Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 40. Lembutnya Hati Maura


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Maura terbaring lemah di atas ranjang di dalam kamarnya. Ia terjatuh sakit karena jarang makan dan minum. Maura merasa terpukul dengan musibah yang menimpa rumah tangganya, dan berakhir di meja hijau.


Setiap hari, Maura tidak pernah lepas dari kegiatannya yang selalu menangis. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia masih sangat mencintai Khendrik. Namun Ia tak ingin terus menerus di khianati oleh Khendrik. Bahkan sejak mereka bertengkar, dan Khendrik pergi dari acara anniversary mereka, Khendrik sama sekali tidak pulang ke rumah.


Padahal Maura ingin mendengar penjelasan dari Khendrik. Karena ia masih tidak percaya dengan semua itu. Seandainya Khendrik memberikan pembelaan atas perbuatannya, dan meminta dirinya agar tidak menggugat cerai Khendrik. Pasti Maura akan menggagalkan rencananya.


Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Suami yang sejak dulu ia cintai, dan selalu memperlakukan dirinya layaknya seorang ratu. Kini telah berubah drastis, seperti membalikkan telapak tangan.


Kenan saja tidak pernah menjenguknya ke rumah. Entah apa yang Kenan lakukan hingga sesibuk itu, dan tak sempat menemuinya di rumah. Maura berencana akan pergi dari rumah itu setelah dia resmi bercerai dengan Khendrik.


Maura terlihat seperti mayat hidup, dengan penampilannya yang sangat berantakan. Matanya diliputi oleh lingkaran hitam, bibirnya pucat, wajahnya semakin tirus, rambutnya diikat sembarangan, bahkan ia hanya menggunakan baju piyama sejak 2 hari yang lalu.


Selama 2 hari itu, Maura tidak pernah mandi dan berdandan. Yang ia lakukan hanyalah menangis, sampai air matanya tak ingin keluar, dan mungkin sudah kering. Perubahan Khendrik dimulai sejak 3 minggu yang lalu, tapi Maura tidak terlalu memperhatikan itu. Maura pikir perubahan Khendrik terjadi karena padatnya pekerjaan di kantor. Ternyata ia salah, karena yang memicu perubahan Khendrik adalah hadirnya orang ketiga.


Maura semakin putus asa, ketika tidak ada teman yang menemaninya. Tidak ada tempat untuk ia mengadu, tidak ada punggung untuk ia bersandar. Karena Maura adalah anak yatim piatu, saudara pun tak punya, ia besar di panti asuhan.


Maura terus menatap ponselnya yang berada di atas nakas. Ia berharap Khendrik akan menghubunginya. Meskipun Maura kecewa atas pengkhianatan Khendrik, namun ia tak sampai membencinya. Karena Maura akan tetap mencintai Khendrik, terlepas dari apa yang sudah dia perbuatan terhadap dirinya.


Katakanlah Maura b*doh! Bukanlah cinta itu memang sering memb*dohkan orang yang waras? Bahkan bisa membuat orang yang jatuh cinta menjadi gila! Maura tidak salah mencintai Khendrik dengan setulus hati, karena ia mencintai suaminya sendiri.


Inilah yang Maura takut 'kan sejak dulu. Ia ragu untuk menerima lamaran Khendrik, karena perbedaan status sosial di antara mereka. Sekarang bukan itu permasalahannya, tapi karena faktor usia. Khendrik tergoda dengan pesona gadis yang masih sangat muda, bahkan gadis itu bisa meruntuhkan pertahanan Khendrik yang setia selama 26 tahun.


Sakit! Hanya itu yang Maura rasakan. Andaikan dia masih punya orang tua, maka Maura tidak akan sesakit ini. Karena kedua orang tuanya pasti akan memberikan semangat untuk dirinya. Kedua mertuanya pun telah tiada, padahal mereka sangat menyayangi Maura layaknya anak mereka sendiri.


Maura beranjak dari atas ranjang, ia berjalan menuju ke arah balkon. Maura menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk melegakan sesak di dalam dada. Atensinya tertuju ke arah sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah. Mobil yang sangat ia kenali.

__ADS_1


Maura bergegas pergi dari kamar, ia menuruni anak tangga dengan langkah tergesa-gesa. Ia membuka pintu rumah dengan cepat, dan sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya. Disaat ia melihat sang suami pulang ke rumah, sejenak Maura melupakan rasa sakit hatinya kepada Khendrik.


"Pa, akhirnya papa pulang." ucap Maura seraya menyambut kepulangan Khendrik.


Khendrik hanya menatap Maura dengan tatapan yang sulit di artikan. Khendrik tercengang melihat penampilan istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri itu dalam keadaan sangat kacau. Badannya juga semakin kurus, dan tak terawat.


"Ma, kenapa badan Mama sangat kurus?" tanya Khendrik dengan cemas.


Senyuman Maura langsung hilang, saat mendengar pertanyaan dari Khendrik. Matanya mulai berkaca-kaca. Apakah Khendrik tidak menyadari kesalahannya? Kenapa dia masih bertanya k tentang eadaan Maura yang kacau balau? Atau Khendrik memang tidak merasa bersalah sama sekali!


Maura tidak menjawab, ia langsung berjalan lebih dulu ke dalam rumah, dan duduk di sofa ruang tengah. Khendrik mengikuti langkah Maura, ia duduk di samping sang istri.


"Ma, ada apa sebenarnya? Kenapa Mama menggugat cerai papa? Apa salah papa?" tanya Khendrik langsung ke intinya.


Maura tersenyum kecut saat mendengar pertanyaan Khendrik yang dia rasa pura-pura tidak bersalah. "Seharusnya Mama yang bertanya sama Papa! Mungkin ada yang harus papa jelaskan?" Maura menatap Khendrik dengan tatapan tajam, seolah dia sedang mengintimidasi sang suami.


"Maafkan Papa, Ma! Papa tahu papa salah! Papa Khilaf Ma, tolong maafkan papa! Papa janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


"Jadi benar, Papa selingkuh dari Mama? Siapa wanita itu pa? Apa dia yang sudah tidur sama papa? Gadis yang kata karyawan kantor adalah Sekertaris papa yang baru? Yang masih muda dan cantik!"


Maura memang sering mendengar gosip di kantor suaminya, ketika dia ingin mengantarkan bekal makan siang. Namun ia tidak menggubris rumor itu, karena ia tetap percaya kepada Khendrik. Ia yakin, bahwa Khendrik tidak akan mengkhianatinya. Tapi, ternyata dia yang bodoh karena tidak mempercayai rumor itu.


"I-iya Ma. Tapi papa bersumpah, papa tidak melakukan hal di luar batas sama dia. Papa hanya ...."


Khendrik tak berani mengatakan bahwa dirinya hanya sekedar berciuman saja dengan Liora. Ah, pasti Istrinya akan semakin membenci dirinya.


"Hanya apa Pa? Jawab yang jelas!"

__ADS_1


"Papa hanya sering makan bersama dengannya di luar, tidak lebih kok."


"Tapi, Mama tidak percaya!"


Maura beranjak dari tempat duduknya, dan menuju ke kamarnya. Ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas, lalu mencari pesan, dan sebuah foto yang dikirim oleh nomor tanpa nama.


Khendrik yang mengejar Maura ke dalam kamarnya merasa heran. Kenapa Maura malah pergi, dan hanya mengambil ponselnya?


"Ini apa Pa? Masih mau mengelak? Huh?"


Maura menyodorkan ponselnya de hadapan Khendrik, dan memperlihatkan apa yang sudah menjadi bukti perselingkuhan suaminya.


Mata Khendrik membulat sempurna saat melihat Foto dan isi pesan di dalam ponsel Maura. Ia menggelengkan kepala tanda tak mengerti.


"Ma, papa tidak pernah melakukan itu dengan siapapun! Itu pasti rekaya! lagi pula foto wanitanya gak jelas, papa yakin dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita."


Khendrik terus saja mengelak. Ia melupakan kejadian dirinya yang telah menodai Jesicca. Meskipun foto itu hanya rekayasa, namun untuk pengakuan tentang Khendrik yang tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan seorang wanita, adalah sebuah kebohongan.


Maura melihat ke dalam manik mata Khendrik. Di sana ia tidak menemukan sebuah kebohongan. Maura kembali merenungkan ucapan Khendrik mengenai foto itu yang hanya sebuah rekaya. Maura seakan luluh dengan ucapan Khendrik, ia ingin berbicara secara baik-baik dengan Khendrik. Jika memang Khendrik tidak melakukan hubungan terlarang, maka ia akan mencabut surat gugatan cerainya.


Sungguh sangat mulia, dan begitu lembut hati Maura. Dia masih akan bertahan dengan Khendrik meskipun Khendrik telah menyakitinya.


...----------------...


Terimakasih untuk yang masih setia membaca novel ku 🥰


Jangan lupa dukungannya dengan cara tekan like, komen, dan kirim gift sebanyak-banyaknya 😘😘

__ADS_1


Lophe-lophe se kebon cabe🌶🌶🌶


__ADS_2