
Happy Reading🥰
"Maksud kamu apa! Bicara seperti itu di depan Juna, huh?" tanya Liora berapi-api. Ia dan Kenan tengah duduk di kursi belakang cafe.
"Aku hanya bicara fakta."
"Huh, itu hanya dalam mimpimu!"
"Sudahlah Liora. Aku tidak menerima penolakan! Aku akan menikahi mu dalam waktu dekat."
"Aku tidak mau, Kenan!"
"Terserah! Sudah cukup aku bersikap baik terhadap mu, tapi kamu selalu menolak niat baikku. Sekarang aku tidak akan berbaik hati lagi, aku tetap akan menikahi mu, Liora!"
"Cih! Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki brengsek sepertimu."
Mereka berdua terus berdebat, tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya. Liora semakin muak dengan tingkah Kenan yang semena-mena. Sedangkan Kenan, sangat kesal karena Liora sangat susah di taklukkan. Hingga akhirnya perdebatan sengit itu terus berlanjut.
Kenan memikirkan cara agar Liora mau menikah dengannya. "harus dengan cara apa aku meluluhkan hati, Liora? Aku tidak mungkin melepaskan Liora begitu saja, aku sangat mencintainya." Setelah berperang dengan batinnya, akhirnya Kenan melontarkan kata yang terlintas dipikirannya.
"Bagaimana kalau kamu hamil?"
"Tidak akan! Karena aku telah meminum pill kontrasepsi setelah kejadian itu."
Kenan mengepalkan tangan, mendengar ucapan Liora. Tega sekali Liora meminum pill itu, padahal dia sangat berharap bahwa bibit terongnya akan tumbuh di rahim, Liora.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa! Aku tidak bodoh, Kenan. Aku tidak sudi mengandung anak dari laki-laki bajingan seperti kamu!"
"Tutup mulutmu, Liora! Jangan memancing amarahku!"
Wajah Kenan terlihat memerah, ia berdiri dari posisi duduk, dan menatap Liora dengan tatapan mematikan. Liora menundukkan wajah, nyalinya menciut saat mendengar bentakan dari Kenan. Dengan badan yang gemetar, Liora berusaha bangkit dari duduknya. Ia pergi meninggalkan Kenan di sana.
Air mata Liora berjatuhan membasahi kedua pipinya, mengikuti langkah kaki yang terus pergi menuju ruangan kerja sang kakak. Tanpa permisi, Liora langsung memasuki ruangan itu. Jesicca sangat terkejut dengan kehadiran sang adik, yang tengah berlinangan air mata.
Liora langsung menghambur ke dalam pelukan sang kakak. Ia menangis sejadi-jadinya di sana, Jesicca hanya diam tak ingin menginterogasi sang adik. Sedangkan Edo, ia memilih ke luar dari ruangan itu. Ia ingin memberikan ruang privasi kepada Jesicca dan Liora.
Cukup lama Liora menangis, hingga ia merasa lelah. Liora dan Jesicca duduk di sofa dalam ruangan itu. "Kamu kenapa, sayang?" tanya Liora dengan nada lembut.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa, Kak. Pengen nangis aja."
"Kamu kira kakak ini anak kecil, yang bisa dibohongi. Cerita lah, ada apa?"
Dengan ragu, Liora menceritakan sakit hatinya karena Kenan. Semuanya Liora ceritakan, tentang Kenan yang terus memaksa untuk menikahinya. Namun, Liora tidak memberitahukan tentang kejadian menjijikkan antara dirinya dan Kenan.
"Itu artinya Kenan sangat mencintai kamu, Li."
"Entahlah Kak. Dulu aku memang mengharapkan hal ini terjadi. Namun, sekarang aku tidak ingin sama sekali."
"Apa semua itu karena Khendrik?"
Liora terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan sang kakak. Bagaimana pun, Liora tidak ingin membuat kakaknya merasa bersalah.
"Jika kamu masih mencintai Kenan, maka terima saja lamarannya. Soal kebenaran bahwa dia adalah anak dari laki-laki yang sudah menghancurkan hidup kakak, lupakan saja. Kakak yakin kalau Kenan tak sejahat papanya."
Jesicca akan mengesampingkan perasaan bencinya kepada Khendrik demi cinta sang adik. Meskipun sangat sulit jika harus berbesanan dengan orang yang paling dia benci.
"Aku tidak bisa kak. Kalau akau menikah dengan Kenan, dan tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya, pasti si tua bangka itu akan ...."
Hampir saja Liora keceplosan, mana mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya kepada Jesicca, kalau Khendrik mencintai dirinya. Yang ada Jesicca akan menginterogasinya tentang bagaimana bisa Khendrik mencintai dirinya. Jika Jesicca tahu, pasti dia akan marah besar.
"Akan mencuri kesempatan untuk mendekati ku." tentu saja Liora hanya mengatakannya di dalam hati. "Akan ..., akan membuat ku selalu kesal Kak." Liora terpaksa berbohong.
"Kamu 'kan bisa membuat permintaan sama Kenan, kalau kamu tidak ingin tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya."
"Kalau Kenan tidak mau, dan orang tuanya juga tidak mengizinkan, bagaimana?"
"Tidak usah menikah sama Kenan. Kakak akan memberikan restu sama kamu, kalau kamu dan Kenan tinggal di rumah kita yang lama, rumah peninggalan kedua orang tua kita."
"Lalu, kakak bagaimana?"
Mendengar pertanyaan dari Liora, Jesicca jadi teringat dengan pilihan yang di berikan oleh Edo, setelah mereka menikah. Mumpung lagi membicarakan soal tempat tinggal, Jesicca akan meminta pendapat dari Liora.
"Begini, Edo memberikan kakak tiga pilihan tempat tinggal setelah menikah."
"Maksud Kakak?"
"Edo dan Mama, memberikan kakak tiga pilihan. Pilihan yang pertama, kakak dan Edo akan tinggal di rumah orang tuanya setelah menikah. Pilihan kedua, kita akan tinggal di rumah yang baru yang telah Edo persiapkan. Pilihan ketiga, kita akan tinggalkan di rumah untuk menemani kamu sampai kamu menikah."
__ADS_1
"Terus, kakak pilih nomor berapa?"
"Nah, itu yang kakak pikirkan, kakak bingung mau pilih yang mana. Menurut kamu, enaknya bagaimana ya?"
"Ya ampun, padahal tinggal pilih saja. Tapi menurut aku, lebih baik kakak tinggal berdua saja dengan kak Edo. Soal aku jangan khawatir, aku sudah dewasa, Kak. Aku bisa jaga diri dengan baik."
"Kakak gak bisa ninggalin kamu sendirian, Li. Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah yang lama, dan kakak sama Edo tinggal di rumah kita yang baru?"
"Terserah Kak Jesi aja deh, Lagi pula rumah lama dengan rumah yang baru 'kan gak terlalu jauh."
"Tapi jarak dari rumah lama ke cafe 'kan lebih jauh, Li. Apa kamu tidak masalah?"
"Kak! Aku gak apa-apa. Aku cuma bantuin kakak di cafe, sedangkan kak Jesi pemilik cafe itu sendiri. Jadi, Kak Jesi lebih membutuhkan jarak dekat untuk menuju ke cafe daripada aku."
"Baiklah, nanti kakak bicarakan sama Edo."
Liora dan Jesicca kembali dengan aktivitasnya masing-masing. Liora membantu para pelayan di sana untuk melayani para pengunjung. Sedangkan Jesicca duduk di meja kasir bersama dengan Edo.
Liora mengantarkan pesanan ke meja nomor delapan. Di sana duduk seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik, sedang menunggu pesanannya.
"Silahkan Bu." Liora mempersilahkan dengan sopan saat selesai menghidangkan semua makanan di atas meja, pelanggan.
"Terimakasih." Wanita itu tersenyum ramah kepada Liora. Dia merasa senang karena pelayan di cafe itu sangat ramah.
"Jika butuh sesuatu panggil saya ya Bu, saya ada di depan meja kasir. Kalau begitu saya permisi."
Wanita itu hanya mengangguk kepada Liora. Ia sedang menunggu seseorang di sana yang sejak tadi belum datang juga.
"Kemana Khendrik, kenapa lama sekali." gerutunya dengan nada kesal.
Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga. "Maaf sayang, aku terlambat." Khendrik langsung duduk di hadapan wanita yang tengah memasang wajah kesal terhadapnya.
...----------------...
Terimakasih untuk kalian para readers yang masih setia membaca novel ku😘.
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar. Tekan like dan gift nya juga ya🥰🥰
Lophe-lophe se kebon cabe🥳🥳🥳
__ADS_1