Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 109. Vania Clarissa Khendrik.


__ADS_3

Happy Reading🥰


1 minggu berlalu ...


Liora terlihat sangat kesakitan, wajahnya sudah di penuhi dengan keringat. Tangannya mencengkram lengan Kenan dengan kuat. Dengan intruksi dokter, Liora mengenjan sekuat tenaga. Hingga beberapa kali dorongan akhirnya bayi mereka lahir kedunia.


Oek! Oek! Oek!


Liora tersenyum mendengar suara tangisan sang bayi, rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan kini telah sirna. Tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara. Begitu juga dengan Kenan, luka di tangannya akibat bekas cakaran dan gigit dari Liora tidak berarti apa-apa ketika mendengar tangisan bayinya.


"Selamat, Pak, Bu. Bayinya perempuan, sehat dan tidak kekurangan apapun. Dia terlihat sangat cantik seperti ibunya," ucap sang dokter yang membantu proses persalinan Liora.


Liora melahirkan saat usia kandungannya memasuki minggu ke 42. Sebelumnya dokter spesialis kandungan sudah meminta Liora untuk melakukan operasi cecar, namun lagi-lagi Liora menolaknya. Bukannya Liora tidak mementingkan keselamatan bayi dan juga dirinya. Tapi, mendengar ucapan dokter yang mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja, maka dari itu Liora memilih bersabar dan menunggu bayinya hingga ingin keluar dengan sendirinya.


"Terimakasih, Sayang. Kamu adalah wanita terhebat, aku mencintaimu, selalu! Cup! Cup! Cup!" Kenan menangis haru, ia menghujani wajah Liora dengan kecupan.


Liora tersenyum mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Hingga tiba-tiba mata Liora terpejam, membuat Kenan ketakutan. "Dokter! Kenapa istri saya menutup mata? Apa yang terjadi?" teriak Kenan kepada sang dokter.


"Tenang, Pak. Ibu Liora hanya kelelahan sehabis melahirkan, tenaganya terkuras habis. Jadi, wajar jika Bu Liora tidak sadarkan diri. Bapak tenang saja, saya sudah memberikan infus kepada istri anda. Biarkan dia istirahat dulu, nanti dia akan sadar kembali setelah infusnya habis," terang dokter panjang-lebar.


Kenan bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter. Ia mengusap sisa keringat di wajah sang istri dengan lembut. Setelah itu Kenan langsung ke ruang bayi untuk mengadzani sang putri. Kenan tidak ingin seperti Edo yang terlalu lama mengadzani putranya.


Liora sudah di pindahkan ke ruang VIP, ia sudah siuman. Bahkan keadaannya sudah pulih, Liora menatap sang putri yang berada di dalam gendongannya. "Kamu cantik sekali, Sayang." Liora mencolek-colek pipi putrinya itu. Ia masih belajar melakukan proses IMD, awalnya Liora merasa geli saat bayinya me-nye-dot pu-ti-ng-nya.

__ADS_1


Mungkin karena masih awal dan belum terbiasa. Jadi, Liora merasakan geli, tapi lama-lama juga akan terbiasa seperti saat Kenan me-nye-dot-nya.


"Sayang, nama apa yang cocok buat anak kita?" tanya Kenan dengan penuh semangat. Mereka sudah menyiapkan dua belas nama untuk bayi laki-laki dan dua belas nama untuk bayi perempuan. Jadi, Kenan meminta Liora untuk memilih yang mana.


"Vania Clarissa," ucap Liora sambil tersenyum.


"Vania Clarissa Khendrik! Tidak masalah 'kan jika aku menyematkan nama keluarga di belakang nama anak kita?" tanya Kenan dengan wajah memelas.


"Tidak apa-apa, Ken. Kamu berhak memberikannya."


"Lalu, kita panggil dia siapa?"


"Vania! Kita panggil dia dengan nama itu." Liora berkata dengan tatapan fokus ke wajah Vania.


Pikiran Kenan jadi berkeliaran kemana-mana. Sekarang dia harus membagi benda favoritnya kepada Vania. Belum lagi, Kenan harus berpuasa selama Liora dalam masa nifas. Tidak bisa di bayangkan betapa tersiksanya Kenan nanti.


Kenan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan senam lima jari. Sebab terong jumbo nya sudah berdiri tegak hanya dengan membayangkan benda kenyal milik Liora.


Saat keluar dari dalam kamar mandi, Kenan melihat ruangan itu sudah penuh dengan orang-orang yang menjenguk Liora dan baby Vania. Ada Jesicca, Edo, Maura, Niko, Dewi, dan Rudy. Sedangkan baby Lio dititipkan kepada pengasuh di rumahnya.


Mereka semua mengucapkan selamat kepada Liora atas kelahiran baby Vania. Jesicca menggendong Vania dengan penuh kasih sayang. Ia sudah menganggap Vania seperti putrinya sendiri. Dia jadi membayangkan bagaimana pertumbuhan Vania dan Lio sampai dewasa nanti.


Giliran Maura yang menggendong Vania alias cucunya. "Ya ampun, cucu Oma cantik sekali." Maura mencium pipi mungil milik Vania. Rasanya dia ingin tertawa melihat cucunya lahir ke dunia, sedangkan dirinya tengah hamil delapan bulan. Ah, lucu sekali skenario Tuhan.

__ADS_1


Akan tetapi, semua orang disana tidak mempermasalahkan kehamilan Maura. Merasa berkata bahwa anak adalah anugerah. Tidak memandang usia, bahkan ada orang yang sudah berkepala lima tapi masih juga hamil. Apalagi itu adalah anak pertama bagi Niko, jadi Maura harus menjaga kandungannya sebaik mungkin.


"Oh, cucu Opa, lucu sekali." Niko mengambil alih Vania dari gendongan sang istri.


Mereka semua tertawa di ruangan itu saat melihat ekspresi Niko ketika mengucapkan kata Opa. Terlihat sangat imut di mata semua orang, apalagi Niko yang terkenal datar, kini tengah tersenyum menatap baby Vania. Niko tidak menghiraukan ucapan semua orang di sana yang meledek nya.


Oek! Oek! Oek!


Tiba-tiba baby Vania menangis sangat kencang. Tentu saja Niko terlihat sangat panik, ia mengembalikan Vania kepada Maura, lalu memberikannya kepada Liora agar di susui.


Benar saja, baby Vania langsung diam setelah Liora menyusui nya. Mungkin baby Vania sedang haus, makanya dia menangis. Di ruangan itu hanya ada kaum wanita, sedangkan para laki-laki langsung keluar dari dalam ruangan saat Liora akan menyusui Vania. Kecuali Kenan, ia tetap berada di samping sang istri.


Setelah cukup lama, menemani Liora. Jesicca, Edo, Dewi, dan Rudy pamit untuk pulang. Sebab mereka sangat mengkhawatirkan Lio yang hanya ditinggalkan sama pengasuhnya.


Liora mengizinkan mereka untuk pulang, ia mengerti dengan kesibukan Kakaknya. Jadi biarlah Liora hanya berdua dengan Kenan, di sana. Eh lupa, ternyata Maura dan Niko belum pulang, dan masih ingin menemani Liora.


Mungkin besok pagi, Liora boleh pulang ke rumah. Sebab untuk saat ini, keadaan Liora masih kurang sehat. Kenan pergi untuk membeli makanan keluar, meninggalkan sang istri bersama dengan mama dan juga papa sambungnya.


Kenan berencana akan memberitahukan papanya tentang kelahiran putrinya. Khendrik berhak tahu mengenai kelahiran cucunya. Karena mau bagaimana pun Khendrik tetaplah ayah Kenan dan juga kakek dari putrinya. Kenan sangat menyayangi Khendrik terlepas dari apa yang pernah dia perbuat.


Jika boleh egois, Kenan ingin membebaskan papanya dari dalam penjara. Tapi, papanya menolak mentah-mentah keinginan Kenan, sebab Khendrik ingin menebus semua kesalahannya secara adil, dan tidak ada cara curang.


...----------------...

__ADS_1


Detik-detik menuju End. Tetap dukung terus karyaku ya teman-teman. Terimakasih atas dukungan kalian selama ini 😘😘


__ADS_2