
Happy Reading๐ฅฐ
"Kak Jesi, selamat ya. Kakak tega! Ngeduluin aku lahirannya. Seharusnya anak aku yang jadi kakak, nanti," ucap Liora dengan bibir mengerucut.
"Itu tandanya dia mau ngikutin kakak, yang menjadi anak paling tua di keluarga kita." Jesicca berkata dengan suara rendah. Sebab keadaannya masih lemah. Bahkan di tangannya terdapat selang infus.
"Ah, gak asik! Tapi ya udah lah, yang penting Kak Jesi sama keponakan aku sama-sama selamat dan sehat. Semoga persalinan ku juga lancar seperti Kak Jesi."
"Iya, Li. Kakak selalu mendoakan keselamatan kamu dan juga bayi kamu."
Kenan yang akan memberikan ucapan selamat kepada kakak iparnya, terpaksa harus tertunda gara-gara tidak di berikan kesempatan untuk berbicara oleh Liora. Kenan mendengarkan percakapan antara dua bersaudara itu. Kenan menggelengkan kepala mendengar ocehan sang istri yang begitu menggelikan.
"Khem!" Kenan berdehem agar kehadirannya tidak terabaikan. Seketika itu juga Jesicca dan Liora terdiam. "Selamat, Kakak ipar," hanya kata itu yang Kenan ucapkan. Ia bingung mau berkata apa lagi.
"Terimakasih, Kenan." Jesicca tersenyum lembut kearah adik iparnya itu.
Jesicca sangat bersyukur mempunyai keluarga yang baik dan selalu hangat terhadap dirinya. Sungguh Jesicca jadi merindukan kedua orang tuanya. Sekuat tenaga Jesicca menahan diri agar tidak menangis di hari bahagianya.
Seorang perawat memasuki kamar Jesicca, dengan membawa serta anak Jesicca yang terlihat imut. Meskipun Jesicca melahirkan di usia kehamilan delapan bulan, tapi bayinya lahir dengan berat 3 kilo. Jadi, dia tidak terlihat seperti bayi yang lahir prematur.
Entah apa yang menyebabkan Jesicca melahirkan prematur, Liora masih tidak tahu jawabannya. Sebab Edo yang berjanji akan memberitahukannya terlihat sibuk mengurus ini dan itu. Lebih baik Liora memilih diam, nanti kakaknya pasti akan bercerita ketika kedaannya sudah stabil.
Jesicca di perintahkan untuk mengajari bayinya melakukan inisiasi menyusu dini (IMD). Karena Jesicca melahirkan secara prematur atau usia bayi belum cukup umur, jadi ASI milik Jesicca masih belum keluar. Namun biasanya akan keluar dua sampai tiga hari setelahnya, dengan tetap membantu bayi belajar me-nye-dot pu-ti-ng-nya.
Kenan memilih keluar dari ruangan itu, tidak ingin melihat Kakak iparnya melakukan proses IMD. Pasti Jesicca tidak akan leluasa melakukan proses itu jika ada dirinya di sana.
__ADS_1
Ketika keluar dari ruang VIP, Kenan berpapasan dengan kedua orang tua Edo. "Kenapa kamu diluar, Kenan?" tanya Dewi dengan penasaran.
"Oh, itu, Kakak Jesi sedang melakukan proses IMD, Tante. Mungkin dia butuh ruang yang bebas di dalam. Jadi, saya memilih keluar."
"Ooh, begitu. Lebih baik papa juga di sini sama Kenan. Tidak usah masuk, biar menantu kita bisa leluasa melakukan proses IMD."
"Iya, Ma." Rudy pasrah saja dengan perintah sang istri. Mana mungkin juga dirinya masuk ke dalam sana, dan melihat apa yang dilakukan oleh menantunya. Lebih baik Ia menunggu di luar ruangan sampai proses itu selesai.
Tidak lama setelah itu, Edo datang dengan membawa dua kresek yang berisi nasi kotak untuk ia berikan kepada sang istri. Sejak Jesicca di pindahkan ke ruang VIP, Edo langsung keluar dari area rumah sakit untuk membelikan Jesicca makanan. Sebab Edo tahu bahwa Jesicca butuh asupan.
"Sayang, makan dulu ya, aku suapi." Edo membuka nasi kotak yang dia bawa, lalu menyendokkan nya untuk Jesicca.
Jesicca langsung melahap makanan yang di sodorkan oleh Edo. Bayi mereka sudah ada di dalam gendong Liora, setelah melakukan IMD. Tidak butuh waktu lama, makan itu sudah tandas. Sebab Jesicca benar-benar merasa lapar.
"Kak Jesi, udah ada nama buat baby?" Liora bertanya namun tatapannya tetap tertuju ke wajah sang baby.
"Siapa namanya, Kak?" tanya Kenan sambil mencolek pipi bayi mungil itu.
"Damien Adelio Praditya," jawab Edo dan Jesicca berbarengan. Edo menyematkan nama keluarganya di belakang nama sang putra, seperti dirinya yang menyandang marga Praditya, yaitu Ferdhian Edo Praditya.
Sebenarnya nama Praditya cukup terkenal di kota J. Meskipun masih kalah terkenal dengan nama Khendrik. Tidak banyak yang tahu bahwa Edo adalah keturunan Praditya. Sebab Edo memilih bekerja di perusahaan Khendrik daripada di perusahaannya sendiri. Sekarang pun, Edo lebih fokus ke bisnis di cafe nya bersama dengan Jesicca. Karena Edo ingin hidup mandiri tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya.
Rudy mencoba mengerti dengan keinginan sang putra. Berhubung Rudy masih sehat, ia menjalankan sendiri perusahaannya tanpa bantuan Edo. Namun suatu saat Edo harus menggantikannya di perusahaan itu. Karena sudah ada sang buah hati di tengah-tengah keluarga mereka, yang kelak juga akan menjadi penerus Praditya.
"Wah, nama yang bagus. Aku harus menyiapkan nama yang lebih keren daripada nama anak kakak." Liora berkata sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kita panggil dia, siapa?" lagi-lagi kenan bertanya dengan tangan yang terus mencolek pipi bayi mungil itu.
"Panggil saja, Lio," ujar Jesicca sambil menatap wajah sang putra yang terlihat anteng di dalam gendongan Liora.
Kehadiran Lio di tengah-tengah keluarga kecilnya, membuat Jesicca dan Edo semakin bahagia. Apalagi Mertuanya semakin perhatian dan menyayanginya. Jesicca merasa sangat beruntung memiliki mereka semua.
Saat asik mengobrol, tiba-tiba pintu kamar di ruangan itu terbuka dari luar. Menampilkan sosok wanita cantik dengan perut yang membuncit, dan dibelakangnya berdiri sosok pria dengan wajah datarnya.
Ceklek!
"Mama!" Kenan menghampiri mamanya yang terlihat kesulitan berjalan dengan perut besarnya.
Ya, yang datang adalah Maura dan Niko. Akhirnya bibit terong milik Niko benar-benar unggul, dan berkembang pesat di dalam rahim Maura. Buktinya sekarang Maura tengah hamil tujuh bulan. Itu artinya bibit Niko berkembang saat kejadian di hotel. Niko sangat senang, akhirnya keinginannya terkabulkan. Sebentar lagi dia akan memiliki anak.
"Sayang, selamat ya." Maura memeluk tubuh Jesicca dengan susah payah. Sebab terhalang oleh perut buncitnya.
"Makasih, Ma." Jesicca membalas pelukan Maura dengan hangat.
Akhirnya di ruangan itu, penuh dengan keharuan dan kebahagiaan. Mereka seperti keluarga besar yang tengah berkumpul. Sayang sekali, tidak ada Dewi dan Rudy di sana. Sebab mereka tiba-tiba ada kepentingan mendadak diluar. Jadi, setelah mengucapkan selamat kepada Jesicca, dan menggendong cucu mereka walaupun sebentar, mereka langsung pergi dari rumah sakit itu.
Dewi meminta maaf kepada Jesicca karena tidak bisa menemaninya. Urusannya kali ini benar-benar urgent. Hal itu menyangkut masa depan perusahaan Praditya. Jadi, mereka terpaksa harus pergi. Tapi, setelah itu mereka akan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui Jesicca dan cucu mereka yang baru dilihat sebentar.
...----------------...
Terimakasih yang masih setia membaca novel ku๐๐ Semoga kalian sehat selalu ๐ฅฐ.
__ADS_1
Cerita ini udah hampir End. Nanti akan ada kelanjutannya yang akan menceritakan kisah anak-anak mereka yang sudah dewasa. Tetap pantengin karyaku ya man-teman๐๐๐
Lophe-lophe se kebon cabe๐๐๐๐