Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 90. Suara-suara Berisik.


__ADS_3

Happy Reading🄰


Maura terus me-lu-mat bibir Niko yang terasa manis di indera perasa. Pertahanan Niko akhirnya runtuh juga, ia membalas serangan dari Maura. Sekarang Niko yang lebih mendominasi. Meskipun ini adalah kali pertama bagi dirinya dalam hal berciuman, namun bukan berarti Niko tidak tahu cara bermain lidah.


Lidah mereka terus membelit, meny*sap, hingga menimbulkan suara lenguhan di bibir keduanya. Niko membalik tubuh Maura, mengambil alih permainan itu. Nafas keduanya semakin memburu mana kala cumbuan mereka semakin panas.


Tangan Niko dengan lihainya me-lu-cu-ti baju Maura dan baju dirinya, hingga tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun. Mata Niko membulat ketika melihat lekuk tubuh Maura yang begitu sempurna. Dua buah kenyal yang masih terlihat padat, tidak kendor sama sekali.


Kulit Maura masih kencang, dan juga sangat mulus. Membuat Niko tidak sabar ingin segera menerkamnya. Maura tersenyum melihat benda pusaka milik Niko yang sudah mengacung. Matanya berbinar seolah menemukan makanan favoritnya.


"Waaaah ... Niko! Punyamu besar sekali! Aku sangat suka!" Maura terlihat sangat girang saat menyentuh milik Niko.


Eungh! Aahh!


Niko meng**ang, merasakan sentuhan lembut dari tangan Maura. Wanita pertama yang menyentuhnya, membuat Niko menjadi kalang kabut. Niko menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati permainan lidah Maura yang menari-nari dengan terong-nya.


Maura menj***t terong jumbo milik Niko layaknya memakan permen lolipop. Niko mengikat rambut Maura ke belakang menggunakan tangannya. Ia menekan kepala Maura untuk memperdalam si terong memasuki mulut Maura yang terasa hangat.


Tiada hentinya Niko terus meng***ng, merasakan terong-nya seperti di remas-remas. Niko mencabut terong-nya yang masih asik di manjakan oleh Maura.


Pikiran Maura sudah blank, tidak dapat di kontrol lagi. Jika dia dalam keadaan sadar tidak mungkin melakukan hal sangat memalukan baginya. Entah bagaimana nanti jika pengaruh alkohol itu hilang, pasti Maura tidak sanggup bertatap muka dengan Niko.


Niko membuka lebar-lebar kaki Maura supaya dirinya leluasa melihat sawah Maura yang sudah mulai lembab. Niko memainkan lidahnya di sawah itu, membuat Mau merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Sentuhan Niko sangat berbeda dengan sentuhan Khendrik. Maura lebih menyukai permainan Niko di sawahnya.

__ADS_1


Di rasa cukup melakukan pemanasan, Niko akan memulai inti dalam permainan tanam-tanaman bibit terong. Ia mengarahkan terong-nya ke sawah Maura yang sudah siap ia bajak. Tak dapat diragukan mengenai betapa besarnya terong jumbo milik Niko, bentuknya mengalahkan terong Khendrik yang masih kalah jumbo dengan miliknya.


Walaupun Maura tidak virgin, namun Niko tetap merasa kesusahan saat memasuki milik Maura. Mungkin karena Maura rutin melakukan perawatan pada miliknya hingga asetnya masih terasa s****t. Atau bisa jadi itu karena terong Niko yang super jumbo, membuatnya kesulitan menerobos masuk.


Hingga dorongan ketiga Niko berhasil memasuki sawah Maura yang akan dia bajak habis-habisan. "Ternyata rasanya sangat luar biasa, pantas saja semua laki-laki ingin segera menikah. Jika aku tahu rasanya akan seperti ini, maka sudah dari dulu aku menikahi Maura sebelum dia menikah dengan Khendrik." batin Niko menyesal.


Niko mulai memaju mundurkan pinggulnya guna membuat bajakannya sempurna di sawah Maura. Permainannya membuat Maura yang berada di bawah kungkungannya merasa semakin blank.


Maura tak ingin kalah dengan permainan tanam-tanaman yang Niko lakukan di sawahnya, ia juga bermain sangat liar membuat Niko semakin meronta-ronta.


Hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak dari permainan itu. Niko menyemburkan bibit terong-nya di sawah Maura. Ia berharap bibitnya akan tumbuh di sana, meskipun umurnya sudah berkepala empat, namun tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya juga ingin mempunyai keturunan dari wanita yang ia cintai.


Maura langsung tertidur lelap, Niko tersenyum melihat bekas percintaannya yang membasahi sprei di kamar itu. Dengan membayangkan kembali permainan tanam-tanaman membuat Niko ingin mengulang kembali permainan itu.


Niko ikut bergabung dengan Maura, memejamkan mata dengan posisi memeluk Maura dari belakang.


...----------------...


Di kamar sebelah, Edo dan Jesicca juga bermain tanam-tanaman tak kalah sengit dengan permainan Niko dan Maura.


Edo seperti tidak pernah lelah, tenaganya selalu kuat. Sudah beberapa jam lalu mereka masih bergulat di atas ranjang. Hingga suara decitan ranjang, dan suara de-sa-han memenuhi ruang kamar.


Dua pasangan yang sedang bercinta merasa sangat gila. Beda halnya dengan pasangan pengantin baru yang menghabiskan malam pertamanya dengan tertidur pulas tanpa ada ritual tanam-tanaman.

__ADS_1


"Kenan! Kenapa di kamar sebelah berisik sekali? Apa yang mereka lakukan?" tanya Liora kepada Kenan. Sejak tadi dia tidak bisa memejamkan mata karena terganggu dengan suara-suara berisik dari dua kamar di sebelahnya.


Kebetulan kamar Liora dan Kenan berada di tengah-tengah antara kamar Jesicca dan Maura. Jadi dia bisa mendengar suara gaduh dari dua kamar itu. Meskipun hanya mendengar secara samar-samar, namun tetap saja Liora merasa terganggu.


Kenan yang merasa paham dengan kegaduhan itu memilih diam. Ingin menjelaskan takut dirinya malah juga terpancing, dan ingin melakukan peperangan juga. Sedangkan keadaan Liora tidak memungkinkan untuk ia serang.


Kenan hanya bisa men-de-sah kasar, bisa-bisanya malam pertamanya di dahului oleh kakak ipar dan juga ma-ma ..., Kenan membulatkan mata saat menyebutkan nama mamanya.


"Di kamar sebelah kanan adalah kamar Kakak Ipar. Sedangkan di kamar sebelah kiri adalah kamar mama. Di sana mama hanya tidur seorang diri, papa juga masih ada di kantor polisi. Lalu ... Kenapa di kamar mama juga ada suara aneh itu? Apa jangan-jangan ... Tidak! aku tidak boleh berfikir yang macam-macam. Mama tidak mungkin mengkhianati papa. Walaupun aku berharap mama bisa menemukan pengganti papa dalam hidupnya, tapi masak iya secepat ini mama menemukan penggantinya papa?" batin Kenan menerka.


"Kenan! Kenapa kamu diam saja!" Liora menatap Kenan dengan kesal. Sebab sedari tadi Kenan tidak pernah menjawab pertanyaannya.


"Ah, i-iya Sayang. Kenapa?" Kenan malah bertanya balik, mungkin karena sibuk melamun Kenan jadi tidak fokus dan tidak mendengar apa yang Liora tanyakan.


"Sudahlah! Kamu selalu saja membuat mood ku jelek."


"Bukan begitu, Sayang. Aku benar-benar tidak mendengar apa yang kamu katakan. Jangan marah ya, lebih baik kita main tanam-tanaman."


Kenan mengeratkan pelukannya di pinggang Liora. Ia me-lu-mat habis bibir Liora. Kenan sudah sudah tidak bisa menahannya lagi, suara-suara luckn*t itu semakin membuat has***nya meningkat.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2