini. Aku akan menjaga kamu, siapa tahu ada maling masuk." Khendrik menolak untuk pulang ia malah duduk kembali di sofa itu.
"M-maksud Om, apa? Jangan aneh-aneh ya Om. Saya bisa berteriak, dan membuat para warga kesini!"
"Milik Om? Apa?"
"Kamu! Bisa-bisanya kamu hamil anak Kenan. Seharusnya kamu hamil anak dariku. Karena kamu hanya milikku. Aku lebih dulu berhubungan denganmu daripada Kenan." Khendrik kembali berdiri dari posisi duduknya.
Liora tercengang mendengar penuturan Khendrik yang sangat membuatnya takut. Menyesal! Liora menyesal pernah menjebak Khendrik, dan berhubungan dengannya. Membuat Khendrik bercerai dengan istrinya saja tidak bisa. Malah dirinya yang dilecehkan oleh Kenan, dan sekarang Khendrik secara terang-terangan ingin memiliki dirinya. Sungguh Dendam Berujung Petaka baginya.
Liora semakin takut saat Khendrik menatap lapar kepadanya. Liora mengeratkan pegangannya kepada bath robe yang ia pakai. Jangan sampai bath robe itu terlepas dari tubuh Liora. Karena Liora sama sekali tidak memakai baju dalaman.
Khendrik mendekati Liora, sampai tubuhnya membentur dinding. Wajah Liora berubah pucat pasih saking takutnya. Ingatannya berputar saat Kenan melakukan pelecehan terhadapnya. Ia tidak ingin mengalami hal serupa dengan Khendrik.
"Om, jangan macam-macam ya!"
"Aku tidak akan macam-macam Liora. Hanya satu macam saja. Jadi, diamlah selagi aku bersikap baik terhadapmu. Jika tidak, maka aku akan berbuat sesuatu yang lebih dari perbuatan Kenan terhadapmu!"
__ADS_1
Liora menitikkan air mata saat mendapatkan ancaman dari Khendrik. Liora menyesal telah mebuka pintu rumah tanpa melihat siapa yang datang. "Tolong ... Tol ...." Liora berteriak meminta tolong, dan berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya. Namun, mulut Liora dibungkam oleh Khendrik menggunakan tangannya.
"Diam! Sudah aku peringatkan agar kamu diam, dan tidak berulah. Tapi, ternyata kamu cukup pembangkang orangnya. Terpaksa aku harus berbuat kasar agar kau patuh terhadap perintahku."
"Emp ... Emp" Liora ingin berbicara, namun tidak bisa karena mulutnya masih di bekap.
Khendrik mengunci tubuh Liora, agara wanita itu tidak berulah. Khendrik membawa Liora kedalam kamar yang ia yakini adalah kamar Liora. Khendrik menghempaskan tabuh Liora di atas kasur, lalu ia mengunci pintu kamar itu, agar tidak ada orang lain yang mengganggunya.
Tubuh Liora bergetar, ia sangat ketakutan. Bahkan ia merasakan perut bagian bawahnya kram. Tapi, Liora tetap berusaha kuat, dan mencari cara agar terlepas dari cengkraman Khendrik.
Liora mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Ia akan menghubungi sang kakak, namun ia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu aktivitas pengantin baru itu.
Entah mengapa jari Liora malah menekan nama Kenan di layar ponselnya yang masih ia beri nama 'pria gila'. Belum sempat terhubung, ponsel itu dirampas oleh Khendrik, dan dileparnya ke lantai.
Khendrik menarik kaki Liora dan menindih tubuhnya di atas kasur. Liora terus memberontak karena tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kandungannya.
Sedangkan di seberang sana, Kenan mendapatkan panggilan dari ponselnya. Ia masih berada di jalan tak jauh dari rumah Liora, karena Kenan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Kenan meraih ponselnya yang terletak di dashboard, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman, saat melihat nama sang penelpon. Dengan cepat, Kenan menggeser icon warna hijau di ponselnya.
"Hallo. Ada apa sayang?" tanya Kenan dengan begitu senang. Namun tidak ada jawaban dari seberang sana. "Halo, Liora!" Kenan terus memanggil nama sang pujaan hati.
Perasaan Kenan jadi tidak Enak karena Liora tak kunjung menjawab sapaannya. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara dari seberang sana.
"Om, lepas! Jangan lakukan itu, aku mohon!"
Aaaargh!
...----------------...
Terimkasih untuk para readers yang sudah setia membaca novel ku😘😘.
__ADS_1
Jangan lupa kasih Author dukungan ya biar besok semangat upnya🥳🥳