
Happy Reading🥰
Di Ruang Makan.
Liora, Jesicca, Kenan, dan Maura sedang makan siang bersama. Seperti apa yang Maura katakan, kalau dia yang memesan makanan untuk mereka semua. Makanan yang sangat mewah yang dipesan khusus dari restoran ternama di kota itu. Maura menginginkan acara makan siang mereka berkesan indah, jadi ia tidak tanggung-tanggung dalam memesan makanan itu.
Maura sangat menyayangkan ketidak hadiran Edo di sana. Tadi Jesicca sempat menghubungi Edo dan mengajak makan bersama di rumah kedua, namun Edo menolak halus ajakan itu karena cafe sedang ramai. Edo tidak bisa meninggalkan cafe begitu saja. Maura juga tidak keberatan dengan itu, ia tidak mungkin memaksa Edo agar pulang hanya untuk makan siang bersama dan mengorbankan para pelanggan di cafe.
Maura tersenyum melihat Liora sangat lahap menyantap makanannya. "Makan yang banyak, Sayang. Biar bayi kamu sehat di dalam sana." Maura menyodorkan ayam panggang kehadapan Liora, berharap calon menantunya menyukai itu.
"Makasih, Ma. Aku suka semua makanan ini." Liora mengambil ayam panggang yang diberikan oleh Maura. Ia memotongnya menjadi empat bagian. Liora memberikannya kepada Kenan, Jesicca, dan juga Maura. Suasana di meja makan semakin menghangat dengan perlakuan manis yang Liora lakukan.
Setelah selesai sarapan, mereka semua duduk di ruang tengah. Mengobrol ringan bersama keluarga baru mereka yang membuat ruang tengah ramai dengan canda dan tawa.
Tidak ada kebahagiaan yang melebihi bahagianya berkumpul dengan keluarga. Itulah yang Liora rasakan. Sudah lama ia merindukan kehangatan dalam rumah tangga yang tak dapat diwujudkannya bersama dengan kedua orang tuanya. Tak terasa satu tetes air mata lolos membasahi pipi Liora, buru-buru dia menyeka nya.
"Sayang, kenapa menangis?" Kenan begitu khawatir melihat sang pujaan hati meneteskan air mata.
"Gak apa-apa kok. Aku sangat bahagia karena memiliki kalian yang menyayangi aku sama Kak Jesi. Aku sejak lama mengharapkan moment seperti ini. Berkumpul dengan keluarga, makan bareng, melepas rindu dengan mereka. Aku sangat merindukan Mama dan Papa." ucap Liora dengan suara bergetar.
"Li!" Jesicca menggenggam erat tangan sang adik. Ia tahu betul seperti apa perasaan Liora setelah orang tua mereka pergi meninggalkannya. Karena Jesicca juga merasakan itu, dia juga meneteskan air mata merasa sedih ketika mengingat kedua orang tuanya."
"Kak Jesi jangan menangis. Aku bersyukur mempunyai Kakak super baik dan pengertian. Menjadi tulang punggung keluarga yang rela banting-tulang demi menyekolahkan aku. Aku gak tau ingin membalasnya dengan apa. Pokoknya Kak Jesi paling the best. Makasih buat segalanya, Kak." Liora memeluk erat sang kakak.
__ADS_1
"Shuut! Gak ada kayak gitu. Memang sudah tugas kakak menjaga kamu, dan menyekolahkan kamu adalah tanggung jawab kakak."
Suasana di ruang tengah kembali haru, Maura dan Kenan menyaksikan interaksi antara kakak beradik itu dengan hati yang bergetar. Kenan sangat berdosa pernah menyakiti Liora, wanita yang tangguh luarnya, namun sangat rapuh hatinya.
Maura meneteskan air mata mendengar penuturan Liora yang begitu menyayat hati. Betapa menderitanya mereka hidup tanpa adanya orang tua. Pasti sangat berat perjuangan mereka untuk bertahan hidup di era gempuran kerasnya dunia sekarang ini.
Hari sudah berganti sore, Maura pamit pulang ke rumah. Setelah menentukan hari pernikahan Kenan dan Liora yang akan dilaksanakan minggu depan. Maura harus menyiapkan segala persiapan itu dengan waktu yang cepat. Ia ingin pernikahan anaknya di gelar sangat mewah.
Meskipun tanpa kehadiran Khendrik, Maura harus bisa membuat acara pernikahan Kenan sempurna. Maura sudah menyiapkan tempat akad dan resepsi dari jauh-jauh hari.
Maura pulang menggunakan taksi, ia menolak saat Liora menyuruh Kenan mengantarnya menggunakan mobil Liora. Biarlah Kenan tetap di sana menjaga Liora setelah Jesicca pulang. Maura sudah berbicara kepada Jesicca agar mengizinkan Kenan menginap di sana.
Biarlah apa kata orang yang menilai hubungan Liora dan Kenan tinggal satu rumah sebelum menikah. Yang penting Liora dan calon cucunya aman dari mara bahaya. Awalnya Jesicca menolak permintaannya, namun karena Maura memaksa akhirnya Jesicca mengalah.
Setelah kepulangan Maura, Jesicca memperingati Kenan agar tidak berbuat aneh-aneh seperti tadi pagi. "Ingat! Jaga sikap di rumah ini. Jangan seenaknya, apalagi bertingkah ceroboh seperti tadi pagi. Apa kalian tidak malu jika ada orang lain yang melihat dan mendengarnya!" Jesicca meluapkan unek-unek yang bergejolak sejak tadi di dalam hatinya.
Jesicca meninggalkan Kenan seorang diri di depan rumah. Ia menyusul Liora yang masuk lebih dulu ke dalam rumah.
Jesicca juga memperingati Liora mengenai hal tadi. Ia tidak ingin sang adik di perlakukan semena-mena oleh Kenan, apalagi mereka belum menikah. Memang tidak bisa apa menahannya sampai resmi menikah? Laki-laki sama saja soal begituan paling gak tahan.
...----------------...
Sepulang dari cafe, Edo menjemput Jesicca di rumah kedua. Ia gak sabar ingin bertemu dengan istri tercintanya. Setibanya di sana Edo disambut hangat oleh sang istri. "Mas! Kamu udah makan?" Liora bertanya penuh perhatian kepada Edo.
__ADS_1
"Sudah, Sayang. Kita langsung pulang ya. Aku gak sabar ingin bertemu dengan Dipsi." ucap Edo berbisik di telinga Jesicca agar tidak ada yang mendengarnya.
Wajah Jesicca merona saat Edo mengucapkan kata Dipsi. Panggilan kesayangan untuk miliknya yang paling berharga. "Mas! Kamu mesum sekali!"
"Mesum sama istri sendiri gak apa-apa."
"Tapi aku malu."
"Ngapain malu, nanti kamu juga yang paling mendominasi."
Jesicca mencubit pinggang Edo, dia sangat kesal dengan ucapan Edo yang sangat absurd. Akhirnya mereka pulang setelah berpamitan kepada Liora dan Kenan. Edo tiada hentinya mengecup tangan Jesicca saat berada di dalam mobil.
Edo menggendong tubuh Jesicca untuk memasuki rumah. Membawanya ke dalam kamar yang menjadi saksi percintaan mereka. Edo mendudukkan Jesicca di atas meja rias yang terdapat di dalam kamar. Tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu.
"Mas, pintunya kok di kunci?" Jesicca masih saja bertanya, sungguh dirinya tidak peka dengan maksud Edo.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Jesicca, Edo langsung me-lu-mat bibir sang istri. Jesicca yang tidak siap kesulitan mengimbangi permainan l**ah sang suami. "Eungh ... Edo ... Ahh!" Jesicca melenguh saat tangan Edo bermain nakal di buah kenyal yang menjadi benda favorit sang suami.
Edo memasukkan tangannya ke dalam rok yang Jesicca kenakan. Ia menggesekkan tangannya di luar benda penghalang itu. Tangan itu semakin Liar memasuki area Dipsi. Jesicca dibuat tak karuan saat jari Edo bermain dengan Dipsi.
Jesicca mencengkram kuat rambut Edo, yang mulutnya bermain di d*d*nya. Jesicca menekan kepala Edo agar memperdalam h***pannya.
Aah ... Edo ... Ough!
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar 🥰🥰🥰