
Happy Reading🥰
Saat sampai di rumah. Khendrik masuk ke dalam kamar dengan perasaan gugup. Apa yang harus ia katakan kepada Maura tentang memar di wajahnya. Dan lagi ia tak sanggup menatap Maura setelah apa yang sudah ia lakukan. Maura pasti akan membenci dirinya.
Khendrik langsung menuju ke bathroom untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Khendrik berganti pakaian dan menuju ranjang untuk merebahkan tubuhnya di samping istri tercinta yang sedang tertidur lelap.
Tangannya membelai rambut Maura. Rasa penyesalan terus muncul di hatinya. Bukan hanya Maura yang akan tersakiti setelah tahu sebuah fakta kebejatannya.Tapi Jesicca akan lebih sakit. Bahkan fisik dan batinnya yang sakit.
"Maafkan aku sayang." gumam Khendrik.
"Eungh!" Maura melenguh karena terusik dengan sentuhan Khendrik di kepalanya. Ia langsung bangun dan samar-samar melihat wajah sang suami yang ia tunggu sedari tadi. "Papa! Kamu udah pulang? Kenapa sampai tengah malam baru pulang?" tanyanya dengan cemas, bahkan matanya melotot melihat wajah memar Khendrik.
"Wajah Papa kenapa? Papa habis berkelahi? Dengan siapa?" Maura langsung bangun dari posisi tidur, ia memberondong Khendrik dengan pertanyaan.
"Ah, tidak. Tadi papa menolong seseorang yang sedang di jambret, sampai adu jotos dulu dan akhirnya wajah papa bonyok deh. Hehe ...," Khendrik berkata sambil terkekeh.
"Maaf sayang, aku harus berbohong, karena aku takut kamu akan marah dan membenciku!" batin Khendrik.
"Apa! Papa menolong orang yang di jambret? Tapi papa gak apa-apa kan? Kita ke dokter ya pa?" ujar Maura dengan cemas.
"Iya sayang. Tapi papa gak apa-apa kok, cuma memar doang nanti juga sembuh. Lebih baik kita istirahat saja ya."
"Gak apa-apa gimana? Wajah papa aja udah kayak gitu. Udah Papa diam di sini, Mama mau ngambil air es dulu untuk mengompres memar di wajah Papa." Maura langsung turun dari ranjang dan menuju dapur untuk mengambil apa yang dia butuhkan.
Khendrik menatap kepergian Maura dengan nanar. Ia benar-benar menyesal dan membenci dirinya sendiri karena sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Bagaimana perasan Kenan jika dia tahu bahwa Papa yang di banggakan telah berani menyakiti perasaan sang Mama. Sungguh ia tak sanggup melihat kekecewaan itu di mata putra semata wayangnya.
Maaf!
__ADS_1
Hanya kata itu yang bisa Khendrik ucapkan. Tapi tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
Dia harus memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada Jesicca.
Maura datang membawa nampan yang di atasnya terdapat baskom yang telah berisi air es dan handuk kecil.
Maura duduk di sisi ranjang, Ia mulai melakukan tugasnya untuk mengompres memar di wajah Khendrik.
"Aw! Pelan-pelan, sakit Ma!" Khendrik meringis merasakan nyeri di saat handuk kecil menyentuh wajahnya.
"Tahan sebentar Pa. Mama udah pelan kok," jawab Maura dengan enteng. "Makanya lain kali hati-hati, meskipun niat baik ingin menolong orang, papa harus melihat situasi dan keadaan dulu. Jika hanya seorang diri jangan di lawan, apalagi lawannya banyak. Seharusnya Papa minta bantuan dong. Mama 'kan sudah bilang, kalau papa berangkatnya sama supir saja, tapi papa malah nolak. Jadinya begini kan!" Maura mengomeli Khendrik, karena tidak mendengarkan perkataannya dan malah membuat dirinya celaka.
"Iya Ma, maaf. Lain kali papa akan hati-hati dan akan pergi mengajak supir. Jadi mama jangan marah ya, nanti cantiknya hilang." Khendrik mengedipkan sebelah mata untuk menggoda sang istri.
Ucapan Khendrik membuat Maura merona. Begitu lah dia. Meskipun mereka telah menikah puluhan tahun, tapi Khendrik selalu memperlakukan dia dengan sangat romantis. Dan Maura tetap merasa tersipu dengan gombalan sang suami.
Khendrik hanya tersenyum melihat tingkah Maura yang tersipu malu. Dia memang suka sekali menggoda Maura, karena menurutnya Maura sangat menggemaskan di saat seperti itu. Maura tidak pernah berubah, selalu tersipu di saat mendapat pujian dari dirinya.
Setelah itu mereka berdua benar-benar istirahat. Maura tidur dengan posisi membelakangi Khendrik, sedangkan Khendrik tidur dengan posisi menghadap Maura. Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Itu adalah kebiasaan tidur mereka. Khendrik lebih suka memeluk Maura dari belakang dan membawanya ke dalam dekapannya.
...----------------...
Di apartemen.
Di sebuah kamar mewah yang sangat luas. Kenan berbaring di atas ranjang king size. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Memikirkan seorang gadis cantik yang sudah beberapa minggu ini tidak pernah bersikap ramah saat bertemu dengannya. Dan lebih ke arah dia sedang menjauhi dirinya.
Setelah insiden itu, disaat dirinya memarahi dan bahkan menghina Liora habis-habisan. Liora tak pernah menunjukkan sikap ketertarikan lagi kepadanya. Kenan sadar, mungkin sikapnya memang keterlaluan tapi dia melakukan itu untuk menjaga nama baiknya di kampus. Apalagi dengan bukti yang dikirim kan seseorang kepadanya, membuat amarahnya memuncak.
__ADS_1
Bahkan Kenan tak berniat untuk menyelidiki siapa pengirim itu. Dan entah mengapa sekarang ia merasa kehilangan sosok Liora yang dulu selalu berusaha mendekatinya. Apalagi saat ia mendengar langsung pengakuan cinta dari Liora. Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Tatapan mata polosnya yang sangat membuat hati Kenan menjadi resah. Jauh dilubuk hatinya, ia memang percaya jika Liora tidak mungkin melakukan hal semenjijikkan itu. Tapi ketika melihat bukti itu, Kembali hatinya merasa panas dan tak terima dengan pengakuan Liora yang menurutnya sangat kurang ajar.
"Maafkan aku Liora, jika perkataanku menyakitimu. Tapi aku tak bisa mentolerir semua kesalahan yang telah kamu lakukan. Jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah, maka aku akan dengan senang hati meminta maaf kepada mu dengan tulus. Tapi jika kau benar-benar bersalah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu. Memang ku akui, jika aku tertarik kepadamu, namun semuanya seolah hilang bersamaan dengan sebuah fakta, bahwa kau telah lancang mengakui hal yang tak pernah kita lakukan." monolog Kenan dengan pikirannya yang mulai kacau karena memikirkan Liora.
Kenan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping ranjang. Kenan menyalakan ponsel itu dan memencet tulisan 'galeri'. Kenan memperhatikan foto Liora yang berada di pantai. Satu-satunya foto yang ia punya dan itu hasil memotret secara diam-diam.
Seulas senyum mengembang di bibirnya, perasaan hangat menyelimuti relung hati disaat menatap wajah cantik Liora. Gadis polos yang penuh dengan keceriaan, namun ia tak dapat melihat keceriaan itu lagi sejak kejadian di ruangan dosen.
Liora selalu menghindari nya, saat ia memberikan tugas untuk mengumpulkan tugas teman sekelasnya, pasti Liora akan selalu menolak dengan cara melempar tugas kepada Mella. Dan akhirnya Mella yang mengumpulkannya.
Setelah puas memandangi foto Liora, Kenan mematikan ponselnya dan meletakkan kembali di tempat semula. Kenan menutup mata dan memilih istirahat. Ia harus menyiapkan diri untuk membantu Papanya di perusahaan setelah anak didiknya selesai wisuda.
Â
...----------------...
Bersambung ...
Terimakasih yang masih setia membaca karyaku🥰🥰
Semoga kalian betah dan suka dengan ceritanya 🥰
Jangan lupa tekan like, komen, vote dan gift nya ya😘😘😘
Lophe-Lophe se kebon cabe🌶🌶🌶
__ADS_1