Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 69. Kekesalan Liora.


__ADS_3

Happy Reading 🥰


Saat memasuki area rumah, Liora mengerutkan keningnya. Di halaman rumah terparkir sebuah mobil Mercedes-Benz 300 SLR Uhlenhaut Coupe prototypes. "Siapa yang bertamu siang-siang begini?" Liora terus bertanya-tanya. Karena selama pindah ke sini tidak pernah ada seorang tamu yang singgah ke rumahnya tanpa di undang.


Liora segera turun dari dalam mobil, ia melihat Kenan tengah berdiri di samping mobilnya. "Mau apa dia kesini?" bantin Liora.


"Sayang, kamu dari mana saja? Aku sudah lama menunggu kepulanganmu." Kenan langsung menghampiri Liora yang tengah menatap tajam ke arahnya.


"Mau apa kamu kesini?"


"Aku merindukanmu dan calon anak kita."


Liora memutar bola matanya jengah. Sungguh Kenan membuat moodnya rusak. Entah mengapa, saat bertemu dengan Kenan, bawaannya ingin marah terus. Biasanya juga tidak begitu, hanya kesal sedikit. Sekarang malah semakin parah.


Liora mengabaikan keberadaan Kenan di sana. Ia memilih memasuki rumah. Ternyata Kenan mengikuti Liora, hingga Liora memarahinya.


"Kenan! Kamu ngapain masuk ke dalam rumah, huh?" Liora menatap Kenan dengan kesal.


"Aku hanya ingin memastikan keadaan mu baik-baik saja. Apa aku tidak boleh bertamu ke rumah calon istriku?"


"Tidak boleh! Di rumah tidak ada orang, Kenan. Lebih baik kamu pulang."


"Tapi, sayang. Aku ingin melihat mu lebih lama lagi. Boleh ya, sebentar saja."


Melihat wajah memelas dari Kenan. Liora menjadi tidak tega. Dengan terpaksa ia mempersilahkan Kenan untuk duduk di ruang tamu. Tak lupa Liora juga membuka pintu rumah lebar-lebar. Liora masih trauma dengan kejadian di kantor.


Satu menit, lima menit, sepuluh menit, hingga 20 menit. Kenan terus memandangi wajah Liora yang berada di hadapannya, dan hanya terhalang oleh meja. Kenan tak melepaskan senyumannya selama menatap Liora.

__ADS_1


Liora yang mendapatkan tatapan kagum dari Kenan, merasa salah tingkah. "Sampai kapan kamu akan memandangi wajahku seperti itu Kenan? Lebih baik kamu pulang. Aku sudah lelah, dan ingin segera istirahat." Liora tidak berbohong. Ia memang sangat lelah, karena akhir-akhir ini Liora gampang sekali merasakan lelah.


"Baiklah aku akan pulang. Kamu istirahat yang cukup. Apa kamu sudah makan dan minum susu?"


"Sudah!"


"Kakak ipar kemana?"


Sungguh Liora sangat malas menjawab pertanyaan Kenan yang tiada habisnya. "Kak Jesi ada di rumah suaminya. Tadi pagi dia sudah resmi menikah dengan kak Edo. Aku sangat lelah karena baru pulang dari acara pernikahan kak Jesi. Jadi, sekarang juga kamu pulang, dan jangan ganggu aku." Liora menjelaskan panjang-lebar, agar Kenan tidak bertanya lagi.


"Menikah? Kenapa aku tidak di undang?"


"Astaga! Sejak kapan Kenan menjadi sangat cerewet? Aku benar-benar muak mendengar ocehannya dari tadi." gumam Liora menahan kesal.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Kenan. Liora menarik pergelangan tangan Kenan agar berdiri dari posisi duduknya. Setelah itu, Liora mendorong pelan punggung Kenan sampai keluar dari pintu rumah.


Hingga tiba-tiba ponsel Kenan bergetar, Kenan merogoh ponselnya yang berada di saku jas bagian depan. Ia melihat nama seseorang yang tertera di layar benda pipih itu. Sebuah nama yang sangat ia kenali. Tanpa pikir panjang, Kenan langsung menjawab panggilan itu.


Terpaksa Kenan harus pergi meninggalkan rumah Liora. Karena sang asisten di perusahaan telah menghubunginya, dan ternyata ada jadwal meeting hari ini yang tak bisa di tunda. Setelah Liora mengundurkan diri dari kantor. Kenan harus mencari sekertaris baru, namun kali ini seorang laki-laki yang menjadi sekertaris nya.


Liora merasa lega saat melihat mobil Kenan keluar dari halaman rumahnya. Liora dengan cepat memasuki kamar. Ia langsung menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuh mungilnya, namun terlihat sangat sexy.


Liora memasuki bathroom lalu membersihkan diri di sana. Liora keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar. Ia hanya memakai bath robe. Rasanya Liora ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya.


Saat akan menaiki kasur empuk di ranjangnya, tiba-tiba bell rumah berbunyi. Awalnya Liora menghiraukan suara bell itu, dan ingin meneruskan acara rebahannya. Namun semakin lama bell itu semakin nyaring dan semakin sering di pencet, akhirnya mau tidak mau ia harus membukakan pintu rumah.


Liora keluar kamar hanya menggunakan bath robe, karena ia tidak diberi kesempatan untuk mengganti baju. Suara bell terus berbunyi seakan telah terjadi sesuatu yang urgent. Pikiran Liora tertuju kepada Kenan yang sering mengganggunya. Ia merasa kesal karena Kenan malah kembali lagi ke rumahnya, setelah tadi sempat pergi dari sana.

__ADS_1


Dengan kasar, Liora membuka pintu rumah. "Mau apa lagi kam-mu ke-si-ni." Ucap Liora terbata. Karena yang berada di depan rumah bukan Kenan. Tapi seorang laki-laki yang sangat di bencinya. Siapa lagi kalau bukan Khendrik.


"Mau apa dia kesini? Tadi anaknya, sekarang malah bapaknya. Mereka sama-sama membuatku kesal. Sungguh mood ku semakin hancur karenanya. Dasar, pria gila!" Liora mengumpat dalam hati.


Khendrik tersenyum manis melihat wanita yang di cintainya membukakan pintu untuknya. "Boleh aku masuk?"


"Maaf, ada perlu apa ya, Om?"


"Aku ingin bicara serius sama kamu, Liora." Khendrik sudah tidak memanggil Liora dengan sebutan sayang lagi. Karena takut Liora akan marah kepadanya. Khendrik tak ingin tujuannya kesana menjadi gagal.


Liora membiarkan Khendrik masuk kedalam rumah, namun dia hanya memberikan waktu 10 menit untuk berbicara. Dengan cara yang sama seperti saat Kenan bertamu ke sana, Liora membiarkan pintu rumah terbuka dengan lebar.


"Om mau ngomong apa? Aku gak punya banyak waktu. Lebih baik Om langsung ke intinya saja." Liora sudah tidak tahan ingin mengusir Khendrik dari rumahnya.


"Sabar Liora. Aku tidak akan lama kok disini. Oiya, kakak kamu kemana?"


Khendrik hanya basa-basi menanyakan keberadaan Jesicca. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Jesicca telah menikah dengan Edo tadi pagi. Makanya Khendrik mendatangi rumah Liora, disaat rumahnya sepi.


Khendrik merasa tidak perduli dengan keadaan Jesicca, bahkan ia juga mengetahui kalau Jesicca keguguran karena ulahnya. Sebab tujuan Khendrik memang begitu, ingin melenyapkan janin yang di kandung oleh Jesicca. Meskipun Jesicca sekarat karena di tabrak olehnya, Khendrik tetap tidak akan perduli. Karena tujuannya hanya ingin memiliki Liora, dan menyingkirkan siapa saja yang berani menghalanginya.


"Tidak usah banyak tanya, Om. Jika tidak ada yang ingin di bicarakan, lebih baik Om pulang saja. Aku gak mau ada salah faham di sini."


Khendrik hanya tersenyum saat mendengar Liora mengusirnya. "Enak saja mengusir ku dari sini. Aku tidak akan keluar dari rumah ini sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan, Liora. Ini adalah kesempatan bagus, untuk aku bisa mendapatkan kamu seutuhnya." batin Khendrik menyeringai.


...----------------...


Lophe-lophe se kebon cabe untuk kalian para readers yang masih setia membaca novel ku😘😘

__ADS_1


__ADS_2