Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 57. Menangis Dalam Diam


__ADS_3

Happy Reading🥰


Setelah meminta izin kepada Dokter, Liora di perbolehkan masuk ke ruang IGD untuk menemui sang kakak. Hanya satu orang saja yang boleh menemui Jesicca, Edo dan kedua orang tuanya menunggu di luar. Mereka akan bergantian masuk ke dalam.


Liora duduk di samping brankar tempat kakaknya berbaring. Air matanya kembali luruh, ia tidak akan sanggup jika kehilangan Jesicca. "Kakak harus kuat, jangan tinggalin aku." ucap Liora sedih.


Di rasa cukup memandang sang kakak, Liora keluar dari ruangan itu, agar Edo juga bisa menemui Jesicca di dalam.


Edo menggenggam tangan Jesicca dengan lembut. Bibirnya tak berhenti mencium tangan sang pujaan hati, yang terbaring lemah di atas brankar. Edo sangat sedih, padahal hari pernikahannya dengan Jesicca tinggal menghitung hari. Namun, kejadian naas malah menimpa sang mempelai wanita.


"Aku akan menyelidiki kasus ini sayang. Hanya orang tak berperasaan yang tega melakukan tabrak lari." ucap Edo berapi-api.


Saat ingin meletakkan kembali tangan Liora ke atas brankar, tiba-tiba jemari Jesicca bergerak. Edo langsung memanggil Dokter, agar memeriksakan keadaan Jesicca.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Edo saat Dokter selesai memeriksa Jesicca.


"Syukurlah, pasien telah melewati masa kritisnya. Hanya menunggu pasien sadar saja, Kami akan memindahkannya ke ruang inap," ujar sang Dokter.


"Baik Dok, terimakasih."


Edo sedikit lega karena Jesicca telah melewati masa kritisnya. Ia hanya berharap, semoga Jesicca tidak shock saat mendengar berita kegugurannya.


Jesicca telah di pindahkan ke ruang VIP. Kedua orang tua Edo masih setia menunggu kesadaran calon menantu mereka. "Liora, lebih baik kamu istirahat dulu nak. Biar kami yang jaga Jesicca, kamu pasti lelah," perintah Dewi dengan halus. Ia tidak tega melihat wajah lelah adik dari Jesicca.


"Tidak usah Tante, aku mau nungguin kak Jesi sampai siuman. Aku pamit ke kamar mandi sebentar ya Tante, mau ganti baju dulu," pamit Liora dengan sopan. Beruntung Liora selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya, jadi ia bisa mengganti pakaiannya yang sudah kotor, apalagi ada bekas darah dari Jesicca yang menempel di sana.

__ADS_1


Setelah kepergian Liora, kedua orang tua Edo mendekati sang anak yang tengah setia menunggu Jesicca di samping ranjang rumah sakit.


Rudy menepuk pelan bahu sang anak. "Yang sabar ya Do, papa yakin kalau Jesicca pasti baik-baik saja. Ikhlaskan anak kalian yang telah tiada, mungkin ini adalah takdir yang terbaik untuk kalian. Tuhan pasti telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih indah untuk kalian di masa yang akan datang," ucap Rudy bijak dan menenangkan.


Edo hanya diam tidak menanggapi ucapan sang papa. Ia terus memandangi wajah cantik Jesicca yang terlihat pucat. "Sayang, cepatlah sadar. Aku gak bisa hidup tanpamu." batin Edo sedih.


"Do, makan dulu ya, tadi mama udah pesan makanan, kamu belum makan loh," ucap Dewi penuh perhatian.


"Aku gak lapar Ma." Edo menolak dengan nada lesuh.


"Kamu harus makan, biar gak sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan merawat Jesicca? Yang ada Jesicca gak mau punya suami yang penyakitan," ledek Dewi untuk menghibur sang anak.


Setelah mendengar ucapan sang mama, Edo langsung beranjak dari tempat duduk. Ia pergi ke sofa untuk mengambil makanan yang telah mamanya persiapkan. Edo makan dengan lahap, di dalam pikirannya hanya tertuju kepada Jesicca.


Liora keluar dari dalam kamar mandi, penampilannya jauh terlihat lebih bersih, wajahnya juga terlihat segar. Ia juga di suruh makan oleh Dewi dan Rudy. Awalnya Liora menolak, namun dengan bujukan dari Dewi akhirnya Liora makan juga, dan duduk di samping Edo.


"Liora ...," seru Jesicca. Orang pertama yang ia cari adalah sang adik. Dewi terkejut mendengar suara Jesicca, ia tidak menyadari kalau Jesicca telah sadar. Karena Dewi terlalu fokus dengan pikirannya.


"Sayang, kamu sudah sadar." ucap Dewi sangat senang.


Edo dan Liora yang sudah selesai makan, mereka dengan cepat menghampiri Jesicca. "Kak Jesi, aku disini," ucap Liora dengan air mata menetes di kedua pipinya.


"Kakak ada dimana?" tanya Jesicca kebingungan.


"Kak Jesi ada di rumah sakit, kakak jangan banyak bicara dulu karena kondisi kakak masih belum stabil."

__ADS_1


Jesicca terdiam, ia mengingat kejadian dimana dirinya yang akan pergi ke apotik, namun ada sebuah mobil yang menabraknya dengan sangat kencang. Jesicca meraba perutnya berharap kandungannya baik-baik saja. Karena terakhir kali dia ingat, Jesicca merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


"Bayi dalam kandungan kakak gimana, dia baik-baik saja 'kan?" tanya Jesicca dengan nada cemas.


Liora mendadak bungkam, ia bingung harus menjawab apa. Semua orang di sana tidak ada yang berani memberitahukan kebenarannya kepada Jesicca.


"Sayang lebih baik kamu istirahat dulu, nanti kalau keadaan kamu sudah membaik, baru deh tanya apa pun yang ingin kamu ketahui, ya." Edo mengalihkan pembicaraan, agar Jesicca tidak menanyakan keadaan kandungannya.


Jesicca menurut dengan perkataan Edo, namun sebelum ia istirahat, Edo memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Jesicca. Setelah kepergian Dokter, Edo mengambilkan air untuk diminum oleh Jesicca. Jesicca meminum air itu dengan sekali tenggak, kebetulan tenggorokannya memang terasa kering.


Melihat Jesicca yang kembali tertidur, semua orang di sana bernafas lega. Karena terbebas dari pertanyaan Jesicca.


Liora, Edo, dan juga kedua orang tua Edo duduk di sofa. "Untuk sekarang kita bisa tenang, karena bebas dari pertanyaan Kak Jesi mengenai kandungannya. Tapi, bagaimana nanti kalau kak Jesi sudah bangun, dan menanyakan hal itu lagi? Aku harus jawab apa?" tanya Liora dengan bingung.


"Kita pikirkan itu nanti. Cepat atau lambat Jesicca memang harus tahu kalau bayi di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan," Edo menimpali.


"Tapi aku takut kak Jesi shock, dan terpuruk. Aku gak mau itu terjadi kak Edo."


"Gak apa-apa, nanti biar Tante yang bicara sama Jesicca. Tante akan bicara pelan-pelan, agar Jesicca tidak sedih," ucap Dewi menengahi.


Jesicca meneteskan air mata saat mendengar percakapan Liora, Edo, dan juga mama mertuanya. Sebenarnya Jesicca tidak tidur, ia hanya pura-pura tidur, karena masih penasaran dengan keadaan bayinya. Dokter juga tidak memberitahukan keadaan janinnya saat memeriksa dirinya tadi.


"Meskipun kehadiranmu datang dengan cara yang salah, tapi mama sangat menyayangi kamu Nak. Mama bahkan menantikan kehadiran kamu, namun takdir berkata lain. Kenapa kamu harus pergi dengan cara seperti ini?" batin Jesicca.


Tak ada yang menyadari kalau Jesicca masih terjaga. Padahal Jesicca tengah menangis dalam diam.

__ADS_1


...----------------...


Lophe-lophe se kebon cabe untuk kalian para readers yang masih setia membaca novel ku😘😘


__ADS_2