Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 81. Mahakarya Kenan.


__ADS_3

Happy Reading🄰


Satu jam berlalu ...


Kenan dan Liora akhirnya menyelesaikan ritual mandinya. Badan Liora terasa lemah, Kenan terus menggempurnya tiada henti. Ingin marah, namun semua itu karena ulahnya sendiri. Lagi pula Liora juga menikmati permainan tanam-tanaman itu.


"Ken, pintu kamar siapa yang buka? Perasaan tadi masih tertutup rapat." Liora menatap pintu kamar yang terbuka lebar. Bantal juga berceceran di atas lantai. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Palingan angin, Sayang."


"Gak mungkin angin sekencang itu sampek bisa membuka pintu kamar, dan juga membuat bantal berserakan."


"Benar juga ya."


"Jangan-jangan ada yang masuk ke kamar ini."


Liora seketika panik, ia jadi teringat dengan kakaknya yang akan datang ke rumah. Bagaimana kalau Jesicca mendengar suara pergulatan panas di dalam kamar mandi? Apalagi Liora mend**ah dan menj**it nikmat dengan suara yang sangat keras. Pasti suaranya terdengar sampai ke dalam kamar. Liora sangat malu jika itu benar-benar terjadi.


Dengan cepat Liora memakai baju. Rambutnya tetap basah tak sempat dikeringkan. Bahkan bekas ****** di lehernya hasil mahakarya dari Kenan tak sempat ia tutupi. Tanpa menggunakan make up, Liora buru-buru keluar kamar. Meninggalkan Kenan yang masih memakai bajunya. Untung Kenan sudah menyiapkan rencananya dengan membawa baju ganti. Mobilnya sudah di jemput oleh orang suruhannya yang akan mengantarkan mobil itu ke apartemen.


Liora tercengang melihat sang kakak dan calon mertuanya duduk di ruang tamu. Ia tampak kikuk menghampiri mereka. "Kakak dan Tante kapan sampai?" tanya Liora dengan gugup. Ia mendapatkan tatapan dingin dari sang kakak.


"Kita barengan tadi, kebetulan bertemu di depan rumah. Jangan panggil Tante, Sayang, panggil Mama dong." Maura tersenyum menatap calon menantunya.


"I-iya Ma." Liora duduk di sebelah Jesicca. Perasaannya menjadi tak enak melihat tatapan Jesicca yang seolah mengintimidasi.


"Kak Jesi, Kenapa?" Liora memberanikan diri untuk bertanya.


Jesicca hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan sang adik yang kembali membuatnya kesal, apalagi melihat tanda ****** di leher Liora yang begitu banyak. Pasti itu hasil mahakarya dari Adik ipar luckn*tnya. Pandangan Jesicca teralihkan saat Kenan memasuki ruang tamu.

__ADS_1


"Bilangnya gak bakalan nginap, gak taunya malah satu kamar." sindir Jesicca melirik Kenan dengan sinis. Ia masih kesal dengan tindakan Kenan.


"Hehe ... Maaf Kakak ipar, aku gak tega ninggalin calon istri yang sedang mengandung anak aku tidur sendirian di rumah."


"Modus!"


"Modus sama calon istri sendiri 'kan gak apa-apa, Kak."


Jesicca semakin menatap sinis, ia tak ingin terus berdebat dengan Kenan. Calon Adik iparnya memang sedikit bar-bar dan juga absurd.


"Maafkan anak Tante ya Jes." Maura tulus meminta maaf atas perilaku Kenan yang tidak senonoh di rumah itu.


"Huf! Ia saya maafkan, Tante. Maaf juga, gara-gara mereka Tante jadi lama nunggunya."


"Tidak apa-apa Jes. Mereka lagi melepas rindu." Maura terkekeh kecil saat mengingat suara aneh di kamar Liora.


Kenan nyengir kuda saat di ledek oleh mamanya, berbeda dengan Liora yang menunduk malu. Dia seperti maling yang ketahuan nyolong.


Liora menggeser posisi duduknya, ia memeluk calon mertuanya dengan kasih sayang. "Aku sudah memaafkannya, Ma. Mama gak usah sedih, itu semua sudah takdir."


"Tapi Mama sangat malu sama kalian, Nak."


"Tante, saya juga sudah memaafkan suami Tante. Jadi, Tante jangan sedih lagi, kita akan menjadi satu keluarga. Yang lalu biarlah berlalu, saya sudah mengikhlaskan apa yang terjadi terhadapku. Saya telah bahagia dengan suami saya, Tante. Mari kita membuka lembaran baru." Jessica berkata tulus, ia ingin melupakan masa lalu kelamnya, mengganti dengan masa depan yang cerah bersama orang-orang yang dia sayangi.


Semua orang di sana menangis haru. Hanya Kenan yang tidak berpelukan. Dia menjadi penonton setia, melihat tiga wanita cantik yang tengah menangis di hadapannya. Kenan merasa bahagia karena masalah yang diciptakan oleh papanya telah berakhir dengan baik.


"Terimakasih, Sayang. Kalian memang wanita yang sangat baik." Maura menatap Liora dan Jesicca.


"Sama-sama, Tante. Oiya Tante mau makan apa? Biar saya buatkan." Jesicca beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Sudah duduk saja, saya sudah memesan makanan untuk kita semua. Jes, jangan panggil Tante deh, panggil Mama saja biar sama kayak Liora. Bicaranya juga diganti jangan terlalu formal. udah dibilangin tadi."


"Iya Tan ... Maksudnya Mama." jawab Jesicca malu-malu.


"Ken, bagaimana rencana pernikahan kamu dan Liora? Mama ingin pernikahan kalian laksanakan secepatnya. Sebelum kandung Liora membesar, Mama gak mau cucu Mama dibilang anak haram sama orang-orang." Maura berkata dengan serius.


Tanpa Maura sadari ucapannya melukai perasaan Liora. Bukan kehendaknya yang ingin hamil di luar nikah. Liora merasa gagal menjadi seorang wanita baik yang akan menjaga Kehormatannya. Raut wajah Liora berubah sendu tak seceria tadi.


Kenan melihat perubahan di wajah Liora yang membuat dirinya kembali merasa bersalah. Kenan menyayangkan ucapan mamanya yang tiba-tiba berbicara soal anak haram. Ia tahu kalau Maura tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Liora, pasti Maura mempunyai pemikiran sendiri soal itu.


"Semuanya, aku ke kamar mandi sebentar." Liora pamit untuk kebelakang hanya sebuah alasan agar bisa menumpahkan rasa sesaat di dadanya.


Liora masuk ke dalam kamar dan memasuki kamar mandi. Liora menangis seorang diri meratapi nasib anaknya yang kemungkinan akan mendapatkan julukan anak haram jika tidak segera menikah.


"Maafin Mama, Sayang. Mama gak bisa jaga diri hingga menghadirkan kamu dengan cara yang salah. Meskipun begitu mama tetap menyayangi kamu." Liora mengusap air yang membasahi kedua pipinya.


Kenan yang sedari tadi mengikuti Liora, tercengang di depan pintu kamar mandi. Jika bukan karena Kenan pasti Liora tidak akan hamil di luar nikah. Tapi Kenan tidak menyesali perbuatannya karena dengan begitu ia bisa bersatu dengan Liora. Takdir menyatukan mereka dengan cara yang salah.


Liora terkejut mendapati Kenan yang tengah berdiri di hadapannya. "Kenan! Kamu ngapain di sini?"


Kenan membawa Liora masuk ke dalam pelukannya. "Jangan bersedih, Sayang. Maafkan kesalahan aku, kita mulai dari nol ya! Aku janji tidak akan membuatmu bersedih lagi dan akan menggantinya dengan sebuah kebahagiaan."


"Aku tidak butuh janji, Kenan! Tapi aku butuh bukti! Banyak orang mengingkari janjinya di kemudian hari, namun tidak dengan sebuah bukti."


"Tentu! Aku akan membuktikannya! Maafkan kata-kata mama yang secara tidak sengaja menyinggung perasaanmu. Mama tidak bermaksud begitu, Sayang."


"Tidak apa-apa Kenan. Aku tidak menyalahkan mama, lagipula mama tidak salah. Aku terlalu baper dengan ucapan mama ya mungkin karena hormon ibu hamil. Hehee." Liora terkekeh kecil.


Kenan mengacak puncak rambut, Liora. Ia sangat mencintai calon istrinya itu dan tak ingin kehilangannya."Aku akan membahagiakanmu dan juga anak kita kelak, Sayang." batin Kenan.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2