Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 96. Menangis Bahagia.


__ADS_3

Happy Reading🥰


Liora sangat senang mendengar kabar bahagia dari sang kakak. Ia sampai menangis dari saking bahagianya. Liora berharap kehamilan kakaknya yang sekarang akan selalu sehat sampai lahiran. Liora mengajak Kenan untuk menemui kakaknya yang sudah berada di rumah pertama.


"Kenan, ayo kita ke rumah kak Jesi. Aku udah gak sabar pengen ngucapin selamat sama kakak." Liora terus mendesak Kenan agar lebih cepat berganti pakaian.


"Sabar, Sayang. Aku belum kelar nih."


"Makanya jangan ngajak main tanam-tanaman mulu, siang begini juga. Sekarang malah kerepotan 'kan pas ada keperluan."


"Iya, Sayang. Jangan marah dong. Kamu makin cantik deh pas lagi marah."


"Bilang aja takut di marahin." Liora terus menggerutu kesal. Bumil yang satu ini memang suka sensi bawaannya.


Kenan tidak berani menjawab, kalau sudah mode on seperti ini. Di jamin akan panjang urusannya. Akhirnya mereka berdua berangkat ke rumah pertama. Liora tiada hentinya memarahi Kenan sebab terlalu lambat mengendarai mobil. Kenan hanya berusaha sabar dalam menghadapi bumil kesayangannya itu.


Hingga akhirnya mereka berdua sampai di rumah pertama. Liora melebarkan langkahnya memasuki rumah. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang kakak. "Kak Jesi!" Liora berteriak sambil memeluk tubuh sang kakak. Jesicca sangat terkejut dengan kehadiran Liora.


"Kak Jesi. Selamat ya." Liora melerai pelukannya dan tersenyum lebar ke arah sang kakak. Dia tidak menyadari akan orang-orang yang ada di rumah itu. Kedua orang tua Edo juga ada di sana.


Kenan, Edo, Rudy, dan Dewi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Liora. Namun mereka juga merasa bahagia atas kehamilan Jesicca. Apalagi Dewi dia yang paling antusias dalam menunggu kehadiran sang cucu pertama.


Dewi sudah mewanti-wanti kepada Edo supaya tidak membuat Jesicca kelelahan. Dia tidak ingin berdampak buruk dengan kehamilan Jesicca. Dengan riwayat keguguran yang pernah dialami Jesicca membuat Dewi sangat khawatir, ia takut kejadian itu terulang kembali.

__ADS_1


"Makasih, Sayang. Kita jadi barengan deh hamilnya." Jesicca terkekeh kecil menyadari hal itu. Dia tidak sabar menunggu kehadiran anaknya.


Liora baru sadar kalau di sana ada kedua orang tua Edo. Ia jadi terlihat kikuk dan malu mengingat tingkahnya yang kekanak-kanakan. "Maaf, Om, Tante. Aku gak tahu kalau ada kalian di sini." Liora berkata sangat pelan. Padahal suaranya tadi sangat nyaring.


"Tidak apa-apa, Liora. Wajar kok kamu melakukan hal itu. Kami juga turut berbahagia atas kehamilan Jesicca." Dewi berkata sambil tersenyum.


Mereka semua duduk di ruang tamu, mengobrol ringan seputaran kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Saat Jesicca ingin mengambilkan minum untuk mereka semua, dengan cepat Dewi menahannya. Ia tidak ingin menantunya kelelahan. Mungkin setelah ini, Dewi akan meminta Edo untuk mempekerjakan seorang ART di rumahnya.


Jesicca menurut saja dengan perintah mama mertuanya yang sangat protektif dengan kehamilannya. Sebenarnya Jesicca merasa tidak enak di perlakukan layaknya seorang ratu oleh Dewi. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menolak apa yang Dewi perintahkan. Lagipula Semua itu demi kebaikan dirinya dan juga janin yang ada di dalam kandungannya.


Jessica sangat beruntung mempunyai mertua sebaik Dewi. Yang selalu bersikap baik dan tulus terhadapnya. Tapi, apakah Dewi akan tetap seperti itu jika dia tahu kalau dulu Jesicca tidak mengandung anak Edo, melainkan hasil dari laki-laki lain. Jesicca tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Di satu sisi dia ingin jujur kepada kedua orang tuanya. Di sisi lain ia tak ingin Edo marah jika dia berani membongkar rahasia di masa lalunya.


Setelah makan siang bersama, Dewi dan Rudy pamit pulang. Sebelum pulang Dewi sudah memberikan nasehat kepada putranya supaya menjaga Jesicca dengan sangat baik, dan jangan sampai membuat Jesicca kelelahan.


"Kak Jesi, malam ini aku nginap di sini, boleh?" Liora menatap penuh harap kepada sang kakak.


"Tentu saja boleh dong. Ini 'kan rumah kamu juga Li. Jadi kapanpun kamu ingin menginap kakak dengan senang hati menerimanya."


"Yeay, makasih Kak." Liora terlihat girang. Ia mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepada Kenan tentang keinginannya itu. Padahal Kenan ingin cepat pulang dan bermain tanam-tanaman dengan puas bersama Liora.


Kenan mengalah demi bumil kesayangannya itu. "Sayang, kamar kamu dimana?" tanya Kenan penasaran. Sepertinya ia sudah tidak sabar ingin bermain tanam-tanaman. Dia tak perduli sedang berada di mana dan di rumah siapa. Yang penting rutinitasnya terpenuhi.


Edo yang mengerti dengan maksud Kenan hanya terkekeh kecil. Ternyata bukan hanya dirinya yang ingin terus membajak sawah dang istri, namun Kenan juga merasakan hal yang sama. Ah, Edo jadi tidak sabar ingin main kuda-kudaan sama si Dipsi. Dengan membayangkannya saja sudah membuat Edo berkeringat panas-dingin.

__ADS_1


"Kamar aku di sebelah kamar Kak Jesi. Kamu mau istirahat? Tuh minta anterin sama Kak Edo. Soalnya aku masih ingin ngobrol sama Kak Jesi."


Kenan harus menahan diri akan ketidak pekaan sang istri. Maksud dia menanyakan kamar Liora itu 'kan sebagai tanda kode, kalau dirinya ingin ekhem-ekheman. Tapi, Liora malah dengan polosnya menyuruh Edo yang mengantarkan dirinya ke kamar.


Edo berusaha menahan tawa agar tidak pecah. Melihat wajah manyun, Kenan. Membuat dirinya merasa geli. "Sabar, tahan sampai nanti malam." Edo berbisik di telinga Kenan. Ia takut kedengaran sama Jesicca dan Liora.


"Halah, sok-sokan ngeledek aku. Padahal kamu sendiri juga pengen 'kan?" Kenan balik berbisik kepada kakak iparnya itu.


Edo memilih diam saja, tak ingin meladeni ucapan Kenan yang menurutnya hanya akan mengundang perdebatan. Ia tidak mau Jesicca memarahinya lagi karena membuat ulah di rumah sendiri dengan adik iparnya.


Liora dan Jesicca meninggal dua pria itu ke taman belakang rumah. Mereka lebih suka mengobrol berdua tanpa ada yang menganggu. Mereka sangat menyukai suasana taman di sana, karena udaranya sangat segar. Suasananya juga tenang, aman, membuat pikiran terasa fresh.


"Kak Jesi. Pasti mama sama papa seneng deh lihat kita sebentar lagi akan menjadi orang tua." ucap Liora memecahkan keheningan di sana.


"Iya Li. Pasti mereka sangat senang dan bahagia. Tapi, sayang sekali, mereka tidak bisa melihat dan menggendong cucu mereka di dunia." lirih Jesicca dengan sendu.


"Cukup melihat kita bahagia, mama sama papa pasti bahagia, Kak. Meskipun mereka tidak bisa menemani hari-hari kita bersama dengan buah hati kita kelak. Mungkin kita akan berkumpul lagi si dunia yang baru."


Mendengar ucapan Liora membuat Jesicca menitikkan air mata. Dia memeluk Liora dengan erat. Kali ini Jesicca dan Liora bukan menangis sedih, tapi mereka menangis karena bahagia.


...----------------...


Jangan lupa tekan like, dan tinggalkan jejak di kolom komentar😘😘

__ADS_1


__ADS_2