
Happy Readingš„°
Mentari pagi telah bersinar, menampakkan diri dengan tanpa malunya. Menyinari bumi yang masih basah oleh bekas tetesan air hujan. Cahayanya memasuki celah jendela di kamar seorang gadis cantik, yang masih setia bergelung di dalam selimut. Suara alarm membuyarkan mimpi indahnya yang terasa begitu nyata.
Kring ... Kring ... Kring ...
Liora mendengus kesal, saat mendengar bunyi alarm yang dia sendiri menyetelnya. Tangannya terulur untuk menggapai alarm yang terletak di atas nakas samping tempat tidur, lalu mematikannya
Hoam ...
Liora menguap, matanya masih terpejam. Rasa kantuk tak dapat dielakkan. Maura terpaksa bangun dari posisi tidurnya, menapakkan kaki ke lantai yang masih terasa dingin. Liora berjalan ke arah kamar mandi dengan mata yang masih terpejam.
Menyalakan shower lalu mengguyur tubuhnya di bawa aliran air yang terasa hangat. Liora menghabiskan waktu 30 menit untuk menuntaskan ritual mandinya.
Liora hanya menggunakan make up tipis, seperti biasanya. Ia memang tak suka berdandan menor, lebih suka yang natural. Dengan itu kecantikan Liora tampak sempurna. Siapa saja yang melihatnya pasti akan terpanah, namun tidak dengan Kenan. Yang tak tertarik sedikitpun terhadapnya. Begitulah yang selama ini dipikirkan oleh Liora.
Liora keluar dari kamar, ia menemui kakaknya di meja makan. Karena sudah tercium aroma makanan yang sangat lezat, dan menggoda indera penciuman. Liora menginap di rumah kakaknya, dia akan berangkat bekerja dari sana.
Mengenai rencana Liora yang akan mengundurkan diri, Jesicca dan Edo nampak setuju dengan keputusan Liora. Mungkin hari ini juga, Liora akan memberikan surat pengunduran dirinya kepada Kenan.
"Kakak masak apa?" tanya Liora yang langsung duduk di kursi meja makan.
"Makanan kesukaan mu, Li."
"Hem, makasih kak Jesi. Ayo kita langsung makan, aku sudah lapar kak."
"Ish kau ini, baiklah kita makan sekarang."
Liora melihat kakaknya, makan dengan sangat lahap. Berbeda dengan hari-hari biasanya, Liora tampak curiga dengan nafsu makan sang kakak yang semakin meningkat akhir-akhir ini.
Jesicca yang merasa diperhatikan, menghentikan kegiatan makannya. Ia menatap Liora yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa kamu lihatin kakak seperti itu Li?" tanya Jesicca mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku merasa aneh dengan tingkah kak Jesi akhir-akhir ini."
"Aneh kenapa? Kakak rasa tidak ada yang aneh dengan diri kakak."
Liora tidak langsung mengungkap kegundahan hatinya. Ia meletakkan sendok di atas piring, lalu tangannya memegang tangan Jesicca dengan lembut. Ia menatap Jesicca dengan dalam.
"Kak, maaf sebelumnya. Kak Jesi jangan tersinggung, aku hanya ingin memastikan keresahan di dalam hatiku, dan tidak ada maksud apa-apa."
"Kamu jangan membuat kakak penasaran Li, cepat katakan."
"Hem ..., kak Jesi, apa mungkin kakak hamil? Em ..., aku melihat tingkah kak Jesi seperti orang hamil." Liora berkata dengan penuh hati-hati, takut kakaknya merasa tersinggung dengan ucapannya. Meskipun sebenarnya hati Liora berharap kalau Jesicca tidak akan hamil anak dari Khendrik.
Mendengar penuturan dari Liora. Jesicca tiba-tiba merasa takut. Wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasih.Tak lagi ceria seperti saat ia makan. Jantung Jesicca berdetak sangat kencang. Ia baru sadar jika dirinya belum datang bulan sejak kejadian itu. Terakhir ia datang bulan, sehari sebelum acara pesta pak Bagas.
Melihat kakaknya hanya diam saja, membuat Liora merasa khawatir. Ia juga takut dugaannya benar.
"Kak, Kakak baik-baik saja kan? Sudahlah lupakan pertanyaan ku tadi. Lebih baik kita lanjutkan sarapan kita. Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor."
Jesicca hanya menganggukkan kepala, ia tersenyum getir, takut firasatnya benar. Jesicca berencana akan pergi ke dokter untuk memastikan dugaannya benar atau salah.
Kenan berangkat sangat pagi ke kantor, untuk menghilangkan perasaan kacaunya dengan menyibukkan diri di ruang kerjanya. Kenan merasa terpukul mendengar pernyataan mamanya yang ingin bercerai dengan sang papa.
Kenan tidak menghalangi niat mamanya itu. Hanya saja ia merasa gagal membantu mempertahankan rumah tangga orang tuanya. Semuanya gara-gara Liora, yang sudah berani menggoda papanya.
"Aaaaargh ...! Liora! Lihatlah apa yang akan aku lakukan terhadap mu, akan ku buat hidupmu menderita. Kau harus membayar mahal atas perbuatan busukmu!" ucap Kenan menggebu.
Liora telah sampai di gedung pencakar langit milik keluarga Khendrik. Keadaan disana masih tampak sepi, mungkin karena ia berangkat terlalu pagi. Liora hanya ingin menemui Kenan dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Liora mengetuk pintu ruangan milik Kenan, hingga beberapa saat kemudian pintu itu terbuka otomatis dari dalam. Liora langsung masuk, meskipun jantungnya terasa ingin melompat dari tempatnya. Karena masih takut bertatap muka dengan Kenan. Namun ia harus berusah tegar di depan Kenan.
Kenan menatap Liora dengan tajam, tangannya terkepal, saat mengingat kejadian kemarin di rumah Liora. Bayangan mamanya yang menangis terus, membuat darah Kenan kembali mendidih.
"Permisi Pak," ucap Liora dengan sopan.
__ADS_1
"Tidak usah basa-basi, cepat katakan, mau apa kau menemuiku!"
"Saya ingin mengantarkan ini Pak."
Kenan melihat sebuah amplop yang disodorkan oleh Liora ke atas mejanya. Kenan mengambil amplop itu, lalu membukanya. Bibirnya tersenyum sinis, saat membaca isi surat di dalam amplop itu.
Kenan melemparkan surat itu tepat ke wajah Liora. Ia berdiri dari duduknya, dan mendekati Liora. "Jangan harap kau akan keluar dari perusahaan ini, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi," desis Kenan tepat di telinga Liora.
Liora mengepalkan tangan, mendengar ucapan Kenan. Ia menatap Kenan dengan sorot mata yang menyala.
"Terserah anda mau menyetujui atau tidak keputusan saya Pak Kenan yang terhormat! Saya akan tetap berhenti bekerja dari perusahaan ini!"
"Jangan berani menetangku j*lang! Wanita murahan seperti mu tak pantas memelototiku."
Sakit! Hati Liora sangat sakit mendengar hinaan dari Kenan. Sebisa mungkin ia tidak meneteskan air mata yang sudah menggenang di peluk matanya. Liora memalingkan wajah dari tatapan Kenan. Liora menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Tapi papamu sangat menyukai wanita j*lang ini." Liora dengan sombongnya mengatakan itu kepada Kenan. Ia sengaja menguji kesabaran Kenan dengan tersenyum sinis di hadapannya.Ia sudah tak memikirkan harga dirinya lagi di hadapan Kenan.
Biarlah Kenan terus menganggapnya wanita yang sangat buruk. Agar ia tidak terus menaruh rasa kepada Kenan, cinta pertamanya. Namun cintanya harus musnah demi sebuah misi balas dendam yang harus ia selesaikan.
Kenan mencengkram dagu Liora dengan kuat. Hingga Liora meringis menahan sakit.
"Di bayar berapa kau oleh papaku, hingga berani menjual tubuhmu kepada papa."
"Tentu saja sangat mahal, anda saja tidak akan bisa membayarnya."
Kenan menghempaskan cengkraman tangannya dengan sangat kasar, hingga Liora terjatuh ke atas lantai. Kenan benar-benar marah mendengar penuturan Liora.
"Heh, sombong sekali! Benar-benar tidak tahu malu! Bahkan aku bisa membayarmu lebih mahal dari yang papa berikan!"
"Bukan cuma uang yang saya butuhkan Pak Kenan. Yang paling utama adalah ..., ah, anda pasti mengerti maksud saya. Bahkan papa anda sangat menyukai pelayanan saya daripada pelayanan istrinya. Saya yakin, anda tidak lebih perkasa dari papa anda!"
Kesabaran Kenan telah habis, ia tidak pernah marah seperti sekarang ini. Ia menarik rambut Liora ke belakang, hingga tiba-tiba ...
__ADS_1
Plak ...