Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 97. Rencana Edo Dan Kenan.


__ADS_3

Happy Reading๐Ÿฅฐ


Masih di rumah pertama.


Setelah makan malam bersama, Jesica, Liora, Kenan, dan Edo mereka semua berkumpul di ruang tengah sambil menonton film horor. Jesicca dan Liora terlihat biasa saja melihat adegan hantu yang muncul di layar televisi. Berbeda dengan kedua laki-laki yang tengah duduk meringkuk di atas sofa, badan mereka sudah gemetaran saking takutnya melihat film horor itu.


Kebetulan Kenan dan Edo duduk berdekatan, dan mereka tidak duduk bersama pasangan masing-masing atas permintaan dua wanita cantik itu. Rasanya Edo dan Kenan ingin berteriak, namun sangat malu kepada istri mereka.


"Ternyata Kak Edo takut sama hantu." bisik Kenan tepat di telinga Edo.


"Siapa yang takut! Palingan kamu yang takut!"


"Nggak, aku biasa aja mana mungkin seorang Kenan takut sama hantu, haha ...."


"Oiya, tapi aku tidak percaya!" Edo menatap Kenan dengan sinis.


Kedua laki-laki itu terus beradu argumen. Tidak ada yang ingin mengalah. Padahal jelas-jelas mereka berdua takut sama hantu. Jika istri mereka tahu pasti sudah di tertawakan habis-habisan.


"Kalian kenapa bisik-bisik seperti itu? Berisik tahu!" Liora menegur Edo dan Kenan sebab menganggu konsentrasinya dalam menonton film.


"Iya, jangan bilang kalau kalian berdua takut!" todong Jesicca tepat sasaran.


Tentu saja kedua laki-laki itu menolak mentah-mentah tuduhan Jesicca. Mereka terpaksa harus pura-pura berani di depan istri mereka. "Kita gak takut kok!" jawab Edo dan Kenan serempak.


"Makanya diam!" sentak kedua bumil yang tengah kesal. Jangan cari gara-gara sama bumil kalau tidak mau terkena masalah.


Akhirnya mereka berempat kembali fokus ke layar televisi. Liora sangat antusias dalam menonton film horor yang menurutnya penuh tantangan. Tidak lupa tangannya mengambil snack yang tersedia di atas meja. Sebagai camilan saat menonton. Liora juga mengambilkan snack itu untuk Jesicca.

__ADS_1


Hingga tepat saat munculnya hantu yang menyeramkan di layar televisi itu. Kenan dan Edo reflek berteriak, mereka saling berpelukan dengan kedua kaki yang di tekuk. Sontak saja teriakan mereka membuat para bumil terkejut, dan membuat snack yang di pegang oleh Liora menuai di atas lantai.


Aaargh! Aaargh!


Liora sangat kesal. Ia mematikan televisi, dan menutup acara nonton bersama itu. "Laki-laki tidak berguna! Nonton horor saja takut! Ayo Kak kita ke kamar. Biarin aja mereka berdua di sini." Liora mengajak Jesicca untuk memasuki kamar. Jesicca pun menurut karena ia juga kesal kepada suami dan adik iparnya itu.


Kenan dan Edo tersadar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka melepaskan pelukan lalu saling menjauh satu sama lain. Mereka merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya mereka berteriak histeris di depan para bumil, sungguh memalukan.


"Sayang, aku ikut!" Kenan beranjak dari tempat duduknya dan berniat menyusul sang istri yang akan menaiki anak tangga.


"Jangan ikuti aku! Malam ini aku mau tidur sama Kak Jesi. Kamu tidur di kamar sama Kak Edo!" Liora berkata dengan sarkas.


Edo yang mendengar itu membulatkan mata sempurna. Mana mungkin ia bisa tidur berpisah dengan sang istri. itu tidak boleh terjadi, Edo tidak akan membiarkan Liora tidur sama Jesicca.


Saat akan memberikan penolakan, Jesicca langsung memberikan tatapan mematikan ke arahnya. Membuat nyali Edo menciut. Akhirnya ia kembali terduduk di sofa. Membiarkan kedua bumil itu pergi memasuki kamar.


"Apa kamu bilang! Enak saja! Yang ada semua itu gara-gara kamu. Yang paling kencang berteriak itu siapa, huh!" Edo tak terima dirinya di salahkan, memangnya cuma Kenan yang tidak bisa melakukan olahraga malam? Dirinya juga merana sebab rencana yang ia susun rapi telah musnah.


Edo berencana malam ini akan bermain tanam-tanaman dengan gaya baru yang ia dapatkan dari mbah Google.


"Terus nasib kita gimana ini Kak? Masak iya kita harus tidur satu kamar? iiih!" Kenan bergidik ngeri membayangkan tidur satu kamar dan di ranjang yang sama dengan Edo.


"Mau bagaimana lagi, apa kamu mau tidur di sofa? Lagian di rumah ini tidak ada kamar lagi. Kalau aku ya terpaksa tidur di kamar Liora."


Benar juga apa yang di katakan Edo, Kenan tidak mungkin tidur di sofa. Ya Kenan juga terpaksa harus tidur berdua dengan Edo di kamar Liora.


Mereka berdua memasuki kamar Liora secara bersamaan. Sebelum memasuki kamar atensi keduanya melirik ke arah kamar Jesicca. Berharap kedua bumil itu akan membukakan pintu untuk mereka. Namun itu hanya harapan belaka kamar itu malah terkunci rapat.

__ADS_1


Kenan memberikan pembatas di tengah ranjang menggunakan bantal guling. Dia takut kakak iparnya itu melakukan hal macam-macam. "Kak, jangan sampai melewati batas ini ya!"


"Cih! Kamu pikir aku ini cowok apaan! Aku saja jijik tidur berdua denganmu!" Edo menatap sinis ke arah Kenan.


Mereka berdua sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Mereka tidak bisa diam, kadang membalikkan badannya menghadap ke kanan dan kiri.


"Aaargh! Sial!" Kenan mengumpat lalu bangun dari posisi tidurnya dan bersandar di head bord.


Edo melakukan hal yang sama seperti yang Kenan lakukan. Sepertinya mereka harus bekerja sama agar tidak tersiksa karena tidur terpisah dengan istri mereka.


"Aku punya ide! Tapi kita harus bekerja sama!" ucap Edo dengan serius.


"Ide apa, Kak?"


"Aku akan mengambil kunci cadangan untuk membuka kamar istriku. Sedangkan kamu harus memindahkan istri kamu dari kamar istriku!"


Kenan tampak setuju dengan rencana Edo. Dia seperti punya harapan untuk tidur berdua dengan sang istri. Mereka berdua keluar dari kamar, Edo mengambil kunci cadangan di lemari kunci yang terletak di lantai bawah. Sedangkan Kenan, ia berada di depan kamar Jesicca seraya menguping di daun pintu kamar. Memastikan bahwa dia bumil itu sudah tidur.


Edo membuka kamar itu dengan pelan-pelan, takut membangunkan para bumil yang sedang tertidur lelap. Ia memberikan isyarat kepada Kenan agar mendekati ranjang.


Kenan mengibaskan tangannya di depan wajah Liora dan Jesicca untuk memastikan mereka benar-benar tidur atau tidak. Setelah itu Kenan menggeser tubuh Liora yang tengah menempel di tubuh kakak iparnya. Kenan mengangkat tubuh Liora menggunakan kedua tangannya lalu membawanya keluar dari sana.


Edo mengacungkan kedua jempolnya ke arah Kenan atas suksesnya rencana mereka. Dengan gerakan cepat, Edo langsung menutup pintu kamar lalu menguncinya.


"Sayang, I'm coming! Edo merangkak naik ke atas kasur. Di pikirannya sudah terlintas rencana licik, namun akan membuat Jesicca senang. Edo menyeringai menatap wajah istrinya yang sedang tertidur pulas.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tekan like dan tinggalkan jejak di kolom komentar ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2