
Happy Reading🥰
Anggota polisi masih terus mencari keberadaan Khendrik. Kenan dan Edo juga tak hentinya ikut membantu polisi. Kenan telah memerintahkan anak buahnya untuk melacak keberadaan sang papa.
Drrtt ... Drrtt ...
Kenan mendapatkan notifikasi pesan dari salah satu anak buahnya. Yang mengabarkan sebuah informasi tentang keberadaan Khendrik sekarang. Kenan langsung menghubungi Edo dan para polisi untuk menuju ke luar kota, tempat Khendrik berada.
Mereka menghabiskan waktu selama 3 jam untuk menuju ke tempat Khendrik berada, yang ternyata ada di kota B. Kenan telah sampai di depan sebuah Villa yang sangat besar di sana. Ia mengerutkan kening saat melihat Villa itu. Pasalnya mulai dari dia kecil sampai sekarang, Kenan dan mamanya tidak pernah datang ke Villa itu. Pasti Khendrik membelinya baru-baru ini.
Kenan memberikan kode kepada para polisi dan juga Edo. Mereka mendekati Villa dengan cara mengendap-endap. Sedangkan Kenan dengan santainya mengetuk pintu. Ia tidak takut sama sekali dengan papanya. Jika Khendrik melakukan hal curang menggunakan uang, maka Kenan pun lebih bisa melakukan itu. Karena yang berkuasa di perusahaan Khendrik adalah dirinya.
Tok! Tok! Tok!
Cukup lama Kenan menunggu pintu itu terbuka, hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Khendrik membuka pintu. Khendrik terkejut melihat kehadiran Kenan di sana. Ia pikir pengacaranya yang datang. Khendrik celingukan seperti sedang mengawasi sesuatu.
"Apa yang Papa cari? Dasar, pengecut!"
"Jaga ucapanmu Kenan!"
"Kenyataannya memang begitu 'kan? Untuk apa Papa bersembunyi di sini, dan tidak pulang ke rumah?"
"Itu bukan urusanmu!"
Khendrik hendak menutup pintu, dengan cepat Kenan menghentikannya. "Keluar!" Setelah mengucapkan itu, yang seolah sebuah perintah. Para polisi langsung keluar dan mengepung Khendrik.
Edo tersenyum devil ke arah Khendrik. Ia merasa puas karena bisa menangkap Khendrik. Beruntung ada Kenan yang turut membantunya, jika tidak pasti Edo dan para polisi akan kesulitan mencari keberadaan Khendrik.
__ADS_1
"Lepas!" Khendrik memberontak saat polisi memborgol tangannya. Khendrik di seret ke dalam mobil, lalu di bawa ke kantor polisi yang berada di kota J.
Kenan dan Edo berada di satu mobil yang sama. Mereka mengikuti mobil polisi dari arah belakang. "Terimakasih Kenan. Berkat bantuanmu kita berhasil menemukan papa kamu."
"Itu sudah tugasku ikut membantu menangkap papa. Karena dia memang bersalah, apalagi dia juga melecehkan Liora yang tengah hamil anakku."
"Huf! Dulu aku mengenal Khendrik sebagai laki-laki yang setia kepada istrinya. Tapi, sejak kejadian di hotel kejora, sekarang Khendrik menjadi laki-laki yang brengsek."
Kenan tersenyum kecut mendengar ucapan Edo. Ia tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Edo. Hanya saja dia kecewa dengan perilaku papanya yang sangat keterlaluan.
Mereka tiba di kota J, dan langsung membawa Khendrik ke kantor polisi. Awalnya Khendrik memberontak, dan tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh para polisi. Setelah Edo dan Kenan menjadi saksi atas kejahatan Khendrik, dan juga dilengkapi dengan bukti yang kuat, akhirnya Khendrik di masukkan ke dalam sel penjara.
Kasus Khendrik masih di tutup rapat-rapat. Tidak ada orang yang tahu mengenai itu. Hanya Kenan, Edo dan Maura yang tahu. Mungkin setelah itu Liora dan Jesicca juga akan tahu. Kenan telah memberikan biaya kompensasi untuk semua polisi, agar kasus Khendrik tidak tercium oleh awak media, selama sidang belum selesai.
Kenan harus siap dengan segala konsekuensinya,
jika kasus Khendrik sampai terendus oleh media, pasti akan berdampak buruk terhadap perusahaannya. Jadi, Kenan berusaha keras untuk menutupi kasus itu. Kenan melakukan itu bukan atas kepentingannya sendiri, melainkan demi mental sang mama agar tidak drop jika itu terjadi.
Liora yang tengah makan di suapi oleh Jesicca, menghentikan kunyahannya saat melihat Kenan memasuki ruangan itu. Kenan tersenyum kepada Liora yang tengah menatapnya.
"Hey, sudah baikan?" Kenan mengusap kepala Liora penuh kasih sayang.
Liora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Hati Liora kembali menghangat mendapatkan perlakuan manis dari Kenan. Cintanya kembali bersemi, menghapus rasa benci dan dendam yang pernah ada di hati Liora.
Sejak kejadian yang menimpa dirinya, dan Kenan menjadi penolong untuknya. Liora tidak lagi bersikap dingin kepada Kenan. Ia akan mencoba untuk menerima Kenan, walaupun dia pernah melecehkannya. Namun, bayi yang ada di dalam kandungannya membutuhkan sosok ayah.
Liora tidak ingin egois, demi anaknya ia akan menerima Kenan. Lagipula kejahatan yang Kenan lakukan terhadapnya, semua itu karena sebuah kesalahpahaman.
__ADS_1
"Kalian dari mana?" tanya Jessica yang baru menyadari bahwa Kenan dan Edo sempat pamit pergi bersama.
"Kami baru menyelesaikan tugas negara," jawab Edo menimpali.
"Kayak polisi saja." Jesicca menatap Edo tak percaya.
Sedangkan Kenan dan Liora hanya menyaksikan percakapan dua insan yang tengah berbicara.
"Nanti aku jelaskan kalau sudah di rumah. Lebih baik kita fokus sama penyembuhan Liora." Akhirnya Kenan membuka suara. Ia tak ingin mengungkapkan tentang kasus penangkapan Khendrik disaat kondisi Liora belum membaik.
Edo dan Jesicca keluar dari ruangan itu, mereka memberikan waktu berdua untuk Liora dan Kenan. Mungkin ada yang perlu mereka bicarakan.
"Sayang! Apa dia tidak rewel, hum?" tanya Kenan milirik ke arah perut Liora. Ingin rasanya Kenan mengusap perut itu, namun ia tak berani. Takut Liora akan memarahinya karena lancang.
"Dia anak yang baik. Tidak rewel sama sekali."
"Bolehkah aku menyentuhnya?" Kenan menatap Liora dengan penuh harap.
"B-boleh."
Sungguh jawaban Liora membuat Kenan merasa sangat senang. Ia langsung mengusap perut Liora yang masih tampak datar. "Sayang! Kamu sehat-sehat ya di dalam sana. Jangan rewel, kasian sama mama kamu. Papa menantikan kehadiranmu, sayang!" Kenan mengecup perut Liora.
Liora terkejut dengan tindakan Kenan. Ia merasakan jantungnya berdebar saat bibir Kenan menempel di perutnya, yang hanya terhalangi oleh kain tipis. Terasa geli, namun Liora sangat tersentuh dengan kata-kata Kenan yang dilontarkan untuk calon anak mereka.
Kehamilan Liora memang tidak rewel. Ia tidak merasakan apa yang ibu hamil rasakan pada umumnya. Yang terkadang mual, muntah, bahkan terkadang lemas. Namun, Liora tidak merasakan itu semua. Liora sangat bersyukur karena calon anaknya sangat pengertian.
Cukup lama keduanya berpandangan, entah siapa yang memulainya, kini bibir mereka saling menempel. Kenan me-lu-mat bibir Liora dengan sangat lembut. Mencurahkan rasa rindu yang kian menggebu. Liora membalas ciuman Kenan, ia seakan terhipnotis dengan ciuman itu.
__ADS_1
...----------------...
Lopyu pull untuk kalian pada readers yang masih setia membaca novel ku😘😘😘