Dendam Berujung Petaka

Dendam Berujung Petaka
Bab 71. Kegilaan Khendrik.


__ADS_3

Happy Reading🄰


Perasaan Kenan jadi tidak Enak karena Liora tak kunjung menjawab sapaannya. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara dari seberang sana.


"Om, lepas! Jangan lakukan itu, aku mohon!"


Aaaargh!


Ckiiiit!


Kenan menghentikan mobilnya secara mendadak. Jantungnya berdegup sangat kencang. "Liora! Kamu kenapa?" Kenan terus bertanya meskipun Liora tidak menjawabnya.


Panggilan itu tetap berlangsung, Kenan merekam panggilan itu, ia tidak mematikan panggilannya. Dia men-loudspeaker panggilan yang masih terhubung. Kembali terdengar suara Liora yang terus memohon kepada seseorang di seberang sana.


Kenan dengan cepat memutar arah mobil untuk kembali ke rumah Liora. Ia yakin kalah Liora dalam bahaya. Kenan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Plak!


Argh!


"J-jangan Om. A-aku lagi hamil, dan dia adalah cucumu sendiri."


"Aku tidak perduli dengan cucu sialan itu. Ah, nanti aku lenyapkan saja dia, agar tidak menjadi penghalang buat hubungan kita."


"Tidak! Hubungan apa yang Om maksud! Kita tidak mempunyai hubungan apa-apa!"


"Apa kau sudah lupa kalau kita pernah berhubungan, huh? Bahkan aku tidak pernah mengucapkan kata perpisahan! Jadi jangan pernah menganggap hubungan kita sudah berakhir."


Hiks ... Hiks ...


"Papa!" Kenan sangat mengenali suara laki-laki yang ada di seberang sana, yang ternyata adalah papanya sendiri.

__ADS_1


"Kurang ajar! Kenapa aku kecolongan! Liora dalam bahaya. Jika sampai terjadi sesuatu terhadap Liora dan calon anakku, aku tidak akan memaafkan mu, Pa!." Kenan mencengkram setir dengan sangat kuat. Urat-urat di lengannya sampai ingin keluar dari tempatnya.


Liora tiada hentinya memberontak di bawah kungkungan Khendrik. Air mata terus mengalir di dari kedua sudut matanya.


Srek!


Khendrik menarik bath robe yang melekat di tubuh Liora dengan sekali tarikan. Khendrik membulatkan mata saat melihat tubuh Liora yang sangat seksi. Sungguh Khendrik ingin segera memasukkan terong-nya ke dalam lembah surgawi milik Liora.


Khendrik meng**ray**gi tubuh Liora dengan tangannya. Liora memejamkan mata, tak sanggup melihat dan merasakan sentuhan dari Khendrik. "Kenan, tolong aku." batin Liora menyebut nama Kenan. Entah mengapa di situasi saat ini, di pikiran Liora yang ada nama Kenan.


Khendrik mengikat tangan Liora menggunakan sabuk yang dia gunakan. Lalu membuka pakaiannya sendiri. Khendrik tersenyum menyeringai di hadapan Liora, seolah ia siap memangsanya.


Khendrik menggesek-gesekkan terong-nya ke lembah surgawi yang masih mengering. Ia menatap wajah Liora yang tengah memejamkan mata, dan terus menangis. Berteriak pun tak bisa, karena Khendrik telah menyumpal mulut Liora menggunakan dasi yang dia pakai tadi.


Liora menangis dalam diam, ia benar-benar berharap akan ada orang yang menolongnya. "Kenan, tolong aku. Aku mohon! Datanglah! Selamatkan aku dan anak kita." Liora terus berdoa agar Kenan datang menolongnya.


"Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku seutuhnya, Liora. Disini ada anak Kenan 'kan? Kamu tenang saja, setelah kita melakukan penyatuan, aku akan membawamu ke suatu tempat, agar anak sialan ini pergi untuk selamanya." Khendrik mengelus perut Liora yang masih rata.


"Emph ... Emph ... Emph" Liora memberontak saat Khendrik akan memasukkan terongnya ke dalam miliknya. Hancur! Hidup Liora akan semakin hancur jika Khendrik bisa menerobos ke dalam sana. Liora tidak akan bisa hidup di dunia jika sampai itu terjadi.


Khendrik memejamkan mata, merasakan sengatan saat ujung terongnya mengenai lembah surgawi milik Liora. Hanya dengan gesekan, Khendrik meng***ng merasakan kenikmatan.


Khendrik membuka lebar-lebar kaki Liora, agar ia bisa dengan leluasa memasukinya. "Rileks sayang. Jangan tegang, agar kamu tidak merasakan sakit. Aku akan memasuki mu dengan pelan-pelan. Asalkan kamu diam. Kalau kamu masih berontak, maka aku akan membuatmu tidak bisa berjalan." Khendrik selalu mengancam Liora.


Liora sudah kehilangan harapan untuk bebas dari Khendrik. Apalagi dengan posisi terong Khendrik yang telah menempel di area sensitifnya, hanya dengan sebuah dorongan, maka hancur sudah kehidupannya.


Perut Liora semakin sakit, karena terlalu lama menangis, dan juga kram. Ingin bergerak semakin susah. Namun, Liora menahan rasa sakit itu, dan berharap kandungannya baik-baik saja.


Wajah Liora semakin pucat, keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Khendrik seakan tak perduli dengan keadaan Liora. Ia hanya mengira kalau Liora berkeringat karena ketakutan. Padahal Liora sedang menahan sakit di perut bagian bawahnya.


Tubuh Liora menegang di saat ujung terong Khendrik mulai memasuki miliknya. Liora menggerakkan punggungnya, agar terong Khendrik tidak tepat sasaran. Namun cara itu salah, Khendrik semakin menge**ng saat Liora menggoyangkan pinggulnya.

__ADS_1


Liora tidak tahu jika dia bergerak, maka Khendrik akan semakin keen**an. Karena Liora tidak berpengalaman soal itu. Liora menggelengkan kepalanya dan berteriak dalam keadaan mulut tersumpal. Siapa pun yang melihat keadaan Liora, pasti akan merasa prihatin.


Entah mengapa, Khendrik lebih suka berlama-lama dengan gesekan itu. Ia tidak langsung memasukkan terongnya ke lembah surgawi. Khendrik berharap Liora akan tersiksa, dan akan memaksanya untuk segera memasukkan terong jumbonya.


"Ayo sayang. Memohon lah agar terong ku segera memasuki sawahmu. Aku akan membuatmu ketagihan, dan melupakan terong milik Kenan. Aku jauh lebih perkasa dibandingkan dirinya."


Khendrik membuka mulut Liora yang dari tadi ia sumpal menggunakan dasi miliknya. Khendrik ingin mendengar suara de-sa-han dari mulut Liora. Khendrik mengusap bibir Liora yang pernah ia rasakan, dan terasa sangat manis.


Plak!


Khendrik menampar pipi Liora karena sejak tadi terus bergerak. Bibir Liora mengeluarkan darah akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh Khendrik. Sudah dua kali Khendrik menampar Liora. Khendrik seperti kerasukan setan yang terus menunjukkan sisi jahatnya.


Padahal dulu, Khendrik selalu bersikap baik terhadap Liora. Namun, sekarang seolah matanya tertutup oleh rasa benci dan obsesinya terhadap Liora.


khendrik menggigit bibir Liora dengan brutal. Bukan lu-ma-tan yang Khendrik berikan, tapi gigitan yang membuat Liora kesakitan.


Khendrik memasukkan jarinya ke dalam sawah milik Liora yang masih mengering. Khendrik memainkan jarinya di sana, mengobrak-abrik sawah itu dan berharap cepat *****. Agar Khendrik bisa memasuki sawah itu.


Khendrik men***** jarinya yang telah ia masukkan ke dalam sawah. Entah mengapa sawah itu masih mengering. Mungkin karena Liora tidak merasakan sebuah kenikmatan, melainkan kesakitan. Khendrik terus memainkan jarinya dengan kasar, karena sudah tidak sabar ingin membajak sawah itu dan menanaminya dengan bibit terongnya.


Aaargh!


Liora menj**it bukan karena nikmat, tapi karena sakit. Perutnya semakin sakit karena guncangan itu. Liora sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya.


"S-sakit, Khendrik sialan!" Liora meneriaki Khendrik.


Khendrik seakan tuli dengan ucapan Liora. Khendrik mengarahkan terongnya ke lembah surgawi itu, dan mendorongnya.


"Aaaaargh!"


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2