
Happy Reading๐ฅฐ
Setelah sampai di cafe, Jessica tampak cemas. Ia duduk dengan gelisah di kursi bagian kasir. Sesekali Jesicca menggigit buku jarinya, untuk menghilangkan rasa cemasnya.
Edo melihat gerak-gerik Jesicca, yang tampak sangat gusar. Ia menghampiri Jesicca, dan menanyakan perihal itu.
"Jes, kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Edo dengan nada lembut dan penuh perhatian.
"S-sebenarnya ..., A-aku takut akan suatu hal, Ed."
"Apa yang kamu takutkan, hum?"
"B-bagaimana j-jika A-aku h-hamil?" tanya Jesicca terbata.
Edo mengernyitkan dahi tanda tak mengerti dengan ucapan Jesicca. Tapi setelah ia menyadari suatu hal, Edo langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi tegang. Edo sudah mengerti apa yang sedang Jesicca takutkan.
"Itu tidak mungkin Jes," ucap Edo dengan nada meyakinkan. Agar Jesicca tidak stres lagi. Bagaimanapun Edo juga tak ingin itu terjadi, ia berharap Jesicca tidak hamil anak dari Khendrik.
"T-tapi ..., sejak kejadian itu, aku tidak mendapatkan tamu bulanan lagi." Jesicca menekankan suaranya, agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Meskipun keadaan di cafe itu masih tampak sepi.
Jesicca memang tidak pernah menutup-nutupi sesuatu dari Edo. Ia selalu bersikap terbuka kepada Edo. Karena hanya Edo dan Liora yang ia percaya. apalagi ia melihat ketulusan Edo dalam menemaninya selama ini.
"Kita periksa ke dokter." Edo langsung menarik pergelangan tangan Jesicca dengan lembut. Edo ingin segera memastikan kebenarannya. Ia hanya bisa berdoa agar Jesicca tidak hamil. Karena dalam waktu dekat, Edo akan melamar Jesicca, dan menikahinya.
Meskipun Jesicca masih belum tahu akan perasaan yang Edo rasakan terhadapnya. Tapi, bagaimana jika Jesicca benar-benar hamil? Apa yang akan Edo lakukan! Apakah Edo akan mengurungkan niatnya untuk melamar Jesicca?
Jawabannya tentu saja tidak! Edo akan menerima Jesicca apa adanya. Meskipun Jesicca hamil anak dari Khendrik, Edo tetap akan menikahi Jesicca. Ia bersedia menerima anak itu demi cintanya.
Jesicca menghentikan langkahnya, ia menatap Edo dengan ragu, dan menggelengkan kepala. Jesicca memang berniat akan pergi ke dokter, untuk memeriksa keadaannya, namun ia masih takut dengan hasil pemeriksaannya nanti.
Edo meyakinkan Jesicca bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya Jesicca mengikuti keinginan Edo, dan langsung berangkat ke rumah sakit terdekat.
Edo memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit yang cukup besar di dekat cafe Rindu.
__ADS_1
Edo langsung menuju ke ruang Dokter Obgyn. Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor antrian, Edo dan Jesicca duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan itu.
Jesicca sangat gugup, kedua tangannya saling meremas, dan basah oleh keringat dingin. Dengan penuh perhatian, Edo menggenggam tangan Jesicca dengan sangat lembut.
"Jangan khawatir Jes, apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu," ucap Edo dengan tulus.
"Terimakasih Ed, tapi ...,"
"Shuuuut ..., mau kamu hamil atau tidak, kita jalani bersama-sama, oke."
Hati Jesicca menghangat, kala mendengar ucapan Edo yang begitu meyakinkan. Ia tersenyum manis kepada Edo. Hingga tibalah giliran Jesicca yang di panggil untuk memasuki ruang pemeriksaan.
Jesicca dan Edo memasuki ruangan itu dengan bergandengan tangan, layaknya pasangan suami-istri.
"Selamat pagi Dokter." sapa Jesicca dengan tersenyum ramah.
"Pagi, Bu, Pak," jawab dokter obgyn yang bernama Melinda. "Apa ada keluhan?" tanya Melinda to the point.
"Istri saya sudah telat datang bulan, dok. Apa mungkin dia sedang hamil?" ungkap Edo yang akhirnya mewakili pertanyaan dari Jesicca.
Dokter Melinda langsung tersenyum, ketika melihat pasangan suami-istri yang tampak gugup, dan sangat antusias dalam menanyakan tentang sebuah kehamilan.
"Lebih jelasnya, kita lakukan pemeriksaan USG ya Pak, Bu." ucap Melinda menjelaskan.
Jesicca dan Edo mengikuti langkah dokter, yang menuju ke tempat pemeriksaan. Jesicca berbaring di atas brankar. Dokter menyingkap baju Jesicca ke atas, lalu mengoleskan krim jell ke atas perut bagian bawah, Jesicca.
Jesicca tampak sangat malu, karena ada Edo di sampingnya yang sudah pasti melihat perut ratanya. Pipi Jesicca bersemu merah, saat menyadari bahwa Edo tengah menatap perutnya. Ia ingin menutup perutnya dengan kedua tangan, namun dihentikan oleh dokter.
"Tidak usah malu Bu, lagi pula hanya ada kita di ruangan ini. Masa sama suami sendiri harus malu." ucap dokter terkekeh kecil.
Jesicca terpaksa menuruti perintah sang dokter. Melinda menempelkan alat transduser di atas perut Jesicca yang sudah di olesi dengan krim. Melinda terus menggerakkan benda tersebut, atensinya fokus ke arah layar komputer yang terletak di samping Jesicca.
Sebuah senyuman terbit di kedua sudut bibir Melinda. Kemudian ia berkata, "Lihatlah di sana Pak, Bu." tunjuk Melinda ke arah layar yang terdapat sebuah titik kecil di sana.
__ADS_1
Jesicca dan Edo melihat ke arah yang ditujuk oleh dokter. Mereka berdua masih tidak mengerti dengan apa yang mereka lihat di layar itu.
Dokter Melinda menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai sebuah titik yang tertera di layar komputer.
Kedua insan yang sejak tadi merasa tidak mengerti, setelah dokter menjelaskan semuanya, akhirnya mereka berdua paham apa yang dimaksud dengan titik kecil itu.
"J-jadi, s-saya h-hamil, dok." ucap Jesicca dengan suara bergetar. Sedangkan Edo, ia hanya diam mematung di tempatnya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Perasaannya masih kacau saat mendengar penjelasan dari dokter.
"Selamat ya Bu, Pak. Istri anda benar-benar hamil. Dan usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke-5." Dokter menjelaskan dengan senyuman yang tak lepas dari bibir.
"Minggu ke-5? Tapi ..., kejadian itu terjadi 4 minggu yang lalu, dokter. lalu kenapa usia kehamilan saya sudah memasuki minggu ke-5?" tanya Jesicca dengan polosnya.
Dokter Melinda kembali tersenyum saat mendengar penuturan dari Jesicca. Ia kemudian menjelaskan lagi tentang proses kehamilan yang dihitung sejak hari terakhir menstruasi. Hingga Jesicca mengerti dengan penjelasan sang dokter.
Jesicca kemudian mengingat kapan hari pertama, dan terakhir dia menstruasi. Setelah Jesicca menjawab semua pertanyaan dari dokter, ia langsung bangun dari posisi tidurnya. Mereka kembali ke tempat semula.
Mereka duduk berharapan di sana, Jesicca dan
Edo duduk bersanding layaknya pasangan pengantin. Sedangkan Melinda, duduk di kursi kebesarannya yang menghadap ke arah dua insan itu, layaknya pak penghulu yang akan menikah 'kan mereka.
Jesicca dan Edo telah berada di dalam mobil. Jesicca hanya diam, tak ingin berbicara sejak keluar dari ruang pemeriksaan.
Edo yang melihat itu, hanya ikutan diam. Ia ingin memberikan waktu untuk berpikir kepada Jesicca.
Akhirnya mereka kembali ke cafe dalam keadaan mode silent.
...----------------...
Terimakasih yang masih setia membaca novel ku๐ฅฐ.
Jangan lupa tekan like, komen, dan gift sebanyak-banyaknya ๐๐๐๐๐๐
Lophe-lophe se kebon cabe๐ถ๐ถ๐ถ
__ADS_1