Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 78. Pakmil Berulah.


__ADS_3

Happy ReadingπŸ₯°


Kenan terus mengikuti Liora kemanapun dia pergi. Kenan tidak bisa jauh-jauh dari Liora, rasanya ingin selalu bersama dengan calon istrinya itu. "Apa kamu tidak lelah, mengikuti aku terus-menerus? Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang, Kenan." Liora tidak tahan melihat tingkah Kenan.


"Sayang, kamu ngusir aku? Aku ini calon suami kamu loh. Tawarin nginap kek, bukannya di suruh pulang."


"Baru juga calon, bukan suami."


"Sayang! Jangan gitu dong. Ya udah kita nikah sekarang aja. Biar kita bisa tinggal bersama. Untuk acara resepsinya belakangan saja."


"Mana bisa kayak gitu. Jangan ngada-ngada ya, Ken."


"Hehe ..., habisnya kamu gemesin, bikin aku gak tahan aja."


"Ken!" Liora memelototi Kenan. Semakin lama, sikap Kenan semakin gila menurutnya. Tak salah Liora memberikan nama 'pria gila' untuk Kenan.


Meskipun hari sudah malam, Kenan enggan untuk pulang. Apalagi di rumah itu hanya tinggal Liora, dia tidak bisa meninggalnya sendirian. Jesicca telah pulang bersama Edo ke rumah pertama.


Besok, Maura akan menjenguk Liora ke sana, dan juga akan membahas hari pernikahan mereka. Maura tak sabar ingin melihat putra semata wayangnya menikah.


Kenan memandangi wajah Liora dari samping, dia terlihat sangat cantik di matanya. Aura ibu hamil sungguh berbeda. Liora duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Tangannya dengan lincah memasukkan camilan ke dalam mulut mungilnya.


Kenan menopang dagu dengan kedua tangannya. Bibirnya terus tersenyum, matanya tak berkedip, seolah terhipnotis dengan kecantikan Liora.


"Sampai kapan kamu akan memandangku seperti itu, Kenan? Apa mata kamu tidak perih?" Liora bertanya dengan tatapan fokus ke layar televisi.


"Kamu sangat cantik, Sayang."


Liora menghentikan aktivitas makannya, ia menundukkan wajah, kedua pipinya bersemu merah. Kenan mengangkat dagu Liora, mata mereka bertemu pandang.


Kenan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup Kening Liora penuh kasih sayang. "Kenapa menunduk, hum?"


Liora menggelengkan kepala sebagai tanda jawaban. Ia menatap manik mata Kenan dengan sangat dalam. Kenan menatap bibir Liora yang begitu menggoda. Perlahan tapi pasti, Kenan menempelkan bibirnya ke bibir Liora.


Tidak ada penolakan dari Liora, Kenan merasa dapat lampu hijau. Kenan me-lu-mat bibir Liora dengan lembut. Melepaskan rasa rindu yang telah lama di pendam. Ciuman yang penuh cinta, tak ada n*fsu dalam ciuman itu.


Liora lebih dulu melepaskan ciumannya, saat dirinya kehabisan nafas. Liora tersenyum manis, membuat Kenan ingin kembali melahap bibir itu. Namun, Kenan urungkan. Dia memeluk tubuh mungil, Liora. "I LOVE YOU, LIORA". Kenan mengucapkannya tepat di telinga kanan Liora.

__ADS_1


Hati Liora berbunga-bunga, ia sangat bahagia mendapatkan ungkapan cinta dari Kenan. Laki-laki yang sangat dia cintai sejak dulu. Rasa itu sempat pudar, gara-gara ulah Khendrik. Sekarang cinta mereka kembali bersemi.


" Sayang, kamu ada hutang penjelasan kepadaku." ucap Liora dengan begitu manja.


Jantung Kenan serasa ingin melompat dari tempatnya. Ia tercengang mendengar Liora memanggilnya dengan kata 'sayang'. "Ulangi lagi, Sayang. Panggil aku dengan kata yang tadi!"


"Tidak ada pengulangan, Kenan" Liora sengaja ingin mengerjai Kenan.


Kenan memasang wajah melasnya. Ia menyesal, kenapa tadi tidak merekam ucapan Liora. Kenan jadi kehilangan hal yang paling berharga.


"Hem, baiklah kalau tidak mau mengulanginya lagi."


"Hahaha ..., ayo beritahu aku dimana papa kamu berada?" Liora menatap Kenan penuh harap.


Kenan menghembuskan nafas, ia membenarkan posisi duduknya. Menggenggam tangan Liora, lalu mengecupnya.


Cup!


"Papa ..., dia ada di kantor polisi!" Kenan memberanikan diri untuk mengungkap kejahatan papanya di depan Liora.


Liora membelalakkan matanya, merasa terkejut dengan kabar itu. Ia menutup kedua mulutnya, sembari menunggu kelanjutan cerita dari Kenan.


"Tapi apa, Ken?"


"Dia juga yang menambrak Kakak ipar."


"Apa!" Liora sangat tak menyangka dengan apa yang dilakukan Khendrik terhadap kakaknya.


"Ternyata, dia melakukan itu dengan sengaja. Agar anak di dalam kandungan kakak ipar, pergi untuk selamanya." Kenan melanjutkan ceritanya hingga selesai.


Liora sangat marah, dadanya naik-turun. Kepalanya seakan mau pecah, Liora tidak akan pernah memaafkan Khendrik. Mendengar cerita dari Kenan, membuat Liora sangat kasihan terhadap kakaknya. Khendrik yang berusaha kabur dari para polisi, semakin membuat Liora marah.


Kenan menyentuh tangan Liora, dan berusaha menenangkannya. Kenan tidak ingin kemarahan Liora berpengaruh buruk terhadap kandungannya.


"Sayang, tenang ya. Kasian sama anak kita. Dia pasti juga merasakan apa yang kamu rasakan." Kenan mengusap perut Liora dengan lembut.


Liora menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia baru ingat dengan kandungannya. Liora harus berusaha menahan amarah yang sempat memuncak di dalam dirinya. Liora juga tidak ingin kandungannya kenapa-napa.

__ADS_1


"Maafin Mama, Sayang. Mama terbawa emosi." Liora juga mengusap perutnya, seraya meminta maaf kepada calon buah hatinya.


"Sayang. Ketika mengetahui kejahatan papa, yang sangat keterlaluan. Apakah kamu akan kembali membenciku?" Kenan bertanya dengan ragu.


Liora menatap lembut, Kenan. Ia tidak mungkin membenci Kenan, yang jelas-jelas tidak bersalah dalam hal ini. Dia juga membantu Edo dan para polisi dalam mencari keberadaan Khendrik.


Liora tersenyum kepada Kenan. Tangannya menangkup kedua pipi Kenan. Dengan berani, Liora mengecup bibir Kenan. Kenan terkejut dengan ciuman singkat yang Liora berikan. Ia tak menyangka bahwa Liora akan berani menciumnya.


"Sayang."


Cup.


Liora kembali mencium bibir Kenan. Ia tak memberikan kesempatan untuk Kenan berbicara. "Mana mungkin aku membenci orang yang sudah menangkap pelaku kejahatan yang terjadi kepadaku dan juga kakakku."


Kenan sangat lega, karena Liora tidak membencinya. "Terimakasih Sayang." Kenan menghujani Liora dengan ciuman di seluruh wajahnya."


"Kenan, sudah."


"Tidak akan!"


Liora mencubit perut Kenan, supaya menghentikan ciumannya. Bukannya berhenti, Kenan malah menggelitik kedua pinggang, Liora.


"Aah, Kenan! Geli! Berhenti!"


Liora tertawa menahan rasa geli yang disebabkan oleh Kenan. Kenan juga tertawa melihat wajah Liora yang memerah. Sungguh keduanya terlihat sangat bahagia. Mereka melupakan masalah yang pernah menimpa dirinya.


"Aw! Kenan! P-perut aku sakit!" Liora memang perutnya yang sedikit kram. Mungkin karena terlalu lama tertawa.


Kenan langsung menghentikan tangannya yang menggelitik, Liora. "Sayang. M-maafkan aku. Kita ke rumah sakit, sekarang."


Kenan hendak mengangkat tubuh Liora, dengan cepat Liora menghentikannya. "Tidak usah, Ken. Cukup elus saja perut aku. Hanya kram biasa kok."


"Beneran? Tapi aku khawatir, Sayang."


"Aku baik-baik saja, Ken." Liora menarik tangan Kenan, meletakkannya di atas perut. Mengarahkan agar tangan Kenan mengusap perutnya.


Kenan membaringkan tubuh Liora di atas sofa. Mengusap perut Liora dengan sangat lembut. Takut menyakiti sang buah hati. Tangannya merasakan perut bagian bawah, Liora, sedikit mengeras. Kenan menyesal sudah membuat Liora kesakitan.

__ADS_1


...----------------...


Lophe-lophe se kebon cabe buat kalian para readers 😘😘😘😘


__ADS_2