
Happy Reading🥰
Kenan sangat cemas ia takut terjadi sesuatu terhadap Liora. Kenan membaringkan tubuh Liora di atas ranjang yang terdapat di ruangan itu. Ia memanggil Jesicca dengan terburu-buru yang berada di meja kasir.
"Kakak Ipar! Liora pingsan!" ujar Kenan dengan panik.
"Apa! Kamu apakan adikku, huh! Jesicca menatap tajam, Kenan. Ia langsung berlari untuk menghampiri Liora.
"Li! Bangun! Jangan bikin kakak khawatir!" Mata Jesicca sudah mengembun, rasanya ia akan menumpahkan air mata itu.
"Kenan! Cepat hubungi dokter pribadi kamu, suruh dia kesini." perintah Jesicca dengan tegas. Edo menenangkan sang istri yang sedang panik.
"Sayang, tenanglah. Liora tidak akan kenapa-napa kok."
"Gara-gara dia! Liora sampai pingsan. Dasar laki-laki tidak becus." Jesicca menunjuk wajah Kenan yang tengah menatapnya dengan rasa bersalah.
"Maafin aku, Kak. Aku tidak melakukan apa pun sama Liora, dia hanya nangis terus pingsan."
"Itu sama saja, Kenan!" Jesicca menatap Kenan dengan mata menyala.
Liora masih tidak sadarkan diri, hingga beberapa saat kemudian seorang dokter laki-laki masuk ke dalam ruangan itu atas perintah Kenan. "Dokter, tolong periksa istri saya." Kenan berkata dengan cemas.
"Tenang Pak Kenan. Saya akan memeriksa keadaan istri anda." Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Liora.
Sedangkan Jesicca terlihat sangat kesal saat mendengar Kenan berkata bahwa Liora adalah istrinya. "Cih! Baru juga calon." gumam Jesicca dengan pelan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Kenan setelah dokter selesai memeriksa kondisi Liora.
"Istri anda baik-baik saja Pak Kenan."
"Baik-baik saja bagaimana Dok? Adik saya lagi pingsan loh!" Jesicca langsung nyerocos mendahului Kenan yang sebentar lagi akan berbicara kepada dokter itu.
"Biar saya jelaskan, Bu, Pak. Saya rasa istri Pak Kenan tidak pingsan, dia sepertinya hanya tertidur saja. Ketika saya memeriksa keadaannya ternyata semuanya normal."
"Apa! Tidur! Jangan bercanda deh, Dok." kali ini, Edo yang menimpali.
__ADS_1
"Kalau kalian tidak percaya, nanti bisa tanyakan kepada orangnya langsung saat dia bangun." Setelah mengatakan itu, dokter langsung keluar dari ruang kerja, Jesicca.
Kenan, Jesicca, dan Edo hanya saling pandang. Mereka dibuat bingung oleh keterangan dokter yang menyatakan bahwa Liora hanya tidur bukan pingsan. Mereka bertiga sepakat untuk menunggu Liora bangun.
30 menit berlalu akhirnya Liora bangun juga. Mereka bertiga langsung menghampiri Liora. Liora menatap bingung ke arah Kenan, Jesicca, dan juga Edo. Kenapa mereka bertiga menatap aneh ke arahnya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Liora mengerutkan keningnya.
"Sayang, kamu tadi kenapa?" Kenan bertanya kepada Liora.
"Memangnya aku kenapa? Tadi aku 'kan nangis karena kesal sama kamu, terus aku ngantuk kayaknya aku ketiduran deh." Liora mengingat-ingat kejadian tadi.
"Jadi kamu beneran ketiduran dan bukan pingsan?" Jesicca menatap tak percaya.
"Kakak kira aku pingsan sehabis menangis?"
"Astaga! Liora! Kamu tahu tidak bagaimana khawatirnya kakak pas Kenan bilang kalau kamu pingsan."
"Hah, aku gak pingsan kok. Aku cuma kecapean karena di buat nangis terus sama Kenan, Kak."
Jesicca dan Edo menghembuskan nafas kasar. Mereka masih tak percaya dengan apa yang terjadi. "Mas, lebih baik kita keluar saja. Lama-lama aku bisa stres berkumpul dengan mereka." Jesicca melangkah pergi dari ruangnya sendiri.
"Maksud kak Jesi apa, Kenan?" Liora masih bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa dirinya bisa dikira pingsan, lalu wajah kakaknya yang tampak kesal.
"Katanya tadi mph ...." Liora tidak bisa melanjutkan ucapannya, sebab Kenan langsung membungkam bibirnya menggunakan bibir Kenan.
"Untuk kali ini, menurut lah dengan perkataanku, Sayang. Semua yang aku lakukan demi kebaikan kamu."
Liora menatap wajah Kenan yang terlihat sangat serius. Ia tidak bisa menolak ajakan dari Kenan dan hanya bisa menganggukkan kepala.
Di Dalam Mobil.
"Sayang, bagaimana keputusan kamu untuk hadir di acara sidang nanti?" tanya Kenan dengan hati-hati takut Liora kembali marah jika membahas tentang Khendrik.
"Memangnya aku harus hadir? Aku mohon Kenan, lakukan apa pun agar aku tidak hadir di sidang itu. Aku benar-benar tidak sanggup jika harus bertatap muka dengan papa kamu."
"Huf! Baiklah demi kamu akan aku lakukan apa pun itu. Aku tidak akan memaksa agar kamu hadir di sana. Aku tidak mau kamu tertekan dan berdampak buruk terhadap kandungan kamu."
__ADS_1
"Terimakasih, Kenan. Sudah mau mengerti keadaan aku."
Kenan menghentikan mobilnya, ia membalikkan badan agar menghadap ke arah Liora. "Sayang, kamu adalah prioritas ku, jadi jangan selalu berterima kasih atas apa yang aku lakukan. Anggap saja itu semua sebagai bentuk permintaan maafku untuk kesalahan di masa lalu."
"Aku sudah memaafkan mu, Kenan. Jujur saja aku tidak pernah membencimu, hanya kecewa yang aku rasakan atas perbuatanmu dulu."
"Terimakasih sudah memberikan satu kesempatan buat aku bisa bersama mu, Sayang." Kenan menatap intens manik mata Liora. Ada binar cinta di dalam sana, Kenan merasa beruntung bisa di cintai dan mencintai wanita se baik Liora.
Entah siapa yang memulainya bibir mereka telah bertaut. Saling membelit, mengg***t, dan menye**p. Kenan melepas ciuman itu kala merasakan hasratnya naik ke ubun-ubun.
Tanpa berkata apa pun, Kenan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di rumah agar bisa menyalurkan hasrat yang sudah menggebu.
Kenan memarkirkan mobilnya di depan rumah secara asal. Ia menggendong tubuh Liora, membawanya ke dalam kamar tak lupa langsung mengunci pintu.
"Ken-- Emph ...."
Liora tak diberikan kesempatan berbicara, Kenan langsung me-lu-mat habis bibirnya. Liora berusaha mengimbangi ciuman Kenan meskipun ia mendapatkan serangan mendadak.
Keduanya saling membantu melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka. Kenan membaringkan tubuh Liora di atas kasur king size. Tangan Kenan tak tinggal diam, dia terus menelusuri setiap lekuk tubuh Liora. Membuat Liora meliuk-liukkan tubuhnya seperti cacing kepanasan.
Di rasa sawah Liora telah siap untuk di bajak, Kenan langsung memposisikan terongnya agar masuk tepat sasaran ke sawah itu.
Jleb!
Aahh ...
Kali ini Liora yang lebih mendominasi, kemarin ia hanya menerima serangan dari Kenan, namun tidak untuk saat ini. Liora mengambil alih, ia yang memegang kendali dalam permainan itu. Membuat Kenan terus meng***ng merasakan nikm*t yang tiada tara.
Liora!
Ah ... Ah ...
Tiada hentinya Kenan menyebut nama Liora dalam permainan itu. Membuat Liora semakin semangat menggerakkan pinggulnya di atas tubuh Kenan. Permainan tanam-tanaman kali ini terasa berbeda. Kenan tidak akan pernah melupakan servis terbaik dari Liora. Besok-besok dirinya yang akan membuat Liora terkesan dengan permainannya.
1 jam kemudian permainan tanam-tanaman itu akhirnya berakhir juga. Kenan menghujani wajah Liora dengan kecupan. "Terimakasih, Sayang. Aku mencintaimu."
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar 😘